Hukum Menghadap Kiblat Ketika Salat Di Kapal Atau Pesawat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Bersafar dengan pesawat alias kapal merupakan perihal wajar nan kita lakukan. Bahkan, kita kadang mendapatkan waktu salat wajib di atas kendaraan tersebut dan baru bisa turun ketika waktu salat sudah berlalu. Dalam keadaan seperti itu, kita diharuskan untuk melakukan salat wajib. Di sisi lain, kita tahu bahwasanya salat (khususnya nan wajib) kudu dilaksanakan dengan menghadap kiblat dan itu tentu “agak repot” untuk dipraktikkan. Bolehkah kita salat wajib tanpa menghadap kiblat, ialah cukup menghadap sebagaimana arah kapal alias pesawat? Apakah perihal tersebut boleh dalam seluruh keadaan, alias unik keadaan-keadaan tertentu saja?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan tuntas, berikut ini beberapa poin pembahasan tentang norma menghadap kiblat ketika salat di kapal alias pesawat. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

Menghadap kiblat merupakan syarat sah salat

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ustadz bahwa salah satu syarat sah salat adalah menghadap kiblat. Hal ini berasas firman Allah Ta’ala,

فَوَل وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“Maka, palingkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja Anda berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya (kiblat).” [1]

Maksudnya adalah menghadap ke arahnya.

Akan tetapi, ada beberapa kondisi nan tidak disyaratkan menghadap kiblat, seperti salat khauf (ketika dalam kondisi ketakutan), orang nan terpaksa (terpaksa tidak menghadap kiblat), orang nan tenggelam (tidak bisa menghadap kiblat), sunah saat dalam perjalanan nan diperbolehkan, dan lainnya. [2]

Batalnya salat orang nan beralih dari kiblat ketika salat

Di antara pembatal salat adalah jika orang nan salat memutar badannya dari arah kiblat tanpa uzur (alasan nan dibenarkan).

Syekh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar hafidzahullah menyebutkan,

للصلاة مبطلات منها: تخلف شرط ‌استقبال ‌القبلة: ذكرنا فيما سبق أنه يشترط لصلاة الفريضة ‌استقبال ‌القبلة وما يترتب على عدم استقبالها من أحكام.

“Di antara pembatal salat adalah tidak terpenuhinya syarat menghadap kiblat. Telah kami sebutkan sebelumnya bahwa salat fardu disyaratkan menghadap kiblat dan akibat norma jika tidak menghadapnya.” [3]

Bahkan, ustadz Hanafiyah menyebutkan,

أَنَّ مِنْ مُفْسِدَاتِ الصَّلَاةِ تَحْوِيل الْمُصَلِّي صَدْرَهُ عَنِ الْقِبْلَةِ بِغَيْرِ عُذْرٍ اتِّفَاقًا

“Salah satu pembatal salat adalah jika nan salat memutar badannya dari arah kiblat tanpa uzur (alasan nan dibenarkan), dengan kesepakatan ulama.[4]

Khusus salat sunah, diperbolehkan di atas kendaraan, ke mana pun arah kendaraan tersebut menuju

Para fuqaha sepakat bahwa diperbolehkan bagi musafir melakukan salat sunah di atas kendaraan ke mana pun arah kendaraan tersebut menuju.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“Dan milik Allahlah timur dan barat, maka ke manapun kalian menghadap, di situlah wajah Allah.” [5]

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

نَزَلَتْ فِي التَّطَوُّعِ خَاصَّةً

“Ayat ini turun unik mengenai salat sunah.”

Dan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهَهُ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertasbih (salat) di atas kendaraannya ke mana pun arah beliau menghadap.” [6]

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ، فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَل فَاسْتَقْبَل الْقِبْلَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salat di atas kendaraannya ke mana pun arah kendaraan tersebut menuju. Namun, jika hendak salat fardu, beliau turun kemudian menghadap kiblat.” [7]

Hal tersebut unik pada salat sunah. Sedangkan untuk salat wajib, maka norma asalnya tidak diperbolehkan untuk dilakukan di atas kendaraan, selain ada uzur (alasan nan dibenarkan) sebagaimana disebutkan dalam sabda Jabir di atas, alias terpenuhi semua syarat dan rukunnya sebagaimana bakal dijelaskan lebih rinci pada pembahasan berikutnya. [8]

Baca juga: Hukum Salat Tidak Menghadap ke Arah Kiblat

Salat fardu di atas kendaraan dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya, maka salatnya sah

Siapa saja nan bisa melaksanakan salat fardu / wajib di atas kendaraan dengan memenuhi semua syarat (di antaranya adalah menghadap kiblat) dan rukunnya, maka salatnya sah.

Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah,

فَإِنَّ مَنْ أَمْكَنَهُ صَلَاةُ الْفَرِيضَةِ عَلَى الرَّاحِلَةِ مَعَ الإِْتْيَانِ بِكُل شُرُوطِهَا وَأَرْكَانِهَا، وَلَوْ بِلَا عُذْرٍ صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَذَلِكَ كَمَا يَقُول الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ – وَهُوَ الرَّاجِحُ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ –

“Siapa saja nan bisa menunaikan salat fardu di atas kendaraan (tunggangan) dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya, maka salatnya sah meskipun tanpa uzur. Ini adalah pendapat Syafi’iyyah, Hanabilah, dan pendapat nan kuat (rajih) menurut Malikiyyah.” [9]

Jika angin bertiup, sehingga mengubah arah kapal, apa nan kudu dilakukan?

Jika itu salat fardu, maka dia wajib menghadap kiblat dalam seluruh keadaan salat. Jika kapal alias pesawat berubah arah, maka dia wajib berubah arah sehingga tetap menghadap kiblat.

Syekh Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar hafidzahullah mengatakan [10],

ذهب جمهور الفقهاء إلى وجوب استقبال القبلة لمن صلى فرضًا في السفينة، فإن هبت الريح وحولت السفينة وجب رد وجهه إلى القبلة؛ لأن التوجه فرض عند القدرة، وهذا قادر. … فيجب أن يدور مع السفينة أو الطائرة أين دارت في صلاة الفرض حسب طاقته؛ لأن استقبال القبلة شرط لصحة صلاة الفريضة كما بينا ذلك. وهذا هو الذي أفتت به اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء في السعودية

“Mayoritas fuqaha beranggapan bahwa wajib menghadap kiblat bagi orang nan mengerjakan salat fardu di atas kapal. Jika angin bertiup dan mengubah arah kapal, maka dia wajib memalingkan wajahnya ke arah kiblat, lantaran menghadap kiblat adalah tanggungjawab jika mampu, dan dia memang mampu. … Maka, dia kudu mengikuti arah putaran kapal alias pesawat selama salat fardu sesuai dengan kemampuannya, lantaran menghadap kiblat adalah syarat sah salat fardu sebagaimana telah dijelaskan. Inilah fatwa nan dikeluarkan oleh Lajnah Daimah untuk Penelitian Ilmiah dan Fatwa di Arab Saudi.” [11]

Adapun untuk salat sunah, dia boleh menghadap ke mana saja sesuai arah kendaraan alias perjalanannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. [12]

Kesimpulan

Dari pembahasan-pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwasanya seseorang nan salat fardu (wajib) di atas kapal alias pesawat, wajib atasnya menghadap kiblat, dari awal salat sampai selesai. Jika tidak bisa demikian, maka salat dilaksanakan semampunya, sesuai dengan ketentuan dalam salat bagi orang nan mempunyai uzur. Wallahu a’lam.

Demikian penjelasan ringkas, dan insyaAllah menyeluruh, tentang norma menghadap kiblat ketika salat di kapal alias pesawat. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan pengikut beliau.

Baca juga: Hukum Buang Hajat Menghadap Kiblat

***

11 Syawal 1445, Rumdin Ponpes Ibnu Abbas Assalafy Sragen.

Penulis: Prasetyo, S.Kom.

Artikel: Muslim.or.id

Referensi utama:

Al-Fiqhul Muyassar Qism ‘Ibadat, Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, Madarul Wathan – Riyadh, cet. ke-4, 2018 M.

Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, Tim Ulama Kuwait, Dar Shafwah – Mesir, cet. ke-1, 1421. (Maktabah Syamilah).

Catatan kaki:

[1] QS. Al-Baqarah: 144.

[2] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 4: 62.

[3] Al-Fiqh Al-Muyassar, 1: 313.

[4] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 4: 62.

[5] QS. Al-Baqarah: 115.

[6] HR. Bukhari, Fathul Bari, 2: 578.

[7] HR. Bukhari, Fathul Bari, 1: 503. Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27: 228.

[8] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27: 230.

[9] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27: 231. Lihat juga https://dorar.net/feqhia/867

[10] Lihat Al-Fiqh Al-Muyassar, 1: 238.

[11] Majmu’ Fatawa Lajnah Da’imah, 8: 121-122, Fatwa no. 6275 dan 2645.

[12] Lihat Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 27: 231.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah