Janji-janji Allah Untuk Orang Yang Mau Menikah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Manusia mengalami beberapa fase kehidupan nan dimulai sejak dirinya dilahirkan hingga ajal menjemputnya. Salah satu tahapan nan dialami banyak orang adalah pernikahan. Menikah mempunyai banyak keutamaan, semisal terpelihara diri dan kepercayaan seseorang.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika seorang telah menikah, berfaedah dia telah mencukupi separuh dari agama. Maka hendaklah bertakwa pada Allah dalam menjaga sisanya nan separuh.”

Bila telah siap secara bentuk maupun mental, seorang Muslim dianjurkan untuk menikah. Sebab, itulah salah satu sunah Rasulullah SAW. “Barangsiapa nan suka syariatku, maka hendaklah mengikuti sunahku. Dan bagian dari sunahku adalah menikah” (HR Baihaqi).

Rezeki dicukupkan

Ada banyak janji Allah SWT untuk orang-orang beragama nan menikah. Pertama, Dia bakal mencukupkan bagi mereka rezeki dari jalan nan legal lagi baik. “Dan kawinkanlah orang-orang nan sendirian di antara kamu, dan orang-orang nan layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu nan laki-laki dan hamba-hamba sahayamu nan perempuan. Jika mereka miskin, Allah bakal memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS an-Nur: 32).

“Takut” menikah lantaran merasa tak bakal bisa menafkahi family justru bertolak belakang dengan pesan Rasulullah SAW. Sabda beliau, “Barangsiapa nan takut menikah karena takut miskin, maka bukan umatku” (HR Dailami dan Abu Dawud).

Mendapat pertolongan

Dengan menikah, seseorang dapat menjaga kehormatan dirinya. Allah dan Rasul-Nya menyukai orang-orang nan demikian. Mereka insya Allah bakal mendapatkan banyak kemudahan dari sisi-Nya. Nabi SAW bersabda, “Ada tiga golongan manusia nan berkuasa mendapatkan pertolongan Allah SWT, ialah seorang nan berjihad di jalan Allah, seorang hamba nan menebus dirinya agar merdeka, dan seorang nan menikah lantaran mau memelihara kehormatannya” (HR Ahmad).

Untuk kaum muda Muslim nan belum sanggup menikah, Nabi SAW menganjurkannya agar berpuasa. Sebab, itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga dari gejolak hawa nafsu. Namun, “berpuasa” namalain membujang terlalu lama pun tidak dianjurkan. Sabda beliau, “Sejelek-jelek kalian adalah orang nan membujang” (HR Thabrani). Ketika bentuk dan mental sudah siap, tidak perlu menunda-nunda lagi untuk sampai ke jenjang pernikahan.

Kebahagiaan

Rumah tangga nan ideal diisi kerelaan, kesediaan, serta komitmen nan tulus dari suami dan istri untuk merajut rumah tangga. Dengan demikian, terciptalah family nan dipenuhi kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah). Insya Allah, kebahagiaan pun bakal menaungi mereka.

“Di antara tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah adalah Dia menciptakan dari jenismu pasangan-pasangan agar Anda (masing-masing) memperoleh ketenteraman dari (pasangan-pasangan)-nya, dan dijadikannya di antara Anda mawaddah wa rahmah. Sesungguhnya, nan demikian itu betul-betul terdapat tanda-tanda bagi Anda nan berpikir” (QS ar-Rum: 21).

Menikah dapat diibaratkan sebagai ladang pahala bagi siapa saja nan bisa menunaikan tanggungjawab dan membahagiakan pasangannya. Allah SWT berfirman, nan artinya, “Istri-istri kalian adalah busana bagi kalian, dan kalian adalah busana untuk mereka” (QS al-Baqarah: 187).

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam