Jangan Pernah Bosan Dalam Berdoa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Sebagai seorang insan nan menjalani kehidupan ini, kita senantiasa memerlukan pertolongan dari Allah ta’ala, baik untuk mendapatkan perkara nan kita inginkan ataupun menghindari hal-hal nan tidak kita harapkan. Semuanya berada di dalam genggaman tangan Allah, nan Allah bolak-balikkan sesuai kehendakNya. Maka sudah sepantasnya kita senantiasa merengek-rengek di hadapan Allah untuk kedua perihal di atas dan tidak jenuh dalam bermohon kepadaNya.

Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Jala’ul Afham: “Allah menyukai mereka nan merengek-rengek dalam berdoa. Maka dari itu, sebagai bukti kebenaran pengertian ini, Anda menemukan banyak di antara angan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nan berisi uraian kata-kata dan penyebutan setiap makna dengan katanya nan jelas serta tidak cukup hanya ditunjukkan secara implisit oleh kata nan lain. Contohnya seperti dalam sabda Ali radhiyallahu ‘anhu nan diriwayatkan Muslim dalam Sahih-nya (IV/2719):

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمَ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِله إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa nan telah saya lakukan dan nan belum saya perbuat, nan saya rahasiakan dan nan saya nampakkan, nan Engaku lebih mengetahuinya dariku. Engkau nan mendahulukan dan Engkau mengakhirkan, tiada Ilah selain Engkau.” (Di akhir riwayat Muslim “dan Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu.” Bukhari juga meriwayatkannya, XI/ sabda no. 6398, 6399, keduanya dari Abu Musa Al-Asy’ari secara marfu’)

Diketahui, seandainya diucapkan, “Ampunilah segala dosa nan saya perbuat” tentu lebih ringkas. Namun kata-kata dalam sabda ini berada dalam konteks doa, merendahkan diri, dan menampakkan penghambaan serta kebutuhan. Sementara mengungkapkan dengan rinci beragam perihal nan ditaubati hamba lebih baik dan lebih memuaskan dari pada disingkat dan diringkas.

Donasi Operasional YPIA

Baca juga: Bantahan Terhadap Syubhat: ‘Yang Pentingkan Hatinya Baik’

Demikian pula ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda lain:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَّتَهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Ya Allah, ampunilah semua dosa-dosaku, nan mini maupun nan besar, nan rahasia maupun nan nampak, nan awal maupun nan akhir.” (HR. Muslim hadits no. 483, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam sebuah hadis:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهُمَّ اغْفِرْ لِي جَدِّي وَهَزْلِي، وَخَطَئِي وَعَمْدِي، وَكُلَُ ذَلِكَ عِنْدِي

“Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kebodohanku, tindakan melampaui batasku dalam perkaraku dan apa nan Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah, ampunilah kesungguhanku dan main-mainku, ketidak sengajaanku dan kesengajaanku, di mana semua itu ada pada diriku.” (HR. Bukhari XI/hadits no. 6398, 6399 dan Muslim IV/hadis no. 2719, dari Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Perincian seperti ini banyak terjadi dalam doa-doa nan ma’tsur. Doa adalah bentuk penghambaan pada Allah, kebutuhan padaNya, dan menghinakan diri di hadapanNya. Semakin hamba memperbanyaknya, memanjangkannya, mengulang-ngulangnya, menampakkannya, dan memvariasi kalimatnya perihal itu semakin konkrit menunjukkan penghambaannya, penampakan kebutuhannya, kerendahan dirinya, dan keperluannya pada Allah. Itu lebih mendekatkan dirinya pada Rabb dan memperbesar pahalanya. Lain dengan makhluk, semakin sering Anda meminta dan mengulang-ngulang kebutuhanmu padanya, Anda membuatnya bosan, membenci Anda, dan Anda terhina di matanya. Namun semakin Anda tak meminta padanya, itu lebih dia hargai dan lebih dia sukai. Sedang Allah, setiap kali Anda meminta padaNya, Anda lebih dekat padaNya dan Dia lebih mencintai Anda. Semakin Anda merengek-rengek dalam berdoa, Dia bertambah mencintai Anda. Dan siapa tidak meminta padaNya, Dia murka padanya.” (Jala’ul Afham (Terjemah), laman 352-353)

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala,

‎وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepadaKu, niscaya bakal Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang nan menyombongkan diri dari menyembahKu bakal masuk neraka jahannam dalam keadaan buruk dina.” (QS. Ghafir: 60)

Ibnu Katsir mengatakan, “Ini merupakan hidayah dan karunia Allah subhanahu wa ta’ala. Dia anjurkan hamba-hambaNya untuk berdoa, dan Dia menjamin terkabulnya angan tersebut. Sebagaimana nan dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri, “Wahai Dzat nan lebih mencintai hamba-hambaNya nan meminta dan memperbanyak permintaan kepadaNya. Wahai Dzat nan lebih membenci hamba-hambaNya nan tidak meminta kepadaNya. Dan tidak ada selain Engkau nan demikian wahai Rabb.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Senada dengan makna ini, seorang penyair berkata,

اللَّه يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْت سُؤَالَهُ

Allah tidak suka jika kau tinggalkan permohonan kepadaNya

 وَبُنَيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Sedang anak Adam tidak suka jika diminta (Tafsir Ibnu Katsir, VIII/59)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

Baca juga: Hakikat Penciptaan Manusia

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  • Jala’ul Afham (Keutamaan Shalawat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Penerbit Al-Qowam, Sukoharjo
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Terbitan Pustaka Ibnu Katsir Jakarta
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id