Kemiskinan Sempat Melanda Dan Banyak Pengangguran Di Zaman Nabi Saw, Kok Bisa?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW, tidak serta-merta kondisi kala itu hidup dengan penuh kesejahteraan. Justru di saat itu ada dalam situasi nan penuh tantangan lantaran beberapa perihal nan melandasinya.

Hal pertama kenapa tetap ada kemiskinan di masa Rasulullah SAW, adalah lantaran tidak ada sungai untuk mengairi sawah. Kota Madinah adalah wilayah agraris, dan budidayanya nan ditanam adalah pohon palem. Untuk mengairi area pertaniannya, kudu dipikul sendiri, baik oleh tenaga manusia ataupun unta, sehingga ini menjadi sulit.

Di sana tidak ada sungai nan mengairi pertanian seperti di daerah-daerah pertanian lainnya. Ladang pertanian terbatas, dan tenaga kerja nan dibutuhkan terbilang sedikit lantaran budidaya pertama adalah pohon palem, nan mempunyai musim terbatas.

Kedua, banyaknya pendatang. Madinah menerima banyak pendatang alias orang-orang nan berimigrasi datang ke Madinah. Setiap kehadiran memerlukan dua perihal nan lengkap, ialah tempat tinggal untuk dirinya dan keluarganya, dan kedua adalah sumber penghidupan untuk mereka.

Begitu tingginya jumlah orang nan datang ke Madinah, Nabi SAW sampai pernah menyuruh mereka kembali ke wilayah asalnya. Ini sebagaimana riwayat nan mengisahkan datangnya kabilah Muzainah berjumlah 400 orang, nan kemudian diperintahkan pulang ke asalnya.

Rasulullah SAW menyadari, Madinah tidak bisa menerima para imigran dalam jumlah nan besar, dan mengingat kondisi ekonomi nan ada saat itu. Maka Nabi SAW bermaksud untuk tetap menjaga kebertahanan kota Madinah kala itu.

Faktor ketiga berangkaian dengan aspek kedua. Ketiga ini adalah tingginya jumlah imigran nan menganggur. Pendatang di Madinah sebagian besar adalah berasal dari Bani Quraisy nan tidak menguasai apapun selain berdagang. Tidak ada seorang pun dari mereka nan pandai pada selain perdagangan. Ini lantaran sebelumnya terdapat banyak perbudakan.

Dampaknya, banyak pendatang di Madinah nan menganggur, setidaknya untuk jangka waktu tertentu, sampai mereka mengenal kondisi Madinah. Namun Madinah tidak dapat menampung jumlah pedagang nan besar saat itu.

Keempat adalah peperangan. Di era Nabi Muhammad SAW, kehidupan di kota Madinah sebagian besarnya berkutat pada peperangan. Peperangan seperti plural diketahui menguras ekonomi dan memerlukan kekayaan kekayaan. Punya pasukan, tetapi tidak ada duit untuk mempersiapkan mereka mencapai medan pertempuran.

Kelima adalah terputusnya hubungan jual beli Makkah dan Madinah. Betapa tidak, Madinah dan Makkah sejatinya mempunyai hubungan jual beli nan kuat. Namun transaksi perdagangan antarkedua wilayah itu berakhir setelah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hingga akhirnya memengaruhi aktivitas ekonomi.

Keenam ialah banyak kekayaan nan ditinggalkan di Makkah. Ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, kalangan Muhajirin meninggalkan kekayaan mereka di Makkah sehingga sebagian besar kekayaan mereka ada di sana. Tidak mungkin juga membawa kembali semua kekayaan itu, lantaran golongan kafir Quraisy siap mencegah mereka berhijrah berbareng Rasulullah.

sumber : Alukah.net

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam