Hukum Puasa Di Hari Syak

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Bagaimana norma puasa di hari syak? Hari syak adalah hari di mana umat Islam ragu apakah hari tersebut adalah awal bulan Ramadhan alias akhir dari bulan Sya’ban. Definisi mengenai hari Syak ini juga pernah disinggung oleh pemimpin Ibn Mulqin di dalam kitabnya nan berjudul ‘al-I’lam bi Fawaidh Umdat al-Ahkam, dimana beliau mengatakan; 

وهو عبارة عن اليوم الذي يتحدث الناس برؤيته أعني الهلال، أو يشهد بها صبيان أو عبيد أو فسقة.

Artinya: “(Hari Syak) adalah ungkapan mengenai hari dimana manusia sibuk memperbincangkan persoalan memandang hilal. Atau (hari syak juga bisa didefinisikan) sebagai hari dimana baik anak kecil, budak ataupun orang fasik bersaksi telah memandang hilal”. [Ibn al-Mulqin, “al-I’lam bifawa’id Umdat al-Ahkam”. (Arab Saudi: Dar al-Ashimah li an-Nasyr wa at-Tawji’, 1997M) Jilid. 5, hal.166.].

Adapun norma berpuasa di hari tersebut, jumhur ustadz sepakat terhadap tidak bolehnya berpuasa di hari tersebut. Hal ini sebagaimana nan dikatakan oleh Imam Muhammad Nu’aim Muhammad Hani as-Sa’i didalam kitabnya nan berjudul Maushu’ah Masa’il al-Jumhuri fi al-Fiqh al-Islami,

باب في صيام يوم الشك; مسألة (588) مذهب الجمهور من العلماء أنه لا يجوز صوم يوم الشك عن رمضان وبه قال عمر بن الخطاب وعلي وابن عباس وابن مسعود (2) وحذيفة وأنس وأبو هريرة وأبو وائل وعكرمة وابن المسيب والشعبي والنخعي وابن جريج والأوزاعي.

Artinya : “Jumhur Ulama beranggapan bahwa tidak boleh berpuasa di hari Syak. Pendapatini juga sesuai dengan apa nan dikatakan Ummar Ibn Khattob, pemimpin Ali, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Hudzaifah, Anas Ibn Malik dan Abu Hurairah”.  [Muhammad Nu’aim, “Maushu’ah Masa’il al-Jumhuri fi al-Fiqh al-Islamiy”, Jilid. 1, hal.325.]

Pendapat jumhur ustadz mengenai tidak bolehnya berpuasa di hari Syak, bukanlah pendapat nan tanpa dalil. Ada beberapa sabda nabi saw. nan mengindikasikan perihal tersebut. Diantaranya;

– حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْعُمَيْسِ عُتْبَةُ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ، فَأَمْسِكُوا عَنِ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ

Artinya :  “Telah menceritakan kepada kami Waki’, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu al-Umais Utbah dari al-Ala’ Ibn Abi Abdir-Rahman Ibn Ya’qub dari bapaknya dari Abu Huroiroh, dia berkata, telah berbicara nabi saw. “Apabila telah datang separuh dari bulan sya’ban, maka tahanlah diri kalian dari berpuasa sampai datang bulan ramadhan”.

Akan tetapi Imam at-Tirmidzi beranggapan bahwa norma berpuasa di hari Syak adalah makruh dan bukan haram. Hal ini disebabkan pemimpin at-tirmidzi mngarahkan sabda mengenai larangan berpuasa dihari syak kearah makruh dan bukan kearah haram. Imam at-Tirmidzi apalagi menyusun satu bab nan bejudul بَابُ مَا جَاءَ فِي كَرَاهِيَةِ صَوْمِ يَوْمِ الشَّكِّ yaitu bab nan menyertakan dalil tentang makruhnya berpuasa dihari syak. Diantara sabda yag dikutipnya adalah sabda Ammar Ibn Yasir;

– حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَعِيدٍ الأَشَجُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ فَأُتِيَ بِشَاةٍ مَصْلِيَّةٍ، فَقَالَ: كُلُوا، فَتَنَحَّى بَعْضُ القَوْمِ، فَقَالَ: إِنِّي صَائِمٌ، فَقَالَ عَمَّارٌ: مَنْ صَامَ اليَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Artinya :  “Telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Abdullah Ibn Sa’id, dia berkata, telah menceritakan kepada kam Abu Kholid al-Ahmar dari Amr Ibn Qois dari Abi Ishaq dari Shilah Ibn Zufar, dia berkata, dulu kami berbareng Ammar Ibn Yasir, lampau dihidangkanlah seekor kambing, lampau Ammar berbicara “Makanlah kalian”, lampau sebagian dari nan datang menolaknya seraya berkata,

“sesungguhnya saya puasa”, maka berkatalah Ammar Ibn Yasir, “Barangsiapa nan berpuasa hari ini ialah hari dimana manusia ragu, maka berfaedah dia telah durhaka kepada Abal-Qosim (Nabi Muhammad saw.)”. Muhammad Ibn Isa Ibn Sauroh Ibn Musa Ibn ad-dhahhak at-Tirmidzi, “al-Jami’ al-Kabir – Sunan at-Tirmidzi”. (Beirut: Dar al-Gharb 1998M) Jilid.2, hal.63.]

Hari Syak ini terjadi akibat tidak adanya kejelasan memandang bulansabit di langit. Hal ini diakibatkan bulansabit nan biasanya tertutup oleh awan hitam dilangit. Karenanya ustadz memberikan solusi berupa menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh. Setelah sempurna, barulah kemudian dia memulai melakukan puasa Ramadhan. Hal ini selaras dengan sabda Nabi saw.;

مَالِكٌ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الدِّيلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ رَمَضَانَ، فَقَالَ: «لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ. وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ، فَأَكْمِلُوا الْعَدَدَ ثَلاَثِينَ».

Artinya : Dari Malik, dari Tsaur Ibn Zaid ad-Dili, dari Abdullah Ibn Abbas, bahwa Rasulullah saw. menyebut bulan Ramadhan, lampau beliau berbicara “Janganlah kalian berpuasa sampai kalian memandang hilal, dan janganlah kalian berbuka sampai kalian melihatnya (hilal). Jika awan menghalangi pandangan kalian, maka sempurnakanlah bilangan (sya’ban) menjadi tiga puluh. [ Malik Ibn Anas, Muwattho’. Jilid. 3, hal.408].

Demikian penjelasan norma puasa di hari syak, bahwa ustadz melarang puasa di hari tersebut. Semoga keterangan ini bermanfaat. [Baca juga: 3 Hadits Puasa Ramadhan]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah