Hukum Shalat Idul Fitri

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Kita tahu, bahwa shalat Idul Fitri adalah shalat Ied pertama nan dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. pada tahun kedua setelah hijrah, setelah itu baru beliau melaksanakan shalat Idul Adha. Hukum shalat Idul Fitri dan Adha disunnahkan bagi seluruh umat muslim selain jamaah haji nan ada di Mina (khusus shalat Idul Adha). 

Shalat Ied boleh dikerjakan dengan berjamaah alias tidak (shalat sendirian). Dan bagi nan melaksanakannya dengan tidak berjamaah, maka tidak disunnahkan membaca khotbah, lantaran tujuan khotbah adalah untuk mengingatkan orang lain.

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب (ص: ١٠٢) 

(فصل) (وصلاة العيدين) أي الفطر والأضحى (سنة مؤكدة). وتشرع جماعة، ولمنفرد ومسافر، وحر وعبد، وخنثى وامرأة، لا جميلة، ولا ذات هيئة. أما العجوز فتحضر العيد في ثياب بيتها بلا طيب.

Artinya: “Dan adapun dua sholat ‘id ialah Idul fithri dan Idul Adha adalah sunnah mu’akkad,. Sholat ini disyari’atkan dengan langkah berjamaah, sendirian bagi orang nan melakukan perjalanan, bagi orang merdeka, budak, bencong dan wanita tidak bagi wanita elok dan wanita seksi. Adapun orang sudah tua maka boleh menghadiri sholat ‘id dengan menggunakan bahu sehari-hari tanpa menggunakan wangi-wangian.”

Lalu kapan waktu dan tempat pelaksanaannya?

Syahdan. Shalat Idul Fitri dikerjakan pada tanggal satu syawal. Waktu pelaksanaannya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Shalat Idul Fitri disunnahkan untuk sedikit diakhirkan dari awal waktu. Dalam perihal ini, berbeda dengan shalat Idul Adha nan sunnah dikerjakan pada awal waktu. Shalat Idul Fitri boleh dikerjakan baik di masjid, musholla, dan tanah lapang.

Akan tetapi, mengerjakan Shalat Id di masjid lebih utama daripada di selain masjid lantaran masjid adalah tempat paling mulia dibandingkan dengan nan lain. Hal ini andaikan masjid nan ditempati bisa menampung seluruh jama’ah. 

Namun demikian, jika masjid nan ada tidak bisa menampung seluruh jama’ah maka boleh melaksanakannya di selain masjid, baik melaksanakannya di musholla ataupun di tanah lapang sebagaimana Nabi pernah tidak melaksanakan Shalat Id di masjid Madinah, melainkan beliau shalat di musholla lantaran ketika itu masjid tersebut tidak bisa menampung seluruh jamaah nan ada.

الوسيط في المذهب (ج ٢ / ص ٣٢٣)

وليبكر في عيد الأضحى ليتسع وقت الأضحية بعد الصلاة وليستأخر قليلا في الفطر ليتسع تفرقة الصدقات وليفطر في عيد الفطر قبل الصلاة وليمسك في عبد النَّحْرِ حَتَّى يُصَلِّي وَالصَّلَاةَ فِي الصَّحراء أفضل إِلَّا بِمَكَّة فَإِن اتَّسع الْمَسْجِد ببلد آخر فَوَجْهَانِ أَحدهما الْمَسْجِد أولى كمسجد مكة وَالثَّانِي لَا لِأن مكة مخصوصة بالشرف.

Artinya: “Berpagi-pagilah pada Idul Adha agar bisa menuruti untuk waktu penyembelihan dan akhirkanlah sedikit pada Idul Fitri agar cukup waktu membagikan zakat, dan berbukalah sebelum shalat di hari raya fitri dan hendaknya tidak makan sebelum shalat pada hari raya kurban, melakukan shalat di tanah lapang lebih baik selain ada di Makkah andaikan masjid di wilayah selain makkah tetap cukup maka ada dua pendapat, pendapat pertama mengatakan bahwa lebih sunnah dilaksanakan di masjid pendapat kedua menyatakan tetap lebih utama shalat di tanah lapang lantaran hanya makkah nan mempunyai keistimewaan.”

البيان في مذهب الإمام الشافعي (ج ٢ / ص ٦٢٦)

وأول وقت صلاة العيد: إذا طلعت الشمس، وتم طلوعها. والمستحب أن يؤخرها حتى يرتفع قيد رمح وآخره إذا زالت الشمس. والمستحب أن يؤخر صلاة عيد الفطر عن أول الوقت قليلًا، ويصلي الأضحى في أول وقتها : لما روي:  ان النبي صلى الله عليه وسلم كتب إلى عمرو بن حزم: أن آخر صلاة الفطر، وعجل صلاة الأضحى.

Artinya: “Adapun awal waktu Shalat Id adalah andaikan mentari sudah terbit dengan sempurna. Adapun nan sunnah adalah mengakhirkannya sampai mentari naik seukuran tombak dan berhujung sampai mentari tergelincir. Disunnahkan sedikit mengakhirkan shalat Idul Fitri dari awal waktu untuk sholat Idul Adha disunnahkan shalat di awal waktu lantaran ada hadist nabi “Sesungguhnya nabi Muhammad SAW menulis surat untuk Umar Ibnu Hazm agar mengakhirkan shalat Idul Fitri dan mengakhirkan sholat Idul Adha.”

البيان في مذهب الإمام الشافعي (ج ٢ / ص ٦٢٧)

والأصل فيه: أن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يصلي العيد في المصلى ، وإنما كان كذلك؛ لأن مسجد المدينة كان صغيرا لا يسع الناس، وكان الأئمة يصلون العيد بمكة في المسجد؛ لأنه واسع.

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. melakukan Shalat Id di musholla, hanya saja Nabi Muhammad melakukan perihal tersebut lantaran masjid Madinah (pada saat itu) mini tidak bisa memuat manusia (jamaah) dan para pemimpin melaksanakan Shalat Id di masjid di wilayah makkah lantaran masjidnya luas.” 

Demikian penjelasan norma shalat Idul Fitri. Semoga tahun ini kita bisa bersama-sama melaksanakan shalat Ied ini. Amin Wallahu a’lam bishawab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah