Jangan Khawatir, Keringat Ikhtiar Suami Cari Nafkah Dibayar Allah Dengan Ini

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Keringat seorang suami dalam berupaya mencari nafkah untuk istri dan anak-anak dibayar Allah dengan langkah nan luar biasa. Ikhtiar suami ini diganti dengan apa?

Dalam hadits nan diriwayatkan dari Abu Mas'ud Al Badri, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

- إنَّ المُسْلِمَ إذا أنْفَقَ علَى أهْلِهِ نَفَقَةً، وهو يَحْتَسِبُها، كانَتْ له صَدَقَةً.

"Jika seorang Muslim memberi nafkah kepada keluarganya lantaran Allah, maka pahala nafkahnya itu sama dengan pahala sedekah." (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan, berinfak alias mengeluarkan kekayaan lantaran Allah SWT adalah salah satu corak kebaikan shaleh nan paling baik. Infak sendiri mempunyai banyak bentuknya dan dibedakan menurut nilainya, situasi dan keadaan.

Di antara jenis infak terbaik adalah memberi nafkah kepada keluarga, tanggungan, alias kerabat. Adapun menyia-nyiakan kebaikan shaleh tersebut merupakan dosa besar.

Dalam sabda ini, Rasulullah SAW memberitahukan, seorang suami, mempunyai tanggungjawab menafkahi personil keluarga, seperti istri, anak, dan kerabat lainnya.

Pengeluaran kekayaan alias duit untuk mereka, baik mini maupun besar, diniatkan untuk mencapai keridhaan Allah SWT. Pemberian nafkah kepada family merupakan ibadah nan baik di sisi Allah.

Amal shaleh tersebut diganjar dengan pahala infak dan pahala besar. Ini lantaran dia mengeluarkan hartanya sebagai nafkah kepada keluarga. Tidak hanya itu, dengan memberikan nafkah kepada keluarga, maka Allah SWT bakal mengampuni dosa-dosa suami tersebut.

Allah SWT bakal memperkaya para suami lantaran kebaikan shaleh nan telah dikerjakan, misalnya seharian kerja berkeringat banting tulang. Adapun makna sabda tersebut bukan berfaedah memberi nafkah kepada family itu hukumnya sama dengan sedekah, melainkan hanya afinitas berasas pahala.

Dalam teks sabda disebutkan bahwa pahala memberi nafkah kepada family hanya diperoleh jika niat tulus lantaran Allah SWT. Hadits ini juga mengandung pesan bahwa seorang Muslim kudu mempunyai niat nan baik dalam segala amalnya, dan mempertimbangkan niat nan ada dalam hati dalam setiap perbuatan, sehingga memasuki keagamaan nan dalam dan ibadah lainnya.

Kewajiban seorang suami adalah memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya, sebagaimana Allah SWT berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi wanita (istri), lantaran Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian nan lain (perempuan), dan lantaran mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan nan saleh adalah mereka nan alim (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, lantaran Allah telah menjaga (mereka)." (QS An-Nisa ayat 34)

Terhadap ayat tersebut, para ustadz tafsir menyampaikan bahwa suami mempunyai tanggung jawab menafkahi istrinya. Para ustadz juga sepakat, nafkah nan diberikan oleh suami kepada istri dan anak-anaknya adalah tanggungjawab individu.

Allah SWT berfirman, "...Dan tanggungjawab ayah menanggung nafkah dan busana mereka dengan langkah nan patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya..." (QS Al-Baqarah Ayat 233)

Allah SWT juga berfirman, "Hendaklah orang nan mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang nan terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari kekayaan nan diberikan Allah kepadanya..." (QS At-Thalaq ayat 7)

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam