Hukum Shalat Tarawih Sendirian

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia- Bagaimana norma shalat tarawih sendirian? Pasalnya, menurut ulama norma melaksanakan shalat Tarawih adalah sunnah muakkad, artinya sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Dalam sebuah sabda riwayat Imam Bukhari dan Muslim menunjukkan bahwa qiyam Ramadhan mempunyai keistimewaan nan luar biasa. Salah satunya, terampuninya dosa-dosa nan telah lampau bagi nan melakukannya dengan penuh keagamaan dan mengharap pahala dari Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya; Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk melakukan qiyam Ramadhan (shalat malam di bulan Ramadhan) tanpa mewajibkannya. Beliau bersabda, ‘Barangsiapa nan melakukan qiyam Ramadhan dengan penuh keagamaan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya nan telah lalu’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hukum melaksanakan shalat tarawih sendirian adalah sah dan mendapatkan pahala. Hal ini sebagaimana keterangan Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm, Jilid I, laman 168 bahwa Imam Syafi’i lebih menyukai melaksanakan shalat tarawih secara sendirian. Simak penjelasan berikut;

وقيام شهر رمضان فصلاة المنفرد أحب إلي منه

Artinya; “Dan ketika bulan Ramadhan tiba, maka shalat tarawih sendirian lebih saya sukai daripada shalat berjamaah,”.

Terkait maksud perkataan Imam Syafi’i di atas, Imam Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir di Fiqh Mazhab al-Imami asy-Syafi’i, Jilid II, laman 291 menjelaskan ada dua pendapat mengenai shalat tarawih nan lebih utama di rumah alias di masjid.

Pendapat pertama menyatakan bahwa salat tarawih di rumah lebih utama lantaran termasuk shalat sunnah nan seyogianya pengerjaannya secara sendirian. Sementara itu, pendapat kedua menyatakan bahwa shalat tarawih di rumah lebih utama selama tidak menyebabkan hilangnya jamaah di masjid. Jika shalat tarawih di rumah menyebabkan hilangnya jamaah di masjid, maka shalat tarawih di masjid menjadi lebih utama.

أحدهما : أنه أراد بذلك أن قيام شهر رمضان وإن كان في جماعة ففي النوافل التي تفعل فرادى ما هو أوكد منه ، وذلك الوتر ، وركعتا الفجر ، وهذا قول أبي العباس بن سريج . والتأويل الثاني : أن صلاة المنفرد في قيام شهر رمضان أفضل إذا لم يكن في انفراده تعطيل الجماعة ، فهو قول أكثر أصحابنا ، وإنما كان ذلك كذلك ، لرواية زيد بن ثابت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : صلوا في بيوتكم ، فإن صلاة المرء في بيته أفضل من صلاته في المسجد إلا المكتوبة . فأما إن تعطلت الجماعة بانفراده ، فصلاته جماعة أفضل لما في تعطيلها من إطفاء نور المساجد ، وترك السنة المأثورة .

Artinya; Pendapat pertama, pendapat ini menyatakan bahwa shalat tarawih di rumah lebih utama daripada di masjid. Alasannya, shalat tarawih termasuk shalat sunnah nan seyogianya untuk pelaksanaannya secara sendirian. Hal ini sejalan dengan rekomendasi untuk mengerjakan shalat witir dan dua rakaat shalat fajar di rumah. Pendapat ini merupakan dalil dari Abu Abbas bin Surayj.

Pendapat Kedua, pendapat ini menyatakan bahwa salat tarawih di rumah lebih utama daripada di masjid selama tidak menyebabkan hilangnya jamaah di masjid. Pandangan ini merupakan pendapat kebanyakan ulama. Alasan utama adalah hadits nan riwayat oleh Zaid bin Tsabit, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, lantaran salat seseorang di rumahnya lebih utama daripada salat di masjid, selain salat fardhu.”

Namun, jika shalat tarawih di rumah menyebabkan hilangnya jamaah di masjid, maka salat tarawih di masjid menjadi lebih utama. Hal ini lantaran hilangnya jamaah di masjid dapat menyebabkan padamnya sinar masjid dan tinggalnya sunnah Nabi Muhammad SAW.

Demikian penjelasan norma shalat tarawih sendirian. Semoga bermanfaat. [Baca juga: 3 Hadits Puasa Ramadhan]

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah