Jangan Lewatkan, Puasa Syawal Masih Bisa Dilakukan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA — Islam menganjurkan umatnya untuk istiqomah melakukan puasa sunnah di bulan syawal. Mereka nan istiqomah berpuasa syawal setelah puasa Ramadhan, bakal mendapatkan pahala puasa seolah berpuasa setahun lamanya.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 Artinya: "Sungguh Rasulullah SAW bersabda, "Siapa nan berpuasa Ramadhan, kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)

 Dari Tsauban ra, Rasulullah SAW bersabda: 

 “Barang siapa nan berpuasa Ramadhan (maka setara) dengan sepuluh bulan dan berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka itulah nan disebut shiyamus-sunah (puasa setahun penuh).” (HR Ahmad, Ibnu Maja, dan Nasai)  

 Mengapa demikian? Dikutip dari kitab “Rahasia Puasa Sunah” karya Ahmad Syahirul Ali, keistimewaan bulan Syawal terdapat pada letaknya tepat setelah bulan Ramadan. Pada bulan Ramadan, Islam didorong untuk berlomba-lomba melakukan ikan dan meraih pembebasan dan ridha Allah. Selanjutnya, bulan itu ditutup dengan yaumul-fithr (hari berbuka) alias hari Idul Fitri, ialah hari kemenangan bagi orang-orang nan bersungguh-sungguh mengisi Ramadhan dengan ibadah dan ketakwaan.

 “Barang siapa nan berpuasa pada bulan Ramadan dengan ketaatan dan mengharapkan bakal Ridha Allah maka bakal diampuni dosa-dosanya nan telah lalu." (HR. Bukhari Muslim)

 Berakhirnya bulan Ramadan, bukan berfaedah berhujung pula puasa, ketakwaan, dan ibadah-ibadah lainnya. Alangkah baiknya, jika ibadah dan kebiasaan-kebiasaan baik di bulan Ramadan dilanjutkan pada bulan setelahnya. Puasa Syawal adalah pilihan tepat untuk melanjutkan ibadah puasa setelah puasa Ramadhan, karena puasa Syawal merupakan tanda syukur kepada Allah bakal karunia-Nya nan begitu besar pada bulan Ramadan.

Selain itu, melanjutkan ibadah bulan Ramadan dengan berpuasa di bulan Syawal merupakan keutamaan

tersendiri. Bahkan, para ustadz mengibaratkan kedudukan pusa di bulan sya’ban dan syawal bagi puasa Ramadhan seperti shalat rawatib sebelum dan sesudah shalat fardu.

Berpuasa di bulan saywal juga berarti kesiapan seorang hamba untuk menaati hawa napsu nan sudah dilatih selama bulan Ramadhan, sehingga dia bakal terus membawa amalan-amalan kebaikan nan sudah dikerjakannya selama bulan Ramadan. 

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan,: "Wahai anak muda nan bertobat, apakah kalian bakal kembali menyusu pada puting hawa nafsu setelah kalian menyapih diri, sungguh menyusu itu baik untuk anak mini tapi tidak untuk manusia dewasa. Tetapi kalian kudu bersabar dengan pahitnya sapihan, jika kalian bersabar maka lezatnya hawa nafsu bakal berganti dengan manisnya ketaatan di dalam hati."

Menurut para ulama, puasa di bulan Syawal juga merupakan parameter bahwa ibadah kita di bulan Ramadhan tidak sia-sia lantaran di antara tanda-tanda diterimanya ibadah adalah dengan diringankan untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya.

Pelaksanaan Puasa Syawal

Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan tidak ada keistimewaan langkah pertama atas langkah kedua. Sedangkan menurut madzhab Syafi'i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Lebih utama. Jadi, tidak ada madzhab nan tidak membolehkan puasa Syawal di hari selain tanggal 2 sampai 7, selama mash di bulan Syawal. 

Ini artinya, bagi kita nan belum melaksanakan puasa Syawal, tetap ada kesempatan mengerjakannya. Jangan sampai kita tinggalkan sunah puasa Syawal sebagai bukti Istiqamah setelah Ramadan.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam