Kebiasaan Orang Empatik yang Energinya Cepat Terkuras saat Berada di Keramaian Menurut Psikolog

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 64x dilihat
Kebiasaan Orang Empatik yang Energinya Cepat Terkuras saat Berada di Keramaian Menurut Psikolog

Bagikan Postingan

Kebiasaan Orang Empatik yang Energinya Cepat Terkuras saat Berada di Keramaian Menurut Psikolog/Foto: Magnific.com/magnific

Konser, pesta, pusat perbelanjaan, sampai aktivitas famili menawarkan banyak hal untuk dinikmati. Namun, bagi orang empatik, eksis di tengah banyak orang justru bisa membikin daya terkuras lebih cepat. Setelah aktivitas selesai, rasanya mau segera pulang, mencari tempat tenang, dan menghabiskan waktu sendirian.

Menurut psikolog sekaligus Wakil Presiden Perawatan Klinis di Octave, Dr. Golee Abrishami, PhD, individu yang gampang terkuras di tengah keramaian bisa termasuk introvert dan orang dengan tingkat empati yang lebih tinggi. Mereka bukan cuma menghadapi bunyi bising maupun banyaknya orang, tetapi juga memproses beragam emosi dan dinamika sosial di sekitarnya.

Kondisi ini bisa dilihat dari kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sadar mereka lakukan di tengah keramaian. Melansir dari Parade, berikut 7 kebiasaan orang empatik yang energinya cepat terkuras saat eksis di keramaian.

1. Menyerap Emosi Orang Lain

Salah satu kebiasaan orang empatik yang gampang kehabisan daya di keramaian adalah gampang menangkap emosi orang lain, terlebihlagi sampai ikut merasakan kecemasan maupun kesedihan yang sebenarnya bukan miliknya.
Orang empatik lebih gampang menyerap emosi di tengah keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Orang empatik biasanya cukup peka terhadap emosi orang di sekitarnya. Ketika melihat seseorang sedang cemas, sedih, maupun kesal, mereka bukan cuma menyadari fluktuasi kondisi tersebut, tetapi juga bisa ikut merasakan emosinya. Kemampuan ini membikin mereka seolah memungut satu cara lebih jauh dibanding sekadar memahami emosi orang lain.

Ketika eksis di sebuah aktivitas yang dipenuhi puluhan maupun terlebihlagi ratusan orang, mereka bisa menangkap beragam emosi tersebut secara bersamaan. Semakin banyak orang yang ada di sekitar, semakin besar pula beban emosional yang mungkin mereka rasakan.

2. Selalu Membaca Situasi Sekitar

Orang empatik selalu membaca situasi di tengah keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Ada orang yang datang ke sebuah aktivitas kemudian fokus menikmati makanan, musik, maupun diskusi dengan teman. Namun, orang empatik bisa berbuat lebih dari itu.

Mereka cenderung memperhatikan bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta beragam dinamika yang tidak diucapkan secara langsung. Hal ini membikin perhatian mereka terus tertuju pada orang-orang di sekitarnya. Kemampuan membaca situasi ini seolah tidak memiliki tombol mati.

Di tempat ramai, selalu ada wajah baru, percakapan berbeda, maupun fluktuasi kondisi yang bisa diperhatikan. Kondisi ini bisa menjadi sangat melelahkan karena mereka seperti terus mengalami dan memproses keberadaan orang-orang di sekitar tanpa jeda.

3. Merasa Obrolan Basa-Basi Lebih Menguras Energi

Orang empatik cenderung lebih menyukai percakapan yang mendalam sehingga diskusi ringan di tengah keramaian dapat terasa kurang betah dan menguras energi.
Orang empatik merasa small talk melelahkan/Foto: Pexels.com/Yaroslav Shuraev

Orang empatik cenderung mencari percakapan yang lebih dalam dan benar-benar bermakna. Tidak mengherankan jika mereka bisa tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang terasa cukup individual cuma karena mau melewati percakapan di permukaan. Keadaan ini menjadi lebih sulit ketika percakapan terjadi di tempat ramai.

Suara orang yang bercampur, minimnya privasi, dan banyaknya gangguan membikin diskusi mendalam semakin sulit dilakukan. Tidak mengherankan jika hubungan sosial yang sebenarnya sederhana terasa lebih menguras daya bagi orang empatik karena mereka juga mesti menghadapi lingkungan yang penuh stimulasi. 

4. Sulit Mematikan Kesadaran terhadap Orang Lain

Orang empatik sulit mematikan kesadaran di keramaian/Foto: Pexels.com/David Malca

Saat eksis di aktivitas ramai, sebagian orang bisa dengan gampang melupakan keadaan sekitar dan menikmati momennya. Namun, beda halnya dengan orang empatik yang bisa terus memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekeliling, terlebihlagi ketika sebenarnya mau bersantai. Dr. Abrishami menggambarkan kondisi ini sebagai perhatian yang terus aktif terhadap orang lain dan situasi di sekitar.

Kebiasaan ini membikin tubuh dan pikiran seolah terus eksis dalam kondisi siaga. Mata terus bergeser dari satu orang ke orang lain, sementara pikiran mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Bagi orang empatik, kapasitas ini bisa menjadi sesuatu yang melelahkan jika terjadi terlalu lama.

5. Membutuhkan Waktu Sendiri Setelah Berada di Keramaian

Setelah menghadapi keramaian, orang empatik dapat membutuhkan waktu sendiri untuk memproses pengalaman, menenangkan diri, dan memulihkan energi.
Orang empatik membutuhkan waktu sendiri setelah eksis di keramaian/Foto: Magnific.com/magnific

Orang empatik bisa membutuhkan waktu lebih banyak untuk memproses beragam hal yang dialami setelah eksis di tengah banyak orang. Bahkan, aktivitas sosial yang tidak sebesar konser pun bisa terasa cukup melelahkan.

Kebutuhan untuk menyendiri setelah aktivitas menjadi kesempatan untuk berbuat decompress, memproses pengalaman, dan beristirahat. Bagi mereka, memberi ruang untuk diri sendiri bisa menjadi bagiankecil dari metode mengembalikan energi.

6. Sering Mendahulukan Orang Lain

Orang empatik selalu mendahulukan orang lain/Foto: Magnific.com/magnific

Dalam sebuah kelompok, siapa yang biasanya memastikan semua orang baik-baik saja? Kemungkinan besar jawabannya adalah orang empatik.

Mereka cenderung memperhatikan personel himpunan lain, mencoba membikin semua orang merasa dilibatkan, hingga membantu ketika kondisi terasa canggung. Sikap seperti ini tanpa disadari bisa menguras energi.

Hal yang membikin hal ini semakin melelahkan adalah pekerjaan tersebut sering tidak terlihat. Tidak ada yang secara khusus meminta seseorang untuk memperhatikan semua orang, tetapi orang empatik bisa memungut peran tersebut dengan sendirinya.

Mereka mungkin sibuk memastikan orang lain betah tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan istirahat. Dalam situasi ramai, kebiasaan ini bisa menambah beban emosional yang sudah diterima dari lingkungan.

7. Mudah Mengalami Overstimulasi

Orang empatik dapat lebih gampang keteteran oleh bunyi keras, cahaya terang, dan rentang jasmani yang terlalu dekat dengan banyak orang.
Orang empatik gampang mengalami overstimulasi di keramaian/Foto: Pexels.com/pexels-Plato Terentev

Suara musik maupun percakapan yang keras, lampu terang, serta keberadaan banyak orang dalam rentang dekat bisa terasa berlebihan bagi sebagian orang. Aspek jasmani dari keramaian tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang sangat empatik.

Ketika terlalu banyak rangsangan masuk dalam waktu bersamaan, seseorang bisa mengalami overstimulasi. Menurut Dr. Abrishami, orang yang gampang mengalami kondisi ini sering kali tidak memberi dirinya waktu untuk beristirahat ketika statis eksis di acara. Akibatnya, rasa capek baru benar-benar terasa setelah semuanya selesai.

Ada banyak aspek yang bisa membikin keramaian terasa berat, terutama bagi orang empatik. Namun, Dr. Abrishami menegaskan bahwa menjadi sangat empatik di bumi yang penuh bunyi dan stimulasi merupakan kapasitas untuk membikin orang lain merasa dilihat dan didengar.

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads