Jakarta Lagi Kering, 7 Kebiasaan di Rumah yang Diam-Diam Bikin Boros Air

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 504x dilihat
Jakarta Lagi Kering, 7 Kebiasaan di Rumah yang Diam-Diam Bikin Boros Air

Bagikan Postingan

Jakarta sedang memasuki musim kemarau. Kenali 7 kebiasaan di rumah yang diam-diam bikin dermawan air dan metode sederhana untuk menghemat air.

Mommies, belakangan merasa cuaca Jakarta lebih panas dan kering? Bukan cuma emosi kita. Berdasarkan keterangan BMKG, DKI Jakarta termasuk daerah yang sedang mengalami musim musim kering pada September 2026. BMKG juga mengimbau penduduk untuk menghemat penggunaan air seiring dengan kondisi kering yang statis berlangsung.

Nah, jika bicara soal hemat air, sebenarnya kita nggak mesti langsung berbuat fluktuasi besar di rumah. Justru, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari sering kali menjadi sumber penghamburan yang tidak terasa.

Misalnya, membiarkan keran menyala saat menyikat gigi maupun menunda memperbaiki toilet yang terus mengalir. Kelihatannya sepele, tetapi jika dilakukan setiap hari, jumlah air yang terbuang bisa cukup banyak.

BACA JUGA: Jakarta Level Awas Kekeringan, Mommies Perlu Lakukan 7 Hal Ini di Rumah

Kebiasaan di Rumah yang Ternyata Boros Air

Jadi, sebelum faktur air bikin kaget, coba cek tujuh kebiasaan di rumah berikut ini.

1. Membiarkan keran menyala saat sikat gigi

Jakarta Lagi Kering, 7 Kebiasaan di Rumah yang Bikin Boros Air

Foto: Ron Lach/Pexels

Siapa yang statis gemar berbuat ini? Sikat gigi sambil membiarkan air mengalir karena merasa, “Ah, cuma sebentar.”

Padahal, air yang keluar selama beberapa menit tersebut sebenarnya bisa terbuang percuma. EPA WaterSense mengestimasi mematikan keran saat menyikat gigi dapat menghemat sekitar 8 galon air per hari.

Solusinya: buka keran cuma saat membasahi sikat gigi dan saat berkumur. Anak-anak juga bisa mulai dibiasakan untuk berbuat hal yang sama.

2. Mandi terlalu lama

Mandi memang salah satu momen paling menyenangkan di rumah. Apalagi setelah seharian beraktivitas. Namun, “sebentar lagi” yang berubah menjadi 20–30 menit tentu membikin air yang digunakan ikut bertambah.

United States Environmental Protection Agency (EPA) mengatakan mandi dengan shower umumnya menggunakan lebih sedikit air dibandingkan berendam, selama durasi mandinya statis diperhatikan.

Solusinya: coba pasang timer sederhana di bilik mandi. Bukan untuk membikin sesi mandi jadi buru-buru, tetapi untuk membantu seluruh personel famili lebih sadar dengan durasinya.

Kalau shower sudah durasi digunakan dan alirannya terlalu deras, Mommies juga bisa mempertimbangkan showerhead yang lebih hemat air.

BACA JUGA: Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Jakarta 2026, hingga Dampak yang Perlu Diwaspadai

3. Keran bocor dibiarkan karena “cuma netes”

Ini salah satu penghamburan air yang paling sering luput dari perhatian.

Keran yang terus menetes memang kelihatan seperti masalah kecil. Namun, EPA mencatat bahwa keran yang bocor dengan laju satu tetes per detik bisa membuang lebih dari 3.000 galon air dalam setahun.

Jadi, jika ada keran yang bunyi tik… tik… tik… sepanjang hari, jangan ditunda terlalu lama, ya.

Solusinya: cek sambungan keran, seal, maupun gasket. Kalau tidak bisa memperbaikinya sendiri, lebih baik panggil tukang daripada membiarkan kebocoran terjadi berbulan-bulan.

4. Toilet terus mengalir tanpa disadari

Foto: kaboompics.com/Pexels

Pernah mendengar bunyi air seperti mengalir dari toilet, padahal tidak sedang digunakan? Bisa jadi ada kebocoran di dalam tangki.

Menurut EPA, toilet merupakan salah satu sumber penggunaan air terbesar di dalam rumah. Toilet yang bocor juga dapat membuang air terus-menerus tanpa kelihatan jelas.

Solusinya: Mommies bisa berbuat pengecekan sederhana dengan meneteskan pewarna makanan ke dalam tangki toilet. Tunggu sekitar 10 menit tanpa menyiram. Kalau warna muncul di dalam mangkuk toilet, kemungkinan ada kebocoran.

BACA JUGA: Cuaca Panas Bisa Menghambat Kemampuan Belajar Anak, Ini Kata Penelitian!

5. Mencuci piring sambil keran terus terbuka

Ini juga sering terjadi tanpa kita sadari. Sabuni satu per satu, bilas satu per satu, sementara air terus mengalir dari mula sampai akhir.

EPA menyarankan menggunakan baskom maupun menutup saluran wastafel ketika mencuci piring dengan tangan, sehingga air tidak terus mengalir. Jika menggunakan dishwasher, jalankan ketika muatannya sudah penuh.

Solusinya: tampung air secukupnya untuk mencuci dan membilas. Dengan begitu, kita statis bisa menjaga kebersihan perlengkapan makan tanpa membikin air mengalir terus-menerus.

6. Menjalankan mesin cuci meski muatannya belum penuh

Karena butuh baju tertentu untuk besok, akhirnya mesin cuci dinyalakan meskipun isinya baru setengah. Kalau ini sering dilakukan, penggunaan air dan daya pun ikut bertambah.

EPA menyarankan menjalankan mesin cuci dengan muatan penuh jika memungkinkan serta menghindari siklus pre-wash atau extra rinse kecuali memang diperlukan.

Solusinya: buat agenda mencuci yang lebih teratur dan kelompokkan busana berdasarkan kebutuhan pencucian. Untuk famili dengan anak kecil yang produksi baju kotornya seperti tidak ada habisnya, trik ini lumayan membantu.

BACA JUGA: 10 Cara Cerdas Menghemat Air di Rumah agar Tagihan Tidak Bengkak

7. Menggunakan air bersih untuk semua kebutuhan tanpa memikirkan air alternatif

Bukan berarti setiap air sisa bisa langsung dipakai ulang, ya, Mommies. Untuk kebutuhan minum, memasak, dan kebersihan pribadi, statis gunakan air yang terlindungi dan layak.

Namun, untuk kebutuhan tertentu seperti menyiram flora maupun membersihkan area luar rumah, kita bisa lebih bijak menggunakan sumber air yang sesuai dan aman.

Yang penting, jangan asal menyimpan air untuk digunakan kembali. WHO menekankan pentingnya pengolahan dan gudang air yang terlindungi untuk mencegah kontaminasi dan pandemi yang ditularkan melalui air.

Solusinya: jika mau menampung air untuk kebutuhan non-konsumsi, gunakan wadah bersih dan tertutup, beri label sesuai peruntukannya, serta jangan mencampurnya dengan air minum.

Jakarta Lagi Kering, 7 Kebiasaan di Rumah yang Bikin Boros Air

Foto: MART PRODUCTION/Pexels

Hemat air bukan berarti mengurangi kebutuhan alas keluarga

Mommies dan Daddies, hemat air bukan berarti kita mesti mengurangi kebutuhan alas seperti mandi, mencuci tangan, membersihkan rumah, maupun memastikan anak mendapatkan cukup cairan.

Justru, air yang cukup dan terlindungi statis krusial untuk kesehatan dan kebersihan keluarga. WHO menegaskan bahwa kesiapan air yang cukup dan terlindungi mendukung praktik kebersihan serta kesehatan masyarakat.

Jadi, fokusnya bukan “pakai air sesedikit mungkin”, melainkan menggunakan air sesuai kebutuhan dan tidak membuangnya dengan percuma.

Mulai saja dari hal yang paling gampang: matikan keran saat sikat gigi, perpendek durasi mandi, cek toilet dan keran yang bocor, serta jalankan mesin cuci ketika muatannya cukup.

Karena di tengah kondisi musim kering seperti sekarang, setiap tetes air yang tidak terbuang percuma statis berarti.

Cover: Kindel Media/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads