Kincai Media , JAKARTA -- Shalat menempati posisi yang tinggi dalam perspektif aliran Islam. Namun, tidak semua penyelenggaraan ibadah itu mempunyai kualitas yang sama.
Ada orang yang mendirikan shalat sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Ada pula yang beragama itu untuk berupaya membersihkan hatinya dan mendekatkan diri kepada ridha Allah.
Tidak ada kode iklan yang tersedia.Ulama besar dari abad ke-11, Imam Ghazali, meletakkan perhatian serius pada soa kualitas shalat. Dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulum ad-Din, dia menunjukkan langkah menjadikan shalat tak sekadar rutinitas, melainkan pengalaman spiritual yang menghidupkan hati dan menenteramkan jiwa.
Menurut Imam Ghazali, kualitas shalat seseorang mencerminkan kondisi hatinya. Bila hatinya lalai dari mengingat Allah, shalat yang dilakukannya pun bakal kosong dari makna. Sebaliknya, jika hati hidup, shalat bakal menjadi jembatan menuju ridha Allah.
“Ketahuilah, prinsip shalat adalah hadirnya hati di hadapan Allah. Siapa yang berdiri dalam shalat sementara hatinya beralih kepada dunia, maka dia seperti tubuh tanpa ruh,” tulis Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din.
Lebih lanjut, Imam Ghazali membagi kualitas shalat menjadi tujuh tingkatan, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Setiap tingkat menunjukkan kedalaman hubungan seorang hamba Allah dengan Tuhannya.
Shalat orang lalai (ghafil)
Dalam tingkatan ini orang hanya menjalankan aktivitas lahiriah tanpa kesadaran makna.
Shalat orang yang sadar secara lahir
Dalam tingkatan ini, seorang hamba yang menunaikan shalat dengan betul sesuai syariat, tetapi hati tetap sering melayang.
Shalat orang yang menjaga kehadiran hati
Dalam tingkatan ini, seorang hamba sudah mulai konsentrasi dan memahami bacaan.
Shalat orang yang khusyuk
Di sini, hati seorang hamba sudah tenang, pikiran tertuju penuh kepada Allah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·