Hukum Membatalkan Salat Id Karena Anak Rewel

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Momen salat Id adalah momen nan seringkali dirindukan banyak orang. Setelah sebulan penuh berpuasa, salat Id menjadi puncak seremoni bakal perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan. Tak jarang banyak orang bergetar hatinya lantaran terharu dengan suasana ini. Namun, tak jarang juga, momen ini menjadi kurang syahdu lantaran bunyi tangis anak kecil. Bagaimana sebaiknya kita menyikapi perihal ini?

Hukum Salat Id

Pertama, kita kudu mengetahui dulu norma salat Id itu sendiri. Para ustadz berbeda pendapat mengenai hukumnya. Syaikh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ada nan mengatakannya sunnah dengan dalil seorang Arab Badui nan bertanya kepada Nabi mengenai salat lima waktu,

هل عليَّ غيرها؟ قال: لا إلا أن تطوع

“Apakah ada perihal lain nan kudu saya kerjakan selain ini?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak ada.”

Ada pula nan mengatakannya fardhu kifayah lantaran dia merupakan syiar kepercayaan Islam nan jelas. Melakukan salat Id haruslah berjamaah dan di lapangan terbuka. Hal ini tentu menunjukkan syiar kepercayaan Islam. Dan sesuatu nan merupakan syiar nan jelas, dihukumi fardhu kifayah sebagaimana adzan.

Ada pula nan mengatakannya fardhu ‘ain dengan dalil bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai memerintahkan wanita nan baru baligh, wanita haid, dan wanita nan dipingit untuk keluar menghadiri salat Id. Inilah pendapat nan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ . قَالَتْ: « أَمَرَنَا – تَعْنِي النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ‌أَنْ ‌نُخْرِجَ ‌فِي ‌الْعِيدَيْنِ ‌الْعَوَاتِقَ، ‌وَذَوَاتِ ‌الْخُدُورِ. ‌وَأَمَرَ ‌الْحُيَّضَ ‌أَنْ ‌يَعْتَزِلْنَ ‌مُصَلَّى ‌الْمُسْلِمِينَ

“Dari Ummu Athiyyah dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami pada hari raya untuk menyuruh gadis remaja keluar, dan wanita nan dipingit dalam rumah. Adapun wanita menstruasi hendaklah menjauh dari tempat salat kaum muslimin.” (HR. Muslim (3/20 No. 890))

Adapun Syaikh Bin Baz mengatakan bahwa hukum salat Id menurut sebagian besar ustadz adalah fardhu kifayah. Artinya jika sudah ada orang nan melaksanakannya, maka nan lain tidak wajib mengerjakannya. Namun, tentu menghadirinya adalah sunnah nan sangat ditekankan nan tidak semestinya ditinggalkan jika tidak ada udzur syari.

Hukum Membatalkan Salat

Pada asalnya, membatalkan salat secara sengaja itu tidak diperbolehkan. Namun, jika ada keadaan darurat alias rencana nan dibutuhkan, maka perihal tersebut diperbolehkan. Bahkan menjadi wajib dalam beberapa perihal nan sangat darurat seperti memadamkan api. Hal ini sebagaimana nan disampaikan dalam Kitab Qawa’id Al Ahkam karya Syaikh Al-Izz bin Abdi As-Salam.

Hukum Mengganggu Orang Lain nan Beribadah

Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenai beberapa orang nan merasa terganggu dengan anak mini ketika mereka berada di majelis beliau. Beliau pun menjelaskan bahwa jika anak-anak mengganggu jamaah lain, orang tuanya tidak boleh membawanya ke masjid. Dalilnya adalah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membolehkan makan bawang sebelum ke masjid lantaran perihal tersebut dapat mengganggu orang lain.

‌مَنْ ‌أَكَلَ ‌ثُومًا ‌أَوْ ‌بَصَلًا ‌فَلْيَعْتَزِلْنَا، ‌أَوْ ‌لِيَعْتَزِلْ ‌مَسْجِدَنَا، ‌وَلْيَقْعُدْ ‌فِي ‌بَيْتِهِ

“Barangsiapa makan bawang putih alias bawang merah, maka janganlah dia mendekati masjid kami dan hendaklah dia salat di rumahnya” (HR. Bukhari (5/2678 No.6926))

إن الملائكة تتأذى مما يتأذى منه الإنسان

“Sesungguhnya malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa nan mengganggu manusia.” (HR. Ibnu Majah (2/1116 No.3365))

Donasi Semarak Ramadan YPIA

Solusi Jika Anak Rewel Ketika Salat Id

Jika memungkinkan bagi orang tua si anak untuk menenangkannya dengan sedikit pergerakan tanpa beralih dari arah kiblat maka perihal itu boleh dilakukan. Seperti mundur ke belakang kemudian menggendong si anak dan kembali ke shaf tanpa kudu memutus salat.

Namun, andaikan tidak memungkinkan untuk mendiamkan si anak selain kudu memutus salat secara keseluruhan, maka perbuatan seperti itu tidak kenapa –insyaallah-. Hal tersebut agar bunyi anak tidak mengganggu jamaah lain. Adapun jika orang tua si anak bersikeras meneruskan salat, dia mendapat untung untuk dirinya sendiri tetapi mengorbankan kepentingan banyak orang. Hal ini bisa jadi menyebabkan dia berdosa.

Setelah anaknya tenang, dia bisa salat kembali berbareng pemimpin jika tetap memungkinkan. Namun, jika salat telah usai, sebagaimana pendapat jumhur ulama, barangsiapa tertinggal melaksanakan salat Id maka hendaknya dia qada dengan melaksanakan salat dua rakaat sebagaimana tata langkah salat Id. Hal itu dikuatkan oleh beberapa atsar, di antaranya:

1. Imam Al-Bukhari berbicara dalam shahihnya: (bab barangsiapa nan tertinggal salat Id hendaknya dia salat dua rakaat)

2. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanadnya melalui Ubaidillah bin Abi Bakar bin Anas bin Malik, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata:

“Bahwasanya Anas bin Malik jika dia tertinggal salat Id berbareng pemimpin maka dia mengumpulkan keluarganya kemudian dia melaksanakan salat berbareng mereka dengan dua rakaat (sebagaimana tata langkah salat Id).”

Dengan demikian, jika salat Id telah usai, orang tua si anak bisa mengerjakan qada seorang diri jika memang hanya dia nan ketinggalan salat. Namun, perlu diperhatikan, jika dia mendapati khutbah Id, hendaklah dia mendengarkan khutbah terlebih dulu baru kemudian dia mengqada salatnya dengan tata langkah nan sama seperti salat Id berbareng imam.

Wallahu a’lam

Penulis : Rahma Aziza Fitriana

Murajaah: Ustadz Muhammad Rizki Radifan, Lc

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id