Imam Al Ghazali Juga Sampaikan Prinsip Ekonomi Dan Hakikat Kekayaan, Ini Penjelasannya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, Imam Al Ghazali merupakan seorang ahli filsafat Islam nan banyak menguasai bagian keilmuan, baik pengetahuan filsafat, pengetahuan sufisme, pengetahuan fiqih, dan ilmu-ilmu lainnya.

Abu Hamid Muhammad Al Tusi Al Ghazali (1058- 1111 M) alias nan lebih di kenal dengan nama Imam Al Ghazali, lahir pada tahun 1058, di Desa Al Ghazalah, sebuah wilayah nan terletak di bagian utara Iran. 

Buah pemikirannya tak hanya di bagian tasawuf dan filsfaat, tetapi juga bagian ekonomi. Ini dapat pula dilihat dari mahakaryanya Ihya Ulumiddin. 

Filosofi Ekonomi Imam Al-Ghazali Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan aktivitas ekonomi setiap manusia adalah menuju hari akhir alias hari pembalasan. Menurutnya, makna sebuah kekayaan adalah pencapaian menuju kesuksesan hidup nan abadi.

Kekayaan dalam filosofi hidup kudu diwujudkan dalam konsep tauhid (mengesakan Allah SWT), alambaka (hari pembalasan), dan risalah (aturan-aturan nan dicontohkan oleh Rasulullah SAW), nan dibuktikan dengan kebaikan perbuatan. 

Dalam konteks filosofi, Al Ghazali membagi pelaku-pelaku ekonomi/masyarakat alias perseorangan menjadi tiga golongan besar (lihat tabel 1), yaitu: pertama, golongan ma syarakat nan secara ekonomi berkecukupan, tetapi mereka melupakan terhadap tem pat mereka bakal kembali, ialah alam akhirat. Mereka adalah golongan masya rakat nan bakal sengsara hidupnya.

Kedua, golongan masyarakat nan selalu memperhatikan dalam menjaga aktivitas perekonomiannya dengan alam akhirat. 

Kelompok masyarakat ini adalah golongan masyarakat nan sukses/selamat dalam hidupnya. Ketiga, golongan masyarakat nan ragu-ragu menghubungkan aktivitas perekonomiannya dengan alam akhirat. 

Kelompok masyarakat ini adalah golongan masyarakat nan men dekati jalan tengah/jalan kebaikan. Kebutuhan pengetahuan ekonomi Islam Al-Ghazali sangat memerhatikan pentingnya pengetahuan pengetahuan bagi setiap umat manusia nan hidup di dunia, termasuk dalam mengatur aktivitas kehidupan sosialeko nomi (mu’amalat).

Seperti nan tertera dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW, tentang keistimewaan ilmu, nan bersuara Mencari pengetahuan adalah hukumnya wajib bagi setiap Muslim laki-laki dan muslim wanita (Al Hadits). 

Dia memandang norma-norma, nilai-nilai dan aturan-aturan Is lam nan ada dalam Alquran dan hadits nan menyangkut aktivitas perekonomian adalah sesuatu nan absolut diketahui dan di jalankan oleh setiap manusia nan meng inginkan kehidupan nan sukses alias penuh keberkahan.

Al-Ghazali mengingatkan beberapa perihal pokok nan wajib diketahui oleh setiap perseorangan dalam menjalankan aktivitas perekonomian mereka, ialah pengaturan Islam tentang ba’i (jual-beli /perniagaan), riba (bunga), salam (pembelian di muka), ijarah (persewaan), musyarakah (kerjasama), dan mudharabah (bagi hasil). 

Pada prinsipnya aktivitas perekenomian tersebut kudu dijalankan sesuai dengan patokan nan tertera dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. 

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam