Hukum Menjawab Salam Di Grup Wa, Wajibkah?

Oct 24, 2025 01:03 PM - 5 bulan yang lalu 181817
Hukum Menjawab Salam di Grup WA, Wajibkah?Hukum Menjawab Salam di Grup WA, Wajibkah?

Kincai Media – Di era digital seperti sekarang, hubungan sosial tidak lagi terbatas pada pertemuan langsung. Banyak percakapan terjadi di ruang virtual, seperti grup WhatsApp, Telegram, alias media sosial lainnya. Dalam suasana itu, ucapan salam sering kali menjadi pembuka percakapan: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Lalu muncul pertanyaan: apakah norma menjawab salam di grup WhatsApp?

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, memberi salam hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), sedangkan norma menjawab salam hukumnya adalah wajib.

Jika salam ditujukan kepada satu orang, maka wajib baginya menjawab (fardhu ‘ain). Namun, jika salam ditujukan kepada sekelompok orang, maka hukumnya fardhu kifayah, ialah cukup satu orang yang menjawab agar tanggungjawab gugur bagi semuanya.

Jika tidak ada seorang pun yang menjawab, semua yang disalami berdosa. Tapi jika semua menjawab, semuanya mendapat pahala. Adapun jika yang menjawab bukan orang yang disalami, tanggungjawab dan dosa tetap bertindak bagi orang yang sebenarnya disalami.

وأما جواب السلام فهو فرض بالإجماع، فإن كان السلام على واحد فالجواب فرض عين في حقه، وإن كان على جمع فهو فرض كفاية، فإذا أجاب واحد منهم أجزأ عنهم وسقط الحرج عن جميعهم، وإن أجابوا كلهم كانوا كلهم مؤدين للفرض سواء ردوا معا أو متعاقبين، فلو لم يجبه أحد منهم أثموا كلهم، ولو رد غير الذين سلم عليهم لم يسقط الفرض والحرج عن الباقين.

Artinya; Adapun menjawab salam hukumnya wajib (fardhu) menurut kesepakatan para ulama. Jika salam itu diberikan kepada satu orang, maka menjawabnya menjadi tanggungjawab pribadi (fardhu ‘ain) bagi orang tersebut. Namun jika salam diberikan kepada sekelompok orang, maka menjawabnya menjadi tanggungjawab berbareng (fardhu kifayah).

Maksudnya, jika salah satu dari mereka menjawab, maka tanggungjawab itu gugur bagi semuanya dan tidak ada dosa bagi yang lain. Jika semua menjawab salam, maka semuanya mendapat pahala lantaran telah menunaikan kewajiban, baik mereka menjawab secara berbarengan maupun bergantian. Namun, jika tidak ada satu pun yang menjawab, maka semua orang yang disalami berdosa.

Dan andaikan yang menjawab bukan orang yang disalami, maka tanggungjawab dan dosa tidak gugur dari orang-orang yang sebenarnya disalami. (Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, (Kairo: Matbha’ah Munirah, tt), Jilid IV, laman 451).

Berdasarkan keterangan di atas, menjawab salam di grup WA dapat disamakan dengan menjawab salam kepada jamaah (kelompok). Ketika seseorang menulis salam di grup, maka salam itu tertuju kepada seluruh personil grup. Maka hukumnya menjadi fardhu kifayah: cukup jika salah satu personil grup menjawab, maka tanggungjawab menjawab salam gugur dari personil lainnya.

Namun, jika tidak ada satu pun yang menjawab, maka semua personil grup yang membaca salam tersebut ikut berdosa, lantaran mereka telah membiarkan tanggungjawab fardhu kifayah tidak dilaksanakan.

Di sisi lain, jika banyak personil menjawab salam, semuanya tetap mendapatkan pahala lantaran telah melaksanakan tanggungjawab dengan sempurna, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Nawawi dalam kedua kitabnya di atas.

Keterangan serupa juga disebutkan dalam kitab Radhatut Thalibin, jika salam ditujukan kepada satu orang, maka orang itu wajib menjawab. Namun, jika salam ditujukan kepada sekelompok orang, menjawabnya menjadi tanggungjawab berbareng (fardhu kifayah).

Artinya, jika salah satu menjawab, tanggungjawab gugur bagi yang lain. Jika semuanya menjawab, semuanya mendapat pahala. Tetapi jika tidak ada yang menjawab, semuanya berdosa. Sedangkan jika yang menjawab bukan orang yang disalami, tanggungjawab tetap belum gugur dari orang yang sebenarnya disalami.

الْأُولَى: ابْتِدَاءُ السَّلَامِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، فَإِنْ سَلَّمَ عَلَى وَاحِدٍ، وَجَبَ عَلَيْهِ الرَّدُّ، وَإِنْ سَلَّمَ عَلَى جَمَاعَةٍ، فَالرَّدُّ فِي حَقِّهِمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ، فَإِنْ رَدَّ أَحَدُهُمْ، سَقَطَ الْحَرَجُ عَنِ الْبَاقِينَ، وَإِنْ رَدَّ الْجَمِيعُ، كَانُوا مُؤَدِّينَ لِلْفَرْضِ، سَوَاءٌ رَدُّوا مَعًا أَوْ مُتَعَاقِبِينَ، فَإِنِ امْتَنَعُوا كُلُّهُمْ، أَثِمُوا، وَلَوْ رَدَّ غَيْرُ مَنْ سُلِّمَ عَلَيْهِ، لَمْ يَسْقِطِ الْفَرْضُ عَمَّنْ سُلِّمَ عَلَيْهِ، وَيَكُونُ ابْتِدَاءُ السَّلَامِ أَيْضًا سُنَّةً عَلَى الْكِفَايَةِ، فَإِذَا لَقِيَ جَمَاعَةٌ آخَرِينَ، فَسَلَّمَ أَحَدُ هَؤُلَاءِ عَلَى هَؤُلَاءِ، كَفَى ذَلِكَ فِي إِقَامَةِ أَصْلِ السُّنَّةِ.

Artinya; Pertama, mengucapkan salam adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Apabila seseorang memberi salam kepada satu orang, maka orang itu wajib menjawabnya. Namun jika salam diberikan kepada sekelompok orang, maka menjawabnya menjadi tanggungjawab berbareng (fardhu kifayah). Artinya, jika salah satu dari mereka menjawab, maka dosa gugur dari yang lainnya.

Tetapi jika semua menjawab, maka semuanya mendapat pahala lantaran melaksanakan kewajiban, baik mereka menjawab secara berbarengan maupun bergantian. Jika tidak ada satu pun yang menjawab, maka semua orang yang disalami berdosa.

Apabila orang yang menjawab bukan termasuk yang disalami, maka tanggungjawab menjawab belum gugur dari orang-orang yang sebenarnya disalami. Selain itu, mengucapkan salam juga termasuk sunnah kifayah, artinya jika dalam satu golongan ada yang lebih dulu mengucapkan salam kepada golongan lain, maka perihal itu sudah cukup untuk menegakkan sunnah salam di antara mereka. (Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin, (Beirut: Maktabah Islamy, 1991 M), Jilid X, laman 226).

Dalam konteks grup WhatsApp, ucapan salam seperti “Assalamu’alaikum” yang dikirim di grup berfaedah ditujukan kepada semua personil grup. Maka hukumnya sama sebagaimana salam kepada sekelompok orang dalam majelis nyata.

Artinya, menjawab salam di grup WA termasuk fardhu kifayah. Jika sudah ada satu alias beberapa personil yang menjawab dengan “Wa’alaikumussalam”, maka tanggungjawab menjawab bagi personil lainnya telah gugur. Namun, jika tidak ada satu pun yang menjawab, maka semua personil yang membaca salam tersebut menanggung dosa lantaran meninggalkan tanggungjawab menjawab.

Sebaliknya, jika salam dikirim secara pribadi melalui pesan langsung (chat pribadi), maka menjawabnya menjadi fardhu ‘ain, ialah tanggungjawab perseorangan yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain.

Dengan demikian, norma menjawab salam, meski hanya di grup WhatsApp, hukumnya adalah fardhu kifayah. Cukup satu orang menjawab, tanggungjawab gugur bagi yang lain—tapi jika tak ada yang menjawab, semua ikut berdosa.

Selengkapnya