Kalau Ada Kebiasaan Buruk Ini, Anda Harus Segera Perbaiki Diri

Sedang Trending 3 hari yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Setiap orang pasti mau bahagia. Mereka mau merasakan hati tenang, dan selalu bersyukur. Namun ini tidak mudah. Harus ada pembiasaan nan ekstra.

Terlebih, jika tanda alias kebiasaan berikut ini muncul, maka Anda kudu memperbanyak ibadah dan berdzikir agar kembali bahagia.

Pertama, suka membicarakan orang lain

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali menemui orang nan tampak tidak bahagia, dan salah satu kecenderungan nan sering diidentifikasi adalah kebiasaan mereka untuk membicarakan orang lain alias gosip.

Gosip bisa menjadi corak ekspresi dari ketidakpuasan pribadi, rasa tidak aman, alias apalagi kebutuhan untuk merasa lebih baik tentang diri sendiri dengan membandingkan diri dengan orang lain. Perilaku tersebut bisa sampai pada ghibah, sehingga setiap orang nan melakukan ghibah bakal mendapatkan dosa besar.

Padahal dalam sabda dijelaskan bahwa siapapun nan berupaya menutupi kejelekan saudaranya maka ganjaran dari Allah adalah bakal ditutup aibnya ketika di bumi dan akhirat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَن نفَّسَ عن مُؤْمنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنيا؛ نفَّسَ اللهُ عَنه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَوْمِ القِيامَةِ، ومَن ستَرَ مُسْلمًا ستَرَه اللهُ في الدُّنيا والآخِرَةِ، ومَن يسَّرَ على مُعْسِرٍ يسَّرَ اللهُ عليه في الدُّنيا والآخِرَةِ، واللهُ في عَوْنِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَوْنِ أَخيه

Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang muslim dari kesusahan dunia, Allah bakal melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi kejelekan seseorang, Allah bakal menutupi aibnya di bumi dan akhirat. Barangsiapa memudahkan orang nan susah, Allah bakal mudahkan urusannya di bumi dan akhirat. Allah bakal senantiasa menolong hamba-Nya selama dia menolong saudaranya. (HR. Muslim no. 2699, At-Tirmidzi no. 2945, Ibnu Majah no. 225, Abu Dawud no. 1455, Ahmad no. 7427).

Kedua, merasa iri memandang kebahagiaan orang lain

Iri hati sering kali muncul dari kurangnya rasa penghargaan terhadap apa nan kita miliki sendiri. Ketika kita terlalu konsentrasi pada apa nan dimiliki orang lain dan mengabaikan berkah dan prestasi kita sendiri, kita condong merasa tidak puas dan merasa bahwa kebahagiaan ada di tempat lain.

Selain itu, iri hati sering kali menciptakan lingkungan sosial nan tidak sehat dan penuh dengan persaingan nan tidak perlu. Ketika seseorang terobsesi dengan kesuksesan alias keberuntungan orang lain, itu bisa menghasilkan atmosfer nan kompetitif dan berbisa di antara hubungan antarpribadi.

Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan ketidakpercayaan, konflik, dan kesenjangan sosial nan merugikan bagi semua pihak nan terlibat.

Dalam sabda dijelaskan:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ في اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ القُرْآنَ ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاء اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً ، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

Tidak boleh hasad selain pada dua perkara: seseorang nan diberikan kepandaian Alquran oleh Allah, lampau dia membaca dan mengamalkannya pada malam dan siang hari, dan seseorang nan diberi kekayaan oleh Allah, lampau dia menginfakkannya pada malam dan siang hari. (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh lantaran itu, Islam hanya memperbolehkan iri pada hal-hal kebaikan. Begitupun dalam Alquran Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Janganlah Anda iri hati terhadap apa nan dikaruniakan Allah kepada sebahagian Anda lebih banyak dari sebahagian nan lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa nan mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa nan mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa: 32).

KETIGA...Lihat laman berikutnya >>>

sumber : Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam