Isra’ Mi’raj: Ketika Iman Melampaui Batas Logika

Jan 18, 2026 08:25 PM - 4 bulan yang lalu 132366
 Ketika Iman Melampaui Batas LogikaIsra’ Mi’raj: Ketika Iman Melampaui Batas Logika

Kincai Media — Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Peristiwa agung ini diperingati setiap bulan Rajab, menjelang datangnya Ramadhan, sebagai momentum refleksi keagamaan umat Islam.

Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah spiritual, tetapi peristiwa yang disebut langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Al-Isra’: 1)

Ayat ini bukan sekadar narasi tentang mukjizat, melainkan undangan reflektif bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ia mengingatkan bahwa kebenaran Islam tidak selalu dapat diukur dengan logika manusia semata. Sejak awal, kisah Isra’ Mi’raj membawa akibat keimanan: ada yang menerimanya dengan penuh keyakinan, dan ada pula yang menolaknya lantaran terjebak pada logika logis semata.

Perbedaan respons ini bukanlah perihal baru. Ketika berita Isra’ Mi’raj pertama kali tersebar, reaksi umat Islam saat itu pun beragam. Sebagian menerima dengan ketaatan yang mantap, namun tidak sedikit yang merasa keberatan lantaran peristiwa tersebut melampaui pemisah kebiasaan dan kerasionalan manusia. Di sinilah ujian keagamaan sejati bekerja, bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri, ketika seseorang dihadapkan pada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika biasa.

Ketika buletin Isra’ Mi’raj mulai tersebar di Makkah, reaksi yang paling mengkhawatirkan justru bukan datang dari kaum kafir Quraisy. Respons yang memprihatinkan muncul dari sebagian kaum muslim sendiri. Sejarah mencatat sebuah realita pahit: pada pagi hari itu terjadi kejadian murtad secara massal.

Banyak pengikut Nabi Muhammad SAW yang imannya belum kokoh tidak sanggup menahan tekanan sosial dan hinaan kaum kafir. Mereka kandas mendamaikan logika dengan mukjizat. Barisan kaum muslimin pun menyusut. Sebagian kembali pada kekafiran lantaran menganggap Nabi telah kehilangan kewarasannya. Inilah ujian pertama yang muncul setelah peristiwa Isra’ Mi’raj dikabarkan.

Ujian kedua datang melalui siasat kaum musyrikin yang berupaya memanfaatkan momen “ketidaklogisan” peristiwa tersebut. Mereka mendatangi sosok yang dikenal paling pandai dan paling dipercaya oleh Nabi Muhammad SAW, ialah Abu Bakar. Tujuannya jelas: menggoyahkan keyakinannya.

Dengan nada menghasut, mereka berkata,
“Wahai Abu Bakar, temanmu Muhammad mengaku telah pergi ke Palestina dalam satu malam. Masihkah engkau mempercayainya?”

Kaum musyrikin yakin, jika Abu Bakar—tokoh logis dan bijak itu—meragukan cerita ini, maka kepercayaan terhadap Islam bakal runtuh sepenuhnya.

Namun, keagamaan Abu Bakar tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak terjebak dalam perdebatan soal jarak dan waktu. Dengan kepercayaan yang mantap, dia menjawab,
“Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu pasti benar. Aku apalagi mempercayainya dalam perkara yang lebih luar biasa dari itu, ialah buletin dari langit (wahyu) yang datang kepadanya setiap saat.”

Jika kita percaya bahwa Allah bisa menurunkan wahyu dari langit ke bumi dalam sekejap, kenapa kita ragu bahwa Allah bisa memperjalankan hamba-Nya di bumi-Nya sendiri dalam satu malam? Perjalanan Isra’ Mi’raj bukanlah sesuatu yang berat bagi Zat Yang Mengatur seluruh alam semesta. Keraguan muncul bukan lantaran kelemahan peristiwa itu, melainkan lantaran manusia kerap mengukur kuasa Tuhan dengan keterbatasan logika dirinya sendiri.

Sikap Abu Bakar menjadi penyangga utama keutuhan mental umat Islam saat itu. Dua ujian besar sukses dilalui dengan hasil terbaik yang dicatat sejarah. Para sahabat yang sempat murtad kembali merapatkan barisan, dan Abu Bakar memperoleh gelar kekal dari Rasulullah SAW: As-Siddiq, sang pembenar sejati. Gelar ini menjadi saksi sejarah bahwa dia pernah menghadirkan sinar di saat keagamaan kaum muslimin nyaris padam.

Tak lama kemudian, bukti nyata pun hadir. Nabi Muhammad SAW, yang sempat diragukan kewarasannya, bisa menggambarkan secara rinci pintu, tiang, dan struktur Masjidil Aqsa dengan presisi, seolah-olah baru saja berada di sana.

Ia juga memprediksi kehadiran kafilah jual beli yang kemudian terbukti benar. Saat itu, para penentang terdiam. Logika mereka runtuh, dan kaum muslimin pun bersukacita. Iman telah menang atas keraguan.

Isra’ Mi’raj mengajarkan satu pelajaran penting: logika mempunyai batas, tetapi ketaatan bisa melampauinya. Maka, belajarlah dari Abu Bakar. Ketika bumi meragukan kebenaran, jadilah orang pertama yang berdiri tegak membelanya.

Selengkapnya