Hukum Shalat Tarawih Tanpa Istirahat

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Kincaimedia– Bagaimana norma shalat tarawih tanpa istirahat? Kita tahu, secara bahasa tarawih adalah plural dari kata “tarwih” nan berfaedah rehat alias tempat peristirahatan musafir. Shalat malam di bulan Ramadhan disebut tarawih lantaran dalam tiap-tiap dua rakaat dianjurkan untuk melakukan istirahat.

Namun, kenyataannya (khususnya di Indonesia), shalat tarawih dilakukan dengan sangat sigap (patas), sehingga kadang- kadang menghilangkan thuma’ninah, syarat, dan sunnah-sunnah shalat (seperti membaca subhana rabbiyal a’la wa bi hamdihi hanya satu kali dan lain-lain).

Pertanyaannya adalah norma shalat tarawih dengan tanpa istirahat? Dan apakah shalat tarawih nan dilakukan di Indonesia sebagaimana penjelasan dalam kitab-kitab fikih dapat disebut dengan salat tarawih?

Jika ditelisik lebih jauh, menurut sebagian ulama, “tarawih” berasal dari kata “tarwih” yang berfaedah rehat alias tempat istirahat. Itu berarti, menurut pendapat ini, shalat tarawih adalah salat nan diselingi rehat di setiap dua rakaat satu salam. Jadi, shalat nan biasa dilakukan masyarakat saat ini tidak disebut shalat tarawih. Tetapi disebut shalat al-lail ialah salat malam di bulan Ramadhan.

Namun demikian, menurut ustadz lain, kata “tarawih” berasal dari kata murawahah nan berfaedah mengulang-ulang. Oleh lantaran itu, menurut pendapat ini shalat nan dipraktikkan masyarakat selama ini tetap disebut shalat tarawih menurut pendapat ini. Dalam kitab Al-Mubda’ dikatakan:

المبدع في شرح المقنع (٢/٢١)

عَدَدُ رَكَعَاتِ التَّرَاوِيح]. (ثُمَّ التَّرَاوِيحُ) : سُمِّيَتْ بِهِ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَجْلِسُونَ بَيْنَ كُلِّ أَرْبَعٍ يَسْتَرِيحُونَ، وَقِيلَ: لِأَنَّهَا مُشْتَقَّةٌ مِنَ الْمُرَاوَحَةِ ؛ وَهِيَ التَّكْرَارُ فِي الْفِعْلِ؛ وَهِيَ سُنَّةٌ سَنَّهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَيْسَتْ مُحْدَثَةً لِعُمَرَ؛ وَهِيَ مِنْ أَعْلَامِ الدِّينِ الظَّاهِرَةِ.

Artinya: “Shalat tarawih adalah shalat nan dilaksanakan di malam-malam bulan Ramadhan secara berjama’ah. Setelah itu, diteruskan dengan shalat witir secara berjama’ah. Shalat tarawih dinamakan “tarawih” lantaran umat Islam duduk di antara empat raka’at untuk istirahat. 

Ada juga nan menyatakan bahwa kata “tarawih” diambil dari kata “murawahah” nan berarti berkali-kali dalam berbuat. Shalat tarawih disunnahkan lantaran Rasulullah Saw. Juga melaksanakannya, bukan semata-mata rekaan Umar ra. Shalat tarawih adalah bagian dari pokok-pokok aliran kepercayaan Islam nan zhahir.”

Dikatakan di dalam kitab Khasiyah Al-Bujairimi:

حاشية البحيرمي على الخطيب (١/٤٢١)

وتسَنُ الْجَمَاعَةُ فِيهَا؛ لِأَنَّ عُمَرَ جَمَعَ النَّاسَ عَلَى قِيَامِ شَهْرٍ رَمَضَانَ: الرِّجَالَ عَلَى أَبي بْنِ كَعْبٍ، وَالنِّسَاءَ عَلَى سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي حَثمَةَ، وَسُمِّيَتْ كُلُّ أَرْبَعٍ مِنْهَا ترويحة؛ لِأَنَّهُمْ كَانُوا يَتَرَوَّحُونَ عَقِبَهَا أَيْ يَسْتَرِيحُونَ

Artinya: “Shalat tarawih secara berjama’ah adalah disunnahkan lantaran Umar ra. Mengumpulkan manusia untuk menghidupkan malam (bulan Ramadhan). Para laki-laki bermakmum pada Ubay Ibn Ka’ab dan nan wanita bermakmum pada Sulaiman Ibn Abi Hatsmah. Salat ini disebut dengan “tarawih” lantaran para sahabat nan shalat ketika itu senantiasa beristirahat sesaat setelah shalat tarawih.”

Lalu gimana jika tarawih delapan rakaat?

Jika ditanya, lebih baik mana shalat tarawih delapan rakaat bakal tetapi disertai melaksanakan syarat, rukun, dan sunnah- sunnahnya secara sempurna, dibandingkan dua puluh rakaat nan dilaksanakan dengan sigap seperti nan terjadi di kebanyakan masyarakat?

Dalam perihal ini, Dr. Yusuf al-Qardhawi mengatakan, bahwa shalat tarawih 8 rakaat dengan memperpanjang referensi al-Qur’an saat berdiri lebih utama dari pada 20 rakaat nan dilakukan dengan sangat cepat. Tetapi, nan jelas, tidak ada ketentuan bilangan rakaat dari Rasulullah Saw. Berapa rakaat pun seorang melakukan shalat tarawih sama-sama baik asalkan dilakukan dengan khusyu’ dan benar.

Bukankah di dalam kitab Tuhfatul Muhtaj sudah jelas:

تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي (٢/٢٢٥)

(قَوْلُهُ: وَكَذَا مَنْ أَتَى بِبَعْضِ التَّرَاوِيحِ) أَيْ كَالِاقْتِصَارِ عَلَى الثَّمَانِيَةِ فَيُثابُ عَلَيْهِمْ ثَوَابَ كَوْنِهَا مِنْ التَّرَاوِيحِ، وَإِنْ قَصَدَ ابْتِدَاء الاقْتِصَارَ عَلَيْهَا كَمَا هُوَ الْمُعْتَادُ فِي بَعْضِ الْأَقْطَارِ

Artinya: “Demikian pula, seseorang nan melaksanakan sebagian shalat tarawih, ialah seperti meringkas menjadi delapan rakaat, maka tetap mendapatkan pahala lantaran eksistensi (adanya) delapan rakaat tersebut merupakan (tanda) shalat tarawih, sekalipun pada mulanya dia memang beriktikad meringkas tarawih sebagaimana nan telah dilakukan di sebagian daerah- daerah.”

Juga dalam kitab Fiqhus Siyam dikatakan:

فقه الصيام (ص: ١٠٧)

وَالصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ وَلَمْ يَرِدْ تَحْدِيدُ الْعَدَدِ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ بِمِقْدَارٍ مُعَيَّنٍ فَلَا مَعْنَى لِإِنْكَارِ بَعْضِ العُلَمَاءِ المَعَاصِرِينَ عَلَى مَنْ صَلَّى عِشْرِيْنَ أَنَّهُ خَالَفَ السنَّةَ وَالهُدَى النَّبَوِيِّ أَوْ صَلَّى ثَمَانِيَا أَنَّهُ خَالَفَ المَأْثُورَ عَنْ سَلَفِ الأُمَّةِ وَخَلَفِهَا. وَإِنْ كَانَ الْأَحَبُّ إِلَيَّ هُوَ مَا كَانَ عَلَيْهِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يرضى له إلا الأَفْضَلَ وَذَلِكَ إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً بالوتر مَعَ تَطويل القِرَاءَةِ وَالصَّلاةِ، وَالَّذِي يَجِبُ إِنْكَارُهُ مِنَ الجَمِيعِ تِلْكَ الصَّلَاةُ الَّتِي تُؤَدَّى فِي بَعْضٍ مساجد المسلِمِينَ وَكَأَنْ يَلْهَبَ ظُهُورَهُمْ سَوْطَ يَسُوقُهُمْ إِلَى الفَراغ مِنْهَا وَهِيَ عشرينَ رَكْعَةً فِي أَقَلَّ مِنْ ثُلُثِ سَاعَةٍ, وَاللهُ يَقُولُ قَدْ أَفْلَحَ المُؤْمِنُونَ الَّذِينَ فِي صلاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ (المؤمنون (١-٢)

Artinya: “Shalat merupakan ibadah nan paling baik, tidak terdapat batas tertentu jumlah rakaat nan mesti dilakukan pada bulan Ramadhan dan selain Ramadhan. Oleh lantaran itu, tak jadi masalah andaikan sebagian ustadz kontemporer mengingkari terhadap penyelenggaraan salat (tarawih) dua puluh rakaat bahwasanya dia menyalahi sunnah dan petunjuk Nabi Saw. 

Atau shalat delapan rakaat dengan menyalahi nan dilakukan para ustadz salaf dan setelahnya, walaupun Aku lebih menyukai sesuatu nan dilakukan Nabi Saw Allah Swt. Meridhai nan lebih utama ialah salat dua puluh satu rakaat plus witir dengan memperpanjang referensi dan shalat. 

Yang wajib diingkari adalah shalat nan dilaksanakan di sebagian masjid orang Islam nan dilakukan dengan tergesa-gesa agar selesai. Dua puluh rakaat dilaksanakan kurang dari 1/3 jam, Allah berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang nan beriman, ialah orang-orang nan khusyu’ dalam shalatnya.”

Demikian penjelasan mengenai norma shalat Tarawih tanpa istirahat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawaab. [Baca juga: Doa Setelah Salat Tarawih]

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah