Kapan Tidak Wajib Menghadiri Undangan Nikah?

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Mayoritas ustadz beranggapan bahwa menghadiri undangan nikah hukumnya wajib. [1] Adapun undangan selain nikah dari seorang muslim, hukumnya mustahab (sunah).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ ، وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ – صلى الله عليه وسلم –

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan pada walimah, di mana orang-orang kaya saja nan diundang, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang. Barangsiapa nan meninggalkan undangan tersebut, maka dia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.” [2]

إِذَا دُعِى أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيَأْتِهَا

“Jika salah seorang di antara kalian diundang walimah, maka hadirilah.” [3]

Konsekuensi berupa kedurhakaan adalah untuk meninggalkan kewajiban. Karena jika seandainya maknanya rekomendasi alias sunah, maka tidak bakal dicela dan dikatakan durhaka jika meninggalkannya.

Kewajiban menghadiri undangan nikah tidaklah mutlak. Para ustadz memberikan syarat-syarat kapan wajibnya menghadiri undangan. Apabila syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya tidak lagi wajib alias sunah, apalagi bisa menjadi haram. Syarat-syaratnya sebagai berikut:

Pertama, nan mengundang adalah seorang muslim. Apabila bukan muslim, maka tidak wajib.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ …. وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ

“Hak seorang muslim sesama muslim lainnya: … (di antaranya) memenuhi undangan.” [4]

Kedua, tidak ada kemungkaran pada aktivitas pernikahan. Seperti bercampur-baur laki-laki dan wanita, adanya pagelaran perangkat musik, dan terhidangkan makanan dan minuman haram.

Seorang muslim bisa menyiasatinya dengan datang saat janji berlangsung. Karena saat itu, biasanya beragam pagelaran belum dimulai. Atau datang ketika aktivitas pertunjukannya sudah selesai.

Ketiga, nan mengundang adalah orang nan tidak sedang di-hajr (diboikot), seperti lantaran kefasikannya, kemaksiatannya, alias kesesatannya.

Keempat, tidak memberatkan dalam menghadiri undangan tersebut. Seperti jauhnya letak pernikahan alias mahalnya ongkos perjalanan menujunya, sedangkan dia tidak mempunyai biaya, alias sedang sakit.

Kelima, undangan tersebut berkarakter khusus. Seperti undangan nan jelas ditujukan atas nama kita baik melalui lisan, kartu undangan cetak maupun elektronik. Adapun undangan nan berkarakter umum, misal undangan nan dikirim ke grup whatsapp untuk seluruh personil grup tanpa menyebut nama kita secara khusus, maka hukumnya tidak wajib menghadirinya.

Keenam, menghadiri undangan nikah tidak menjadikan meninggalkan tanggungjawab lain nan lebih krusial alias lebih wajib.

Dengan demikian, maka menjadi jelas bahwa tidak wajib menghadiri undangan andaikan ada salah satu syarat di atas. Bahkan, bisa menjadi haram jika kita datang, namun tidak bisa mengubah kemungkaran alias mengakibatkan terabaikannya kewenangan suami alias anak. Dan bisa jadi, kita tidak kondusif dari keburukan dan kemungkaran di lokasi, maka nan seperti ini haram menghadiri undangan. Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Baca juga: Bila Di Undang Ke Walimah Nikah

***

Penulis: Junaidi, S.H., M.H.

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Al-Muwattha’, 2: 961, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi.

[2] Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari no. 5177 dan Muslim no. 1432.

[3] Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari no. 5173 dan Muslim no. 1429.

[4] HR. Muslim no. 2162.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah