Hukum Memakai Skincare Saat Ihram

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Ihram adalah salah satu pilar utama dalam ibadah haji. Ketika memasuki ihram, jamaah haji diberi larangan untuk melakukan beberapa perihal nan biasanya diperbolehkan di luar ihram. Hal ini lantaran ihram mengandung makna simbolis nan mendalam, ialah menegaskan pentingnya kesederhanaan dan kesatuan di hadapan Allah swt. Namun kemudian muncul pertanyaan, norma memakai skincare saat ihram?

Untuk mendapatkan jawabannya, terlebih dulu kita telaah mengenai arti dari skincare. Platform edukasi kesehatan alodokter.com menyebutkan bahwa skincare, alias perawatan kulit wajah, merupakan rangkaian aktivitas nan bermaksud untuk menjaga kesehatan dan tampilan optimal kulit wajah, sekaligus mengatasi beragam masalah kulit nan mungkin terjadi. Dalam prosesnya, skincare melibatkan penggunaan beragam produk dengan kegunaan nan berbeda-beda, tergantung pada kandungan bahan aktif di dalamnya. 

Lebih lanjut dilansir dari situs halodoc.com, disebutkan bahwa skincare mempunyai peranan krusial dalam menjaga kesehatan kulit. Karena didalam kandungan skincare terdapat nutrisi nan bisa mencegah beragam masalah kulit nan mungkin muncul. 

Di antaranya seperti terdapat bahan aktif untuk mempertahankan kelembapan kulit wajah, sehingga wajah tidak menjadi kering nan berujung mengelupas. Maka dapat dinilai bahwa skincare berbeda dengan make up. Jika make up digunakan untuk mempercantik diri, skincare digunakan dengan konsentrasi utama untuk menjaga kesehatan kulit agar terlindungi dari kerusakan akibat aspek lingkungan.

Untuk mengetahui gimana norma memakai skincare saat ihram?, Maka terlebih dulu kudu mengetahui apa saja hal-hal nan diharamkan ketika ihram. Hal-hal nan diharamkan ketika ihram telah terakomodir dalam hadits Rasulullah SAW:

قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا تَأْمُرُنَا أَنْ نَلْبَسَ مِنْ الثِّيَابِ فِي الْإِحْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا الْبَرَانِسَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ لَيْسَتْ لَهُ نَعْلَانِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَلَا تَلْبَسُوا شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ وَلَا الْوَرْسُ وَلَا تَنْتَقِبْ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلَا تَلْبَسْ الْقُفَّازَيْنِ تَابَعَهُ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُقْبَةَ وَجُوَيْرِيَةُ وَابْنُ إِسْحَاقَ فِي النِّقَابِ وَالْقُفَّازَيْن

Artinya: “Seorang laki-laki datang lampau berkata: “Wahai Rasulullah, busana apa nan baginda perintahkan untuk kami ketika ihram? Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Janganlah kalian mengenakan baju, celana, sorban, mantel (pakaian nan menutupi kepala) selain seseorang nan tidak mempunyai sandal, hendaklah dia mengenakan sepatu tapi dipotongnya hingga berada di bawah mata kaki dan jangan pula kalian memakai busana nan diberi minyak wangi alias wewangian dari daun tumbuhan. Dan wanita nan sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah) dan sarung tangan”. (HR. Bukhari 1838)

Dari hadits tersebut, tidak ada kalimat nan menyatakan larangan memakai skincare secara eksplisit. Namun demikian, skincare merupakan sesuatu nan dioleskan di badan. Sehingga, berasosiasi dengan kandungan alias bahan nan dimiliki. 

Mengenai perihal itu, nampaknya kita bisa menarik benang merah persoalan ini dengan mengkaitkan skincare dengan wewangian, sebagai suatu kandungan nan sudah jelas hukumnya dilarang. Sehingga terdapat dua keadaan dalam perihal ini:

Pertama, andaikan skincare mengandung wewangian, maka hukumnya dilarang

Sehingga andaikan skincare nan dioleskan pada tubuh tersebut menimbulkan aroma wewangian, maka penggunaan skincare tersebut dilarang bagi orang nan berihram. Larangan ini bertindak apalagi jika ada argumen untuk menggunakannya. Sehingga jika dilakukan, maka dijatuhi fidyah. Hal ini lantaran telah jelasnya larangan menggunakan wewangian saat ihram. 

Sebagaimana terdapat dalam hadits nan dijelaskan diatas, dan juga dalam kitab Fathul Mu’in:

)وتطيب( في بدن أو ثوب بما يسمى طيبا كمسك وعنبر وكافور حي أو ميت وورد ومائه ولو بشد نحو مسك بطرف ثوبه أو بجعله في جيبه.

Artinya: “Haram memakai harum-haruman pada badan alias busana dengan sesuatu nan disebut minyak semisal minyak misik alias ambar alias kapur wangi alias air mawar, walaupun hanya dengan mengikatkan misik diujung busana alias meletakkannya di dalam saku” (Zainudin Ahmad bin Abdul Aziz Al Malibari, Fathul Mu’in bi Syarhi Qurratil Ain, hal. 298) https://shamela.ws/book/11327/271#p1

Kedua, andaikan skincare tidak mengandung wewangian, ini terdapat dua kategori. 

Jika skincare nan tidak mengandung wewangian tersebut bukan berupa minyak, maka boleh. Namun jika berupa minyak, pada kalangan syafi’iyah melarang memakai wangi-wangian dan minyak meskipun tidak menimbulkan aroma di rambut kepala dan jenggot lantaran termasuk “Tazyiin” (berhias). 

Sebagaimana nan disebutkan dalam kitab Raudhah ath-Thalibin:

النَّوْعُ الثَّالِثُ: دَهْنُ شَعْرِ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ، قَدْ سَبَقَ أَنَّ الدُّهْنَ مُطَيِّبٌ وَغَيْرُهُ. فَالْمُطَيِّبُ: سَبَقَ. وَأَمَّا غَيْرُهُ: كَالزَّيْتِ، وَالشَّيْرَجِ، وَالسَّمْنِ، وَالزُّبْدِ، وَدُهْنِ الْجَوْزِ وَاللَّوْزِ، فَيَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهُ فِي الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ….وَيَجُوزُ اسْتِعْمَالُ هَذَا الدُّهْنِ فِي سَائِرِ الْبَدَنِ شَعْرِهِ وَبَشَرِهِ، وَيَجُوزُ أَكْلُهُ.

Artinya: “Macam nan ketiga adalah memakai minyak pada rambut kepala dan jenggot. Sungguh telah lewat bahwasanya Minyak itu ada nan membikin aroma wangi dan nan tidak membikin aroma harum. 

Adapun Minyak nan membikin aroma wangi telah usai, dan adapun minyak nan tidak membikin aroma wangi seperti minyak zaitun, minyak Bijan, minyak samin, minyak tumbuhan, minyak kelapa, dan minyak kenari maka haram menggunakannya di kepala dan jenggot.…Menggunakan minyak ini boleh pada seluruh badan, rambutnya dan kulitnya dan boleh pula mengonsumsinya.” (Abu Zakariya Muhyiddin Yahya an-Nawawi, Raudloh ath-Thalibin wa Umdatul Muftin, juz 3, perihal 133).

Maka andaikan skincare nan digunakan tersebut tidak mengandung aroma alias wewangian, hukumnya boleh. Bahkan madzhab Syafi’i beranggapan bahwa penggunaan tersebut diperbolehkan apalagi tanpa alasan. 

Pasalnya, penggunaan skincare saat ihram tidak bertentangan dengan nilai-nilai inti kesederhanaan dan tujuan ihram. Selama tidak mengandung bahan-bahan terlarang seperti parfum, alkohol, alias bahan asing lainnya, penggunaan skincare saat ihram merupakan perihal nan diperbolehkan.

Demikian penjelasan mengenai norma menggunakan skincare saat ihram, semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah