Kampung Alam Malon, Keseruan Di Desa Wisata Batik Semarang

Oct 23, 2025 10:03 AM - 5 bulan yang lalu 185739

Kampung Alam Malon – Bus rombongan kami bergerak menanjak menuju dataran yang lebih tinggi di Semarang. Dan dari situ saya baru tau jika rupanya dataran di Semarang itu berbukit-bukit. Karena ketika sudah berada di area yang cukup tinggi, saya bisa memandang sendiri keadaan tersebut dari kembali jendela bus. Ya maklum, ini adalah kali pertama saya mengunjungi kota Semarang.

Semakin kesini, bus kami nampak melalui jalan yang semakin sempit, layaknya sebuah jalan yang ada di pedesaan. Rumah-rumah penduduk pun nampak jauh dari kesan modern, yang mungkin juga bisa langsung membikin sebagian orang merasa kangen masa mini berbareng kakek dan nenek ketika melihatnya. Atau mungkin hanya emosi saya saja ya? Entahlah.

Tak lama kemudian, bus mulai memperlambat lajunya dan kami diberitahu bahwa kami sudah sampai di Kampung Wisata Malon.

Sedikit diluar perkiraan, lantaran awalnya saya pikir kampung alias desa ini menawarkan view alias gedung unik sebagai “sajian” utamanya, seperti yang bisa ditemukan di Desa Penglipuran, Bali.

Namun ternyata, kampung ini menyajikan wisata edukasi alias eduwisata dengan konsep yang saya rasa sudah cukup menyenangkan lantaran jujur saja, di letak inilah saya jadi merasa lebih nyaman untuk berlama-lama.

Informasi Umum

Alamat: Kampung Malon RT 03/RW 06 Kelurahan Gunungpati, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang
Telepon: 0857-9313-1241
Situs Web: kampungalammalon.com
Kelompok Pembatik: Zie Batik, Batik Delima, Batik Kristal, Batik Manggis dan Batik Citra

Melihat Proses Pembuatan Batik

Melihat Proses Pembuatan BatikMelihat Proses Pembuatan Batik

Kampung Alam Malon ini bisa dibilang punya potensi berupa hasil alam. Sehingga jangan heran jika sebagian besar wilayahnya digunakan sebagai lahan pertanian dan perkebunan.

Lalu dengan semangat dari para penduduknya, maka muncul lah bibit-bibit produktivitas untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki, salah satunya tertuang dalam corak produk kain batik.

Salah satu ketua RT di Kampung Malon menyebut bahwa perihal unik dari produk batik yang mereka miliki bukan hanya dari segi motifnya yang unik saja, bakal tetapi juga dari sisi bahan dan apalagi perangkat yang mereka gunakan.

Disebutkan bahwa mereka berupaya sebisa mungkin untuk membikin produk (batik) yang ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan hasil alam seperti limbah mangrove dan alias tanaman indigofera sebagai pewarna alami untuk batik yang diproduksi.

Cek juga: 12 Tempat Belanja di Semarang Paling Populer

Dan apalagi mereka menggunakan kertas (semacam kertas dus alias karton) yang dibentuk sedemikian rupa sebagai cetakan yang mereka gunakan untuk membikin batik “cap”.

Selain lebih ramah lingkungan lantaran lebih mudah untuk di daur ulang, cetakan ini tentu juga jauh lebih murah daripada kudu menggunakan cetakan berbahan tembaga seperti yang umumnya digunakan.

Kampung Alam Malon via Jasmina Study CenterKampung Alam Malon via Jasmina Study Center

Tumbuhan-tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pewarna untuk kain batik yang mereka produksi juga merupakan hasil alam yang ditanam di area perkebunan yang terdapat di area sekitar.

Saya sendiri memandang bahwa lahan yang mereka miliki tersebut cukup produktif lantaran ada banyak sekali jenis tumbuhan dan buah-buahan yang ditanam, termasuk diantaranya ada kacang, singkong, kentang, hingga beberapa jenis durian. Sayangnya pada saat kunjungan kami berlangsung, pohon durian sedang tidak berbuah. Sehingga kami tak bisa mencicipinya.

Padahal menurut cerita dari beberapa kawan yang sudah pernah berjamu ke Kampung Alam Malon, durian yang dihasilkan disini berukuran wumbo dengan nilai yang bisa dibilang cukup mahal, namun dijamin pasti puas lantaran konon sepotong daging buahnya saja bisa bikin perut terasa kenyang.

Duh, jadi ngiler . . . Oke skip! Kita kembali ke topik soal batik ya.

Agar dapat siap dijadikan sebagai bahan pewarna, tumbuhan yang digunakan kudu melalui proses yang panjang, mulai dari direndam, di fermentasi, dan beragam proses lainnya.

Oiya, lama waktu pengerjaan untuk produk batiknya sendiri tergantung dari tingkat kesulitannya. Kalau batik yang dicetak sih bisa lebih sigap jadi ya. Nah jika batik yang ditulis alias digambar langsung, prosesnya bisa menyantap waktu hingga satu bulan alias apalagi lebih.

Jangan lewatkan juga: 7 Tempat Jogging di Semarang

Batik-batik yang sudah jadi, bisa langsung dibeli di lokasi, alias bisa juga ditemukan di Semarang Kreatif Galeri (Galeri UMKM) yang berlokasi di area Kota Lama, Semarang.

Perajin batik, Zalzilah menunjukkan koleksi batik yang dibuat dengan warna alam original Kampung Malon motif Legenda. (Vedyana Ardyansah ayosemarang.com)Perajin batik, Zalzilah menunjukkan koleksi batik yang dibuat dengan warna alam original Kampung Malon motif Legenda via  ayosemarang.com

Merasakan Kembali Keceriaan Yang Hampir Punah

Agak berlebihan sebenarnya, tapi mungkin itulah kata yang paling mendekati untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan ketika berjamu ke Kampung Alam Malon.

Kunjungan ke letak ini bukan hanya sekedar datang, berfoto, lampau pulang. Tenangnya suasana di kampung ini saya rasa sangat efektif sekali untuk “melarutkan” pikiran yang sudah jenuh dengan hiruk-pikuk kota dengan segala keribetannya.

Kita juga bisa merasakan kegembiraan dari permainan tradisional, yang tak bisa kita dapatkan dari layar gadget. Serta hangatnya kebersamaan yang bisa kita rasakan saat mengunjungi rumah warga, yang tak bisa kita dapatkan dari kegiatan chatting di aplikasi messenger.

Suasana keakraban seperti itu sudah bisa saya rasakan sejak kami turun dari bus rombongan, dimana sesaat kemudian kami langsung disambut oleh penduduk dan disuguhi minuman unik yang diberi nama Wedang Malon.

Saat memasuki jam makan siang pun saya dibuat merasakan kembali hangatnya berkumpul berbareng family dengan menikmati kuliner unik kampung ini, yang salah satunya diberi nama Sate Krembis. Obrolan-obrolan hangat pun tercipta ketika kami menyantap hidangan yang disediakan, komplit dengan suasana pedesaan yang memorable.

Kampung Alam MalonKampung Alam Malon

Akhir Kata

Saya berambisi agar Kampung Alam Malon bisa betul-betul mempersiapkan diri agar bisa menjadi letak wisata pengganti di kota Semarang. Karena memang saat kunjungan saya ini (Mei 2018) kabarnya memang mereka tetap berupaya berbenah untuk bisa mewujudkan sebuah Kampung Wisata seperti yang diharapkan.

Dan saya juga berambisi bahwa experience yang kami rasakan selama mengunjungi letak ini adalah “standar” mereka untuk menjamu tamu yang datang ke Kampung Alam Malon, alias mungkin bisa lebih baik lagi.

Karena saya rasa, experience tersebut cukup efektif untuk dijadikan pelarian dari jenuhnya keseharian di kota.

* Tulisan Mas Pandu

Penutup

Demikianlah ulasan mengenai wisata edukasi kampung alam Malon Semarang yang bisa kami sajikan untuk anda. Semoga bisa menjadi referensi berpiknik untuk Anda berbareng family alias rombongan. Jangan lupa juga untuk membagikan tulisan ini ya.

Baca juga: 17 Tempat Wisata di Bandungan Semarang

Selengkapnya