Hukum Talak Dengan Isyarat, Jatuhkah?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia – Istilah talak dalam Islam diartikan sebagai pemutusan tali pernikahan. Sedangkan secara syariat, talak mempunyai makna melepas ikatan akad pernikahan dengan kalimat talak alias kalimat nan sejenis tetapi tetap dengan maksud nan sama. Lantas gimana norma talak dengan isyarat, jatuhkah?

Dari segi pengucapan lafazhnya, talak terbagi menjaid dua. Yaitu talak dengan lafazh sharih dan kinayah. Talak dengan lafazh sharih dartikan sebagai ucapan talak nan diucapkan dengan lafazh nan jelas. Seperti “saya talak engkau..” dan sebagainya. 

Sedangkan talak dengan lafzah kinayah diartikan sebagai ucapan talak dengan menggunakan lafazh sindiran, alias lafazh nan mempunyai makna talak alias makna nan lain. Sehingga dibutuhkan niat dalam mengucapkannya. Seperti Ketika suami mengatakan kepada istrinya, “kembalilah engkau kepada orangtuamu” dan sebagainya. 

Lantas gimana jika suami merupakan seorang nan tunawicara alias bisu?, Bagaimana langkah si suami untuk menceraikan istrinya? Sedangkan nan kita pahami bahwa seorang tunawicara hanya bisa berinteraksi melalui isyarat saja. 

Mengenai persoalan tersebut, terdapat satu penjelasan dalam kitab Al Hawi Al Kabir sebagaimana berikut:

فَأَمَّا الْإِشَارَةُ بِالطَّلَاقِ، فَإِنْ كَانَتْ مِنَ الْأَخْرَسِ، قَامَتْ مَقَامَ نُطْقِهِ، وَوَقَعَ الطَّلَاقُ بِإِشَارَتِهِ كَمَا يَقَعُ طَلَاقُ النَّاطِقِ بِلَفْظِهِ، إِذَا كَانَتْ إِشَارَتُهُ مَفْهُومَةً، وَتَكُونُ الْإِشَارَةُ مِنْهُ طَلَاقًا صَرِيحًا وَإِنْ كَانَتِ الْإِشَارَةُ مِنْ نَاطِقٍ، لَمْ يَقَعْ بِهَا الطَّلَاقُ لَا صَرِيحًا وَلَا كِنَايَةً، لِأَنَّهُ قَادِرٌ عَلَى الْكَلَامِ الَّذِي هُوَ بِالطَّلَاقِ أَخَصُّ

Artinya: “Adapun Talak dengan isyarat, Jika isyarat perceraian dilakukan oleh orang bisu, maka isyarat tersebut menggantikan ucapannya, dan perceraian terjadi dengan isyaratnya seperti halnya perceraian orang nan dapat berbincang dengan ucapannya, jika isyaratnya dapat dipahami. Isyarat dari orang bisu adalah perceraian nan jelas. 

Jika isyarat perceraian dilakukan oleh orang nan dapat berbicara, maka perceraian tidak terjadi dengan isyarat tersebut, baik secara jelas maupun kiasan, lantaran dia bisa untuk berbicara, nan lebih spesifik untuk perceraian” (Abul Hasan Ali bin Muhammad al Mawardi, Al Hawi Al Kabir fii Fiqh Mazhab Al Imam Al Syafi’i, juz 10, perihal 71)

Merujuk pada penjelasan tersebut, dapat di pahami bahwa kebolehan menjatuhkan talak melalui isyarat hanya diperuntukkan untuk seorang nan mempunyai keterbatasan dalam berbicara, seperti seorang tunawicaara. Sedangkan jika dilakukan oleh seorang nan dapat berbicara, maka talak alias perceraian tidak jatuh.karena dia tetap mempunyai keahlian untuk mengucapkan kata talak melalui ucapan. Kebolehan talak menggunakan isyarat ini juga terdapat dalam kitab Hasyiyah Al Jamal:

)وَيُعْتَدُّ بِإِشَارَةِ أَخْرَسَ ( ، وَإِنْ قَدَرَ عَلَى الْكِتَابَةِ فِي طَلَاقٍ وَغَيْرِهِ كَبَيْعٍ وَنِكَاحٍ وَإِقْرَارٍ وَدَعْوَى وَعِتْقٍ لِلضَّرُورَةِ

Artinya: “(Isyarat tunawicara itu dipertimbangkan) meskipun dia bisa menuliskan talak2 dan lainnya seperti jual-beli, nikah, pengakuan, gugatan, dan memerdekakan lantaran darurat.” (Sulaiman bin Umar Al-Ujaili Al-Jamal, Hasyiyah Al Jamal Ala Syarh Al Minhaj, juz 4, hal. 332)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seorang suami tunawicara boleh menjatuhkan talak dengan tulisan maupun isyarat. Meskipun begitu, norma bolehnya menjatuhkan talak dengan isyarat ini juga mempunyai perincian. Terdapat dua perihal nan kudu diperhatikan jika menjatuhkan talak dengan isyarat:

Pertama, jika isyarat talak oleh suami tunawicara tersebut hanya dipahami dirinya, maka dibutuhkan niat. Karena termasuk talak kinayah.

Kedua, jika isyarat talak oleh suami tunawicara tersebut dapat dipahami oleh kedua belah pihak, maka talak tersebut jatuh meski tanpa adanya niat. Karena termasuk talak sharih.

Hal ini sebagaimana nan tertulis di kalimat selanjutnya dalam kitab nan sama, ialah Hasyiyah Al Jamal:

)فَإِنْ فَهِمَهَا كُلُّ أَحَدٍ فَصَرِيحَةٌ وَإِلَّا ( بِأَنْ اخْتَصَّ بِفَهْمِهَا فَطِنُونَ ) فَكِنَايَةٌ ( تَحْتَاجُ إلَى نِيَّةٍ

Artinya: “(Jika semua pihak memahami talaknya dengan isyarat itu, maka termasuk talak sharih, dan jika tidak) seperti pemahamannya terbatas padanya, maka itu dugaan, sehingga menjadi (talak kinayah) nan memerlukan niat.” (Sulaiman bin Umar Al-Ujaili Al-Jamal, Hasyiyah Al Jamal Ala Syarh Al Minhaj, juz 4, hal. 332)

Demikian penjelasan mengenai norma jatuhnya talak dengan isyarat, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah