Fenomena Johatsu mungkin tetap terdengar sangat asing di telinga Bunda. Namun di Jepang, istilah ini merujuk pada kejadian orang-orang yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya tanpa berita sama sekali.
Sekilas, Johatsu terdengar seperti cerita misteri yang hanya ada di movie alias novel. Padahal, kejadian ini betul-betul ada dan menjadi salah satu sisi kehidupan di Jepang yang jarang disorot.
Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan Johatsu dan gimana kejadian ini bisa terjadi? Simak penjelasan lengkapnya dalam tulisan berikut, Bunda.
Johatsu adalah kejadian menghilang tanpa jejak di Jepang
Dilansir dari laman Times of India, kejadian Johatsu merujuk pada orang-orang di Jepang yang secara sengaja menghilang dari kehidupan mereka tanpa memberi berita kepada family alias teman. Kata 'Johatsu' sendiri berasal dari Bahasa Jepang yang berfaedah 'menguap'. Hal tersebut menggambarkan seseorang yang seolah lenyap begitu saja dari kehidupan sosialnya.
Dalam kejadian Johatsu, seseorang biasanya meninggalkan pekerjaan, rumah, apalagi identitas lamanya untuk memulai hidup baru di tempat lain. Mereka memilih untuk menghilang secara diam-diam demi memutus hubungan dengan masa lampau yang dianggap menyakitkan alias menakutkan.
Dalam laporan kepolisian yang dikutip oleh situs TIME, terdapat sekitar 82.000 orang yang dilaporkan lenyap pada tahun 2015, meski sebagian besar akhirnya ditemukan kembali. Namun, organisasi nirlaba Missing Persons Search Support Association, menyebut nomor sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi dari laporan resmi. Mereka memperkirakan jumlah orang yang menghilang bisa mencapai ratusan ribu jika termasuk kasus yang tidak dilaporkan.
Fenomena Johatsu akhirnya menjadi topik yang menarik perhatian media dan peneliti sosial. Kisah orang yang menghilang secara sukarela ini menunjukkan sisi lain kehidupan modern Jepang yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Asal-usul istilah Johatsu dan sejarah kemunculannya di Jepang
Istilah Johatsu mulai dikenal luas di Jepang sejak sekitar tahun 1960-an. Kata ini digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang memilih menghilang dari kehidupan lama mereka tanpa meninggalkan jejak.
Fenomena Johatsu kemudian semakin sering dibicarakan pada tahun 1990-an, terutama ketika Jepang mengalami krisis ekonomi dan banyak orang menghadapi tekanan finansial. Situasi tersebut membikin sebagian orang merasa lebih mudah untuk menghilang daripada menghadapi kegagalan secara terang-terangan.
Dalam laporan TIME, seorang wartawan asal Prancis, Lena Mauger, meneliti kejadian Johatsu dan menyebutnya sebagai “evaporated people” alias orang yang menguap dari kehidupan sosial. Ia menulis bahwa banyak orang yang meninggalkan pekerjaan, alamat, dan family untuk memulai kehidupan baru tanpa identitas lama.
Penelitian tentang Johatsu juga menunjukkan bahwa kejadian ini berangkaian dengan budaya rasa malu yang cukup kuat dalam masyarakat Jepang. Dalam budaya tersebut, kegagalan pribadi seseorang sering dianggap memalukan sehingga sebagian orang memilih untuk menghilang.
Oleh lantaran itu, kejadian Johatsu tidak hanya dilihat sebagai kasus orang lenyap biasa. Banyak peneliti menganggapnya sebagai gambaran kondisi sosial dan tekanan budaya yang ada dalam masyarakat Jepang modern.
Alasan banyak orang memilih menjadi Johatsu
Ada beragam argumen kenapa seseorang memilih menjadi Johatsu dan menghilang dari kehidupannya. Banyak di antaranya berangkaian dengan tekanan sosial, masalah pekerjaan yang gagal, hingga masalah finansial yang susah dihadapi secara terbuka.
Dalam sumber yang sama, seorang guru besar sosiologi dari Oxford University's Nissan Institute, Takehiko Kariya, menjelaskan bahwa budaya kerja Jepang yang sangat menuntut dapat mendorong seseorang merasa terjebak. Ia mengatakan bahwa semua orang di Jepang saling mengawasi satu sama lain.
"Semua orang saling mengawasi sepanjang waktu. Tidak ada jalan keluar, tidak ada pelarian,” kata Takehiko Kariya.
Selain tekanan pekerjaan, masalah seperti utang, kecanduan judi, alias bentrok family juga sering menjadi pemicu seseorang menjadi Johatsu. Beberapa orang merasa bahwa menghilang adalah langkah paling mudah untuk memulai hidup baru tanpa beban masa lalu.
Seorang wartawan lainnya yang berbasis di Jepang, Jake Adelstein, apalagi mengatakan bahwa bagi sebagian orang, menghilang bisa terasa seperti pilihan yang lebih baik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kejadian Johatsu sering kali lahir dari tekanan psikologis seseorang yang sangat besar. Ketika seseorang merasa tidak mempunyai jalan keluar, menghilang bisa tampak seperti satu-satunya pilihan.
Peran “Night Movers” dalam kejadian Johatsu
Fenomena Johatsu juga didukung oleh keberadaan perusahaan unik yang dikenal sebagai night movers alias yonige-ya. Perusahaan ini membantu orang menghilang secara diam-diam dari rumah alias lingkungan mereka.
Salah satu tokoh yang sering disebut adalah Miho Saita, CEO Yonigeya TS Corporation, perusahaan yang membantu orang memulai kehidupan baru secara rahasia. Ia menjelaskan bahwa banyak pelanggan yang datang lantaran mau melarikan diri dari utang, kekerasan rumah tangga, alias tekanan hidup.
Menurut Saita, perusahaan seperti miliknya menerima sekitar 5-10 permintaan setiap hari dari orang yang mau menghilang. Namun tidak semua permintaan dipenuhi lantaran sebagian orang hanya memerlukan konseling alias support secara hukum.
Jika proses penghilangan dilakukan, tim biasanya memindahkan peralatan pelanggan secara diam-diam pada malam hari agar tidak menarik perhatian. Biaya jasa ini berkisar antara Rp5,3 juta hingga Rp32 juta, tergantung jarak dan jumlah peralatan yang dibawa.
Kehidupan baru para Johatsu setelah menghilang
Setelah menghilang, kehidupan seorang Johatsu biasanya berjalan secara anonim dan penuh kehati-hatian. Mereka sering beranjak ke kota lain dan hidup dengan identitas baru agar tidak ditemukan.
Beberapa orang yang menjadi Johatsu memilih tinggal di tempat-tempat murah seperti hotel kecil, warnet, alias area pekerja harian. Tempat-tempat ini memungkinkan mereka untuk hidup tanpa banyak pertanyaan tentang identitas pribadi.
Dalam penyelidikan yang dilakukan oleh seorang detektif swasta asal Jepang, Masashi Kikuchi, banyak orang yang menghilang ditemukan di lokasi-lokasi seperti stadion, sekolah lama, alias tempat yang mempunyai kenangan bagi mereka.
Meski terlihat seperti awal yang baru, kehidupan Johatsu sering dipenuhi rasa kesenyapan dan ketakutan bakal ditemukan. Mereka kudu menjaga jarak dari family dan masa lampau demi mempertahankan identitas baru.
Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi Johatsu bukan berfaedah bebas dari masalah. Banyak orang justru kudu hidup dalam bayang-bayang masa lampau yang terus menghantui mereka.
Dampak kejadian Johatsu bagi family yang ditinggalkan
Fenomena Johatsu tidak hanya berakibat pada orang yang menghilang, tetapi juga pada family yang ditinggalkan. Ketika seseorang tiba-tiba menghilang, family sering kali tidak mengetahui apakah orang tersebut tetap hidup alias tidak.
Banyak family kemudian menyewa detektif swasta untuk mencari personil family yang hilang. Di Jepang sendiri terdapat ribuan pemasok detektif yang sebagian pekerjaannya berangkaian dengan kasus orang menghilang.
Namun pencarian tersebut tidak selalu berhasil. Dalam beberapa kasus, detektif hanya menemukan jejak terakhir seperti mobil yang ditinggalkan alias letak terakhir yang dikunjungi orang tersebut.
Ketidakpastian ini sering membikin family mengalami tekanan emosional yang sangat berat. Mereka kudu hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab tentang keberadaan orang yang mereka cintai.
Bunda, itulah penjelasan mengenai kejadian Johatsu. Fenomena Johatsu sering dianggap sebagai tragedi sosial. Bukan hanya orang yang menghilang yang kudu memulai hidup baru, tetapi juga family yang kudu menerima kehilangan tanpa penjelasan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·