Kekaguman Dan Pujian Sarjana Barat Terhadap Rasulullah Saw Ini Tak Terbantahkan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA— Meski sebagian orientalis Barat melancarkan serangan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi tak bisa dimungkiri juga banyak sarjana mereka nan kagum dan memuji kepribadian Rasulullah SAW.

Thomas Carlyle dengan karyanya The Hero as Prophet, nan terbit pada 1841, mengatakan bahwa Muhammad adalah seorang nabi dengan kebenaran nan otentik. Pengakuan juga datang dari Michael Hart, penulis kitab Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah nan menempatkan Nabi SAW di urutan teratas deretan tokoh tersebut.

Terutama sejak memasuki abad ke-20, perubahan sikap terhadap Islam mulai dapat dirasakan dari kalangan sarjana Kristen kontemporer. Mereka mulai memahami dan memperlihatkan rasa hormat terhadap Islam, kaum Muslim, dan tentu saja, Nabi Muhammad SAW. 

Sebut misalnya orang seperti Louis Massignon, Montgomery Watt, Wilfred Smith, Kenneth Cragg, Yvonne Haddad, serta, tentu saja, Annemarie Schimmel, pembimbing besar dalam bagian tasawuf dari Harvard University nan saat ini tengah berjamu ke Indonesia dan direncanakan memberikan serangkaian kuliah dan obrolan seputar tasawuf.

Salah satu karya Schimmel mengenai Nabi Muhammad nan kudu disebutkan adalah Dan Muhammad adalah Utusan Allah (Mizan: 1992). Dalam kitab ini Schimmel dengan sangat memikat dan mengharukan mengungkapkan kecintaan Muslim, dari ustadz hingga kaum awam, kepada junjungan mereka ini. 

Sedemikian besar simpati nan ditunjukkan wanita nan menguasai 20 bahasa ini, hingga seorang pembaca nan serius sangat mungkin mengalami pembaharuan atas cintanya terhadap Muhammad SAW.

''Dalam keadaan darurat seorang Muslim mungkin menyangkal keyakinannya kepada Allah, tetapi sekali-kali dia tidak bakal bersedia mengutarakan kata-kata rendah apalagi penghinaan terhadap Nabinya, meski diancam dengan kematian sekalipun,'' tulis Schimmel nan datang ke Indonesia atas undangan Goethe-Institut Jakarta dan penerbit Mizan, Bandung, dalam salah satu bagian kitab tersebut.

Karena empati nan sangat besar inilah Schimmel, nan mendapat gelar PhD dalam bagian studi Islam pada November 1941, ketika dia tetap berumur 21 tahun, dapat merasakan luka mendalam nan dialami kaum muslim di seluruh bumi dengan terbitnya karya Salman Rushdie, Ayat-ayat Setan.

Annemarie Schimmel, dengan demikian, kudu diakui mempunyai peran nan sangat signifikan dalam upaya panjang membangun relasi Islam-Kristen nan lebih baik.

Tampaknya, itu pula salah satu argumen nan mendasari panitia German Book Trade 1995 menganugerahkan Peace Prize, sebuah penghargaan paling bergengsi di Jerman, kepada Schimmel nan berasosiasi dengan Harvard University sejak 1966 ini. Untuk diketahui saja, beberapa penulis lain nan pernah dianugerahi penghargaan nan sama adalah Albert Schweitzer, Vaclav Havel, filsuf Martin Buber, dan George Kennan.

Namun pemberian bingkisan tersebut segera saja mengundang gelombang protes nan berasal dari 220 penulis, 100 penerbit, dan sejumlah personil parlemen Jerman. Menurut kalangan pemrotes, Schimmel telah menunjukkan simpati terlalu dalam terhadap fundamentalisme Islam. 

Memang, seperti pernah dikatakan Schimmel sendiri dalam Islam, an Introduction, bagi Kristen Barat, dalam sejarah interaksinya dengan agama-agama lain, Islam merupakan kepercayaan nan paling tidak dipahami sekaligus paling dimusuhi.

Termasuk dalam golongan pemrotes adalah novelis Gunter Grass dan filsuf Jurgen Habermas, tokoh ajaran Frankfurt nan teori-teori kritisnya banyak menginspirasi kalangan muda termasuk di Indonesia. 

Dalam surat protesnya mereka antara lain mengatakan, ''Orientalis Jerman ini adalah tamu kehormatan di negara-negara Islam totaliter seperti Iran. Di seluruh karyanya, tak ada sedikitpun dia menyinggung soal pelanggaran kewenangan asasi manusia nan terjadi di negara-negara ini.''

Tapi, bagi para pendukung Schimmel, protes itu dianggap tidak relevan dan tidak berdasar sama sekali. ''Profesor Schimmel adalah figur spiritual nan menulis tentang Islam dan kebudayaan Muslim. Seperti Bunda Teresa, Schimmel bersikap apolitik dan tidak terlalu menyadari situasi politik di negara-negara nan dikunjunginya,'' kata Dr Ayub Ommaya dari The Wisdom Fund nan sangat mengenal karya-karya Schimmel.

sumber : Harian Republika

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam