Kapan Harus Menceritakan Nikmat?

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Sosial media dengan segala praharanya. Pamer ini pamer itu. Niatnya untuk mensyukuri nikmat Allah padanya ataukah hanya pamer belaka, mau dibilang kaya, mau dibilang terkenal alias semacamnya. Sebagai penonton pun tak jarang tertimpa hasad di dalam diri. Apakah saya nan hasad terhadap nikmatnya, ataukah dia nan hanya mau pamer?

Hati pun sakit ketika melihatnya jauh lebih unggul dalam masalah kekayaan dan popularitas, apakah lantaran salah memperlihatkan nikmat kepada orang nan tak punya? Atau apakah hati nan berpenyakit hasad tak terima takdir Allah Sang Pemberi Nikmat?

Nikmat nan Allah ta’ala berikan tentu saja merupakan perihal nan kudu seorang muslim nan beragama syukuri. Namun, apakah syukur itu?

Apa itu Syukur?

Syukur secara bahasa adalah memuji orang nan melakukan baik, dan secara istilah adalah menampakkan nikmat Allah kepada hambaNya dan di hatinya bersaksi, raganya mematuhi dan mentaati dalam rangka memuji dan mengakui bahwa nikmat nan hamba peroleh adalah semata-mata dari Allah subhanahu wa ta’alaala.

Donasi Operasional YPIA

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah di dalam kitabnya, At-Tuhfah Al-‘Iraqiyyah menjelaskan tentang syukur. Seorang hamba berterima kasih kepada Rabb ta’ala bisa dengan hati, lisan, dan badan. Dan langkah untuk mensyukuri nikmat Allah ta’ala itu ada tiga macam,

1. Bersyukur dengan hati

Dengan mengakui keesaan peribadahan hanya untuk Allah semata, cinta dan kembali hanya kepadaNya, dan juga ibadah-ibadah hati nan lain nan disyariatkan. Dan peribadahan hati tersebut termasuk bersyukurnya hati kepada Allah ta’ala. Syukur hati ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam ketika sebagian sahabat bertanya kepadanya, “telah diturunkan (ayat) tentang emas dan perak, seandainya kami mengetahui kekayaan nan terbaik, maka kami bakal mengambilnya? Kemudian Nabi menjawab,

أفضله لسان ذاكرا و قلب شاكرا،  و زوجة مؤمنة تعينه على إيمانه

“(Harta) nan terbaik adalah lisan nan senantiasa berdzikir, hati nan senantiasa bersyukur, dan istri nan beragama nan senantiasa membantu suaminya di atas iman.” (H.R At-Tirmidzi No. 3019, shahih)

2. Bersyukur dengan lisan

Dengan memujiNya, mengucapkan “alhamdulillah”, dengan bertasbih, bertahlil, dan menceritakan nikmat Allah ta’ala disertai dengan mengakui bahwa nikmat tersebut semata-mata bermasalah dari Allah ta’ala. Ada nan mengatakan: Hakikat syukur adalah memuji orang nan memberi kebaikan dengan menyebut-nyebutkan kebaikannya.

3. Bersyukur dengan personil badan

Dengan menggunakan badan ini untuk ketaatan kepada Allah tabaraka wa ta’ala dan menahan diri dari melakukan kemaksiatan. Oleh lantaran itu ketika seorang ustadz ditanya tentang syukur, beliau mengatakan: “Engkau tidak melakukan maksiat kepada Allah dengan menggunakan nikmatNyanikmatNya.”

Menceritakan Nikmat Allah Termasuk Bentuk Syukur

Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy rahimahullahu ta’ala pun juga menjelaskan di dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin, bahwa berterima kasih bisa dengan hati, lisan dan personil badan. Adapun dengan hati, ialah dengan meniatkan tujuan nan baik, dan lisan dengan menampakkan syukur dengan tahmid, dan personil badan dengan menggunakan nikmat tersebut di dalam jalan ketaatan, dan berhati-hati agar tidak menggunakan nikmat tersebut dalam kemaksiatan. Contoh berterima kasih dengan kedua mata adalah dengan menutupi kejelekan nan dia lihat pada sesama muslim, berterima kasih dengan kedua telinga adalah dengan menutupi telinganya dari kejelekan nan dia dengar, dan ini merupakan contoh-contoh berterima kasih dengan personil badan.

Bersyukur dengan lisan adalah dengan menampakkan kesenangan tersebut dan inilah nan diperintahkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

التحدث بالنعمة: شكر، وتركها: كفر

“Menceritakan nikmat adalah syukur dan meninggalkan perihal tersebut adalah pengingkaran.” (Hadits dari Abdullah bin Ahmad dalam Zawaa-id dalam Musnad. H.R Ahmad No. 177721, Shahih lighairihi)

Nikmat Apa nan Ditampakkan?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثفَحَدِّثْ

  “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (Q.S Adh-Dhuha: 11)

As-Sa’diy rahimahullah mengatakan di dalam tafsirnya tentang ayat ini, “ini mencakup nikmat-nikmat kepercayaan dan dunia. Yaitu pujilah Allah lantaran nikmat-nikmat itu dan sebutlah secara unik jika memang perihal itu ada maslahatnya. Bila tidak, sebutkan nikmat Allah secara absolut (umum) lantaran menyebut-nyebut nikmat Allah bisa mendorong seseorang untuk mensyukurinya dan menimbulkan kesenangan bagi nan memberi nikmat; lantaran hati mempunyai tabiat mencintai orang nan melakukan baik padanya.

Ada Saatnya Nikmat itu Tidak Diceritakan

Terdapat hadits nan diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam Mu’jamnya

 استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان فإن كل ذي نعمة محسود

“Mintalah pertolongan kepada Allah atas kebutuhan tercapainya kesuksesanmu dengan merahasiakannya, lantaran setiap pemilik nikmat ada nan hasad padanya” (H.R Ath-Thabaraniy, disahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah 3/439)

Syaikh Shalih Al-Munajjid menjelaskan di dalam websitenya islamqa.info bahwa merahasiakan kebutuhan atas kesuksesan tersebut dilakukan sebelum terjadinya, jika Allah berikan nikmat kesuksesan nan dia inginkan itu padanya, maka sebutkanlah nikmat tersebut dengan langkah berterima kasih kepada Allah selama tidak dikhawatirkan tertimpa ancaman hasad orang lain.

Al-Munawi menjelaskan tentang bolehnya merahasiakan nikmat tersebut lantaran cemas bakal ada orang nan hasad. Allah ta’ala berfirman:

قَالَ یَـٰبُنَیَّ لَا تَقۡصُصۡ رُءۡیَاكَ عَلَىٰۤ إِخۡوَتِكَ فَیَكِیدُوا۟ لَكَ كَیۡدًاۖ إِنَّ ٱلشَّیۡطَـٰنَ لِلۡإِنسَـٰنِ عَدُوࣱّ مُّبِینٌ

 “Dia (ayahnya Yusuf) berkata, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka bakal membikin tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh nan jelas bagi manusia.’” (Q.S Yusuf: 5)

Sebagian ustadz menjelaskan apa maksud menceritakan nikmat, ialah adalah dengan bersyukur, menampakkan akibat dari nikmat tersebut, jika Allah memberikan dia nikmat berupa harta, maka dia berterima kasih dan bertambah sifat dermawannya, memperbanyak infak kepada orang nan fakir dan orang-orang nan membutuhkan, inilah nan dimaksud menceritakan nikmat. Menceritakan nikmat bukanlah dengan menampakkan kekayaan nan dia punya, memperbanyaknya, menceritakan kepada khalayak apa nan dia punya, dan ini bukan sesuatu nan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam lakukan. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan, di antara kebiasaan orang-orang nan pelit adalah dia merahasiakan hartanya, tidak mau berderma dengan hartanya.

Kesimpulannya, pada asalnya menceritakan nikmat adalah ibadah lantaran merupakan corak rasa syukur, bakal tetapi jika dikhawatirkan bakal ada orang nan hasad, maka boleh merahasiakan perihal tersebut. Allahu a’lam.

Penulis: Triani Pradinaputri

Referensi

  1. https://islamqa.info/amp/ar/answers/229863
  2. Tafsir As-Sa’diy
  3. Tuhfatul Al-Iraqiyyah fii A’malil Qalbiyyah, Syaikhul Islam Taqiyyuddin Ahmad Ibn Taimiyyah, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh, Hal. 267, 272
  4. Mukhtashar Minhajul Qashidin, Al-Imam Ahmad Bin Muhammad Abdirrahman bin Qudamah Al-Maqdisiy, Al-Maktabah Al-Islamiy, Beirut, Hal. 345
Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id