Hukum Khuluk Dengan Syarat Melepaskan Hadanah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Hadanah adalah mendidik anak bagi orang nan mempunyai kewenangan di dalam mengasuh, memelihara, dan merawat anak.[1] Sederhananya, hadanah bisa diartikan sebagai kewenangan asuh. Namun, ada perbedaan pandangan di dalam tinjauan alias pendekatan norma fikih di dalam masalah hadanah. Yaitu, apakah ibu sang anak lebih berkuasa terhadap hadanah alias itu memang tanggungjawab atas sang ibu; alias hadanah adalah kewenangan berbareng antara ibu dan anak; alias hadanah adalah kewenangan unik nan dimiliki sang anak?

Sebagaimana diketahui bahwa asalnya sang ibulah nan bertanggung jawab di dalam hadanah terhadap anaknya baik laki-laki maupun perempuan, lantaran mereka (ibu) lebih penyayang, lemah lembut, dan lebih terbimbing dalam membesarkan dan mendidik anak. Oleh karenanya, pendapat nan lebih kuat dalam masalah ini bahwasanya hadanah adalah kewenangan anak. Sebab, kebutuhan anak bakal pemeliharaan, penjagaan, pendidikan, dan segala nan berangkaian dengan urusannya. Sehingga keabsahan hadanah didasarkan atas tercapainya kepentingan dan maslahat anak, dan ini sesuai dengan prinsip dan makna hadanah, bukan demi kepentingan dan maslahat orang nan berkuasa terhadap hadanah. Sehingga setiap orang nan dia paling bisa dan bisa mewujudkan maslahat, manfaat, dan pemeliharaan terhadap sang anak, maka dia paling berkuasa terhadap hadanah.

Di atas, andaikan hadanah adalah haknya anak, maka sang ibu kudu menjalankan hadanah terhadap anaknya jika sang anak membutuhkannya. Sehingga jangan sampai menyia-nyiakan dan mengabaikan kewenangan anak di dalam pemeliharaan, pengasuhan, pembimbingan, dan penjagaan. Maka, setiap syarat nan berakibat pada hilangnya alias berkurangnya kemaslahatan dan faedah bagi anak kepada orang nan bisa mewujudkannya adalah syarat nan batil dan tidak sah. Apabila ada wanita meminta khuluk kepada suaminya, kemudian suaminya memberikan syarat dengan meninggalkan bayinya alias anaknya nan tetap kecil, maka khuluknya sah tetapi syaratnya fasid (rusak) dan batal, dan tidak wajib memenuhinya. Sebab, jika terbukti dan sah bahwa hadanah merupakan kewenangan anak, maka baik suami maupun istri tidak berkuasa membatalkannya (hak anak) dengan syarat. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

كُلُّ شَرْطٍ لَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ كَانَ مِائَةَ شَرْطٍ

“Setiap syarat nan dibuat nan menyelisihi Kitabullah, maka itu batil, walaupun nan dibuat adalah seratus persyaratan.”[2]

Yaitu, tidak ada di dalam Kitabullah nan membolehkannya alias mewajibkannya. Dan juga hadis,

المُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامً

“Orang Islam terikat dengan persyaratan (yang mereka buat) selagi syarat itu tidak mengharamkan nan legal alias menghalalkan nan haram.”[3]

Namun, berbeda kondisi andaikan ibunya menikah lagi, maka dia tidak berkuasa atas hadanah. Sebab, dia bakal disibukkan dengan mengurus dan melayani suami barunya, sehingga tidak berfaedah dan maslahat keberadaan ibunya di sisi sang anak. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنْتِ أَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِي

“Engkau lebih berkuasa mengasuhnya selama engkau belum menikah.”[4]

Karena adanya mani’ (penghalang), ialah pernikahan, maka hadanah (hak asuh) dipercayakan kepada penerus berikutnya (setelah ibunya) untuk mencapai kepentingan dan maslahat anak. Dan kewenangan asuh bisa kembali kepada ibunya andaikan mani’-nya (penghalangnya) telah hilang. Sebagaimana norma fikihnya,

إِذَا زَالَ المَانِعُ عَادَ المَمْنُوعُ

“Apabila penghalangnya telah hilang, maka kembali sediakala (yang sebelumnya) terlarang.”

Wallahu Ta’ala A’lam.

Baca juga: Jangan Lupakan Doa dan Tawakal Dalam Mendidik Anak

***

Penerjemah: Junaidi, S.H., M.H.

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

https://ferkous.com/home/?q=fatwa-159

Catatan kaki:

[1] Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, (3/555), Al-Mukhtashar Al-Fiqhiy (5/49)

[2] HR. Bukhari no. 2168 dan Muslim no. 1504.

[3] HR. Tirmidzi no.1352.

[4] HR. Abu Dawud no.2276, HR. Ahmad no.6707, dan HR. Hakim no.2830.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah