Ini Kriteria Memilih Calon Suami Dalam Islam

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kincaimedia – Berikut ini kriteria memilih calon suami dalam Islam. Menikah merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW nan sangat dianjurkan bagi setiap muslim dan muslimah. Bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan biologis, pernikahan adalah ibadah nan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh lantaran itu, dalam memilih pasangan hidup, seseorang haruslah berhati-hati dan memperhatikan kriteria-kriteria nan sesuai dengan hukum Islam.

Namun demikian, banyaknya dalil menunjukkan beberapa kriteria wanita untuk dinikahi. Salah satunya seperti hadits nan diriwayatkan oleh Abu Hurairah: 

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Artinya: “Seorang wanita dinikahi lantaran 4 (empat) hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Karena itu, pilihlah nan mempunyai agama, niscaya kalian bakal beruntung.” (HR. Bukhari No. 5090)

Atau hadits lainnya nan menyebut tentang kriteria wanita nan baik untuk dinikahi seperti hadits tentang rekomendasi menikahi Perempuan nan subur dan penyayang, juga hadits tentang rekomendasi menikahi wanita nan tetap gadis. Lantas, gimana bagi seorang perempuan? gimana kriteria laki laki nan baik untuk dijadikan suami? Berikut beberapa kriteria memilih calon suami nan baik dalam islam:

  1. Seperti Kriteria Memilih Calon Istri

Pada dasarnya, kriteria nan digunakan laki-laki untuk memilih calon istri juga bertindak bagi wanita dan walinya ketika hendak memilih calon suami. Ini berfaedah bahwa wanita dan walinya ketika memilih calon suami kudu mempertimbangkan beberapa faktor, seperti kualitas agama, akhlak, paras, keahlian memberi keturunan, dan sebagainya. 

Sebagaimana nan disebutkan dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj: 

(تَنْبِيهُ) كَمَا يُسَنُ لَهُ تَحَرِّي هَذِهِ الصَّفَاتِ فِيهَا كَذَلِكَ يُسَنُ لَهَا وَلِوَلِيهَا تَحَرَّيْهَا فِيهِ كَمَا هُوَ وَاضِعُ

Artinya: “(Peringatan) Sebagaimana dianjurkan baginya untuk mencari sifat-sifat ini pada calon istrinya, demikian pula dianjurkan bagi wanita dan walinya untuk mencari sifat-sifat tersebut pada calon suaminya, sebagaimana mestinya”. (Ibn Hajar Al Haitami, Tuhfatul  Muhtaj, juz. 7, hal. 190)

  1. Taat Beragama dan Baik Akhlaknya

Seorang wali, khususnya ayah mempunyai peran krusial dalam menentukan kebahagiaan pernikahan putrinya nan tetap gadis. Oleh lantaran itu, wali haruslah jeli dan selektif dalam memilih calon suami bagi putrinya. Hendaknya seorang wali memilih laki laki nan baik agamanya, beradab mulia, dan kebaikannya diakui, sehingga diyakini bisa membina rumah tangga dengan baik. Sebagaimana dalam Hadits nan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِنْ لَا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادُ عَرِيضٌ

Artinya: “Jika datang (untuk melamar putri perwalian kalian) kepada kalian seorang laki laki nan kalian ridhai agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika kalian tidak melakukannya, maka bakal terjadi tuduhan di muka bumi dan kerusakan nan besar”(HR. Tirmidzi no. 1084)

Maksud dari Hadits tersebut adalah jika terdapat seorang laki laki nan kepercayaan dan akhlaknya baik kemudian mau melamar seorang putri alias kerabat kalian, maka hendaknya menerima lamaran tersebut. Sebab jika tidak, maka bakal banyak wanita nan yang tidak menikah, begitu pula laki laki. 

Bahkan penolakan terhadap seorang laki laki lantaran argumen mengenai kekayaan alias kekuasaan (tidak konsentrasi pada kepercayaan dan akhlak) bakal menimbulkan ancaman besar seperti banyaknya tuduhan dan zina nan bakal berakibat pada kejelekan keluarga, terputusnya nasab, serta berkurangnya kebaikan dan iffah.

Inilah nan dimaksud dengan tuduhan dan kerusakan nan besar. (Abu Al Ula Muhammad bin Abdurrahman Al Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jami’ Al Tirmidzi, juz 4, hal.173).

  1. Kafa’ah (Setara)

Penting bagi Perempuan dan wali untuk memilih calon suami nan sepadan (kafa’ah). Hal ini lantaran suami dan istri bakal hidup berdampingan, sehingga pertimbangan kafa’ah menjadi krusial demi menghindari adanya masalah nan timbul di masa depan. Jangan sampai perbedaan ini menyebabkan ketidakharmonisan dan rusaknya rumah tangga. Sebagaimana dalam Hadits Rasulullah SAW bersabda: 

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ، وَأَنْكِحُوا الْأَكْفَاءَ، وَانْكِحُوا إِلَيْهِمْ

Artinya: “Pilihlah istri nan terbaik untuk (kebaikan) anak turun kalian. Maka dari itu, nikahilah wanita nan sederajat dan nikahkanlah (perempuan) dengan nan sederajat” (HR. Ibnu Majah 1968)

  1. Mampu Memberi Nafkah

Kriteria selanjutnya nan kudu dipertimbangkan adalah keahlian untuk memberi nafkah. Memberi nafkah bagi suami adalah wajib, sehingga kemampuannya dalam mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak menjadi pilar utama dalam menunjang kehidupan nan layak dan harmonis. 

Kemampuan ini mencakup pemenuhan kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan sekunder lainnya nan menunjang kualitas hidup. Dengan memilih calon suami nan bisa menafkahi dengan baik, diharapkan bisa mewujudkan family nan harmonis, penuh kasih sayang, dan siap menghadapi beragam rintangan di masa depan. Sebagaimana terdapat dalam QS. An-Nisa ayat 34:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ 

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh lantaran Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian nan lain (wanita), dan lantaran mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari kekayaan mereka” (QS.An-Nisa ayat 34) 

Demikian beberapa kriteria memilih calon suami dalam Islam. Memilih calon suami dalam Islam adalah sebuah keputusan krusial nan perlu dipertimbangkan dengan matang. Islam memberikan pedoman untuk membantu umat muslim dalam memilih pasangan hidup nan ideal, agar pernikahan nan terjalin sesuai dengan hukum dan membawa kebahagiaan di bumi dan akhirat. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah