Keracunan Makanan Bisa Mengganggu Saraf dan Bikin Hilang Ingatan? Ini Penjelasannya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 523x dilihat
Keracunan Makanan Bisa Mengganggu Saraf dan Bikin Hilang Ingatan? Ini Penjelasannya

Bagikan Postingan

Keracunan makanan dalam kondisi tertentu bisa memengaruhi sistem saraf. Benarkah bisa menyebabkan lenyap ingatan dan kejang? Simak penjelasan medis dan kemungkinan penyebab lainnya.

Mommies dan Daddies mungkin mengikuti pemberitaan tentang seorang siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang dilaporkan mengalami tegang dan gangguan ingatan setelah menjadi salah satu korban dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kasus ini tentu membikin banyak orang tua bertanya-tanya: memangnya keracunan makanan bisa sampai memengaruhi otak dan menyebabkan seseorang kehilangan ingatan?

Singkatnya, keracunan makanan tertentu memang bisa menimbulkan gangguan pada sistem saraf, tetapi lenyap ingatan setelah keracunan makanan tidak otomatis berfaedah keracunan tersebut menjadi penyebabnya.

Dalam kondisi tertentu, jangkitan alias toksin yang berasal dari makanan memang bisa menimbulkan komplikasi pada sistem saraf. Namun, bukan berfaedah setiap orang yang mengalami keracunan makanan bakal mengalami gangguan saraf, apalagi kehilangan ingatan.

Yang juga penting, pada kasus siswi di Sumatera Utara tersebut, penyebab pasti gangguan ingatan dan tegang yang dialami belum bisa disimpulkan hanya dari kebenaran bahwa sebelumnya dia mengalami dugaan keracunan makanan.

Jadi, apa sebenarnya yang mungkin terjadi?

BACA JUGA: 6 Cara Mengatasi Anak Kejang dengan Aman, Menurut Dokter Spesialis Anak

Kasus siswi di Sumatera Utara yang dilaporkan mengalami lenyap ingatan

Foto: 8photo/Magnific

Kasus ini bermulai dari dugaan keracunan MBG yang dialami ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Agustus 2026.

Salah satu korban, siswi berinisial FP (16), kemudian dilaporkan mengalami kejang. Menurut keterangan ibunya kepada media, FP juga sempat mengalami gangguan ingatan dan tidak mengenali personil keluarganya ketika dirawat di rumah sakit.

Dalam pemeriksaan lanjutan di RSUP H. Adam Malik Medan pada 8 September 2026, FP disebut kembali mengalami tegang ketika bakal menjalani pemeriksaan EEG.

Namun, ada perihal krusial yang perlu digarisbawahi, Mommies. Gangguan ingatan tersebut tetap merupakan laporan dari keluarga, bukan pemeriksaan bahwa FP mengalami amnesia akibat keracunan MBG.

Pihak Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) juga memberikan penjelasan berbeda mengenai kondisi tersebut dan menyampaikan bahwa berasas pemantauan tim, FP tetap dapat berkomunikasi dengan baik serta mengenali pendamping yang datang menjenguknya.

Lantas, apakah keracunan makanan memang bisa mengganggu otak?

Keracunan makanan memang bisa berakibat pada sistem saraf

Selama ini, ketika mendengar istilah keracunan makanan, yang langsung terbayang biasanya adalah muntah, diare, sakit perut, alias demam.

Memang, indikasi tersebut merupakan indikasi yang paling umum.

Namun, beberapa penyakit yang ditularkan melalui makanan dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius. Menurut CDC – Food Poisoning Symptoms, penyakit akibat makanan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan komplikasi seperti meningitis, kerusakan ginjal, hingga kerusakan otak dan saraf.

CDC juga mencatat bahwa beberapa jenis infeksi, misalnya Listeria monocytogenes, dapat menyebabkan kebingungan, gangguan keseimbangan, dan kejang.

Jadi, gangguan saraf setelah mengalami penyakit akibat makanan memang mungkin terjadi, tetapi penyebabnya sangat berjuntai pada kuman, toksin, tingkat keparahan penyakit, serta kondisi pasien.

Bahkan, CDC mencatat bahwa pada pasien dengan dugaan penyakit akibat makanan dan indikasi neurologis, master perlu mempertimbangkan beragam kemungkinan, termasuk paparan toksin, keracunan bahan kimia, hingga jenis makanan tertentu yang terkontaminasi.

BACA JUGA: Kenapa Bekal Anak Cepat Basi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lalu, gimana keracunan makanan bisa memengaruhi otak?

Ada beberapa jalur yang mungkin.

1. Toksin tertentu memang menyerang sistem saraf

Tidak semua keracunan makanan memengaruhi saluran pencernaan.

Contohnya adalah botulisme. Penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dihasilkan kuman Clostridium botulinum. Toksin tersebut berkarakter neurotoksik, namalain dapat memengaruhi sistem saraf.

Menurut WHO – Botulism, botulisme akibat makanan dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan penglihatan, susah menelan dan berbicara, hingga kelumpuhan yang dapat mengganggu pernapasan.

Ada juga jenis keracunan makanan tertentu yang memang dapat menyebabkan gangguan neurologis, termasuk kebingungan dan gangguan memori.

Namun, ini bukan berfaedah setiap kasus keracunan makanan mempunyai sistem yang sama.

Botulisme sendiri merupakan kondisi yang jarang, sehingga contoh ini tidak bisa langsung digunakan untuk menjelaskan kondisi seseorang tanpa pemeriksaan medis.

2. Dehidrasi berat dan gangguan elektrolit

Muntah dan diare acapkali bisa membikin tubuh kehilangan banyak cairan.

Kalau tidak segera digantikan, seseorang bisa mengalami dehidrasi. Pada kondisi yang berat, perubahan keseimbangan elektrolit dan kondisi metabolik tubuh juga dapat memengaruhi kegunaan otak.

Itulah kenapa pada kasus keracunan makanan, yang perlu diperhatikan bukan hanya “sudah tidak muntah” alias “diare sudah berhenti”, tetapi juga apakah anak tetap bisa minum, buang air mini dengan normal, tetap sadar, dan beraktivitas seperti biasa.

Foto: jcomp/Magnific

3. Kejang juga dapat membikin seseorang tampak bingung alias tidak mengingat kejadian

Ini krusial lantaran pada kasus FP, tegang juga dilaporkan terjadi.

Setelah kejang, seseorang dapat mengalami fase yang disebut postictal state. Pada fase ini, orang tersebut bisa tampak bingung, mengantuk, susah berkomunikasi, alias tidak mengingat kejadian tertentu.

Jadi, jika seseorang mengalami tegang dan kemudian tampak seperti kehilangan ingatan, master perlu mencari tahu apakah gangguan tersebut merupakan bagian dari kondisi neurologis yang mendasari, pengaruh setelah kejang, alias memang ada masalah lain pada otak.

Karena itu pula, pemeriksaan seperti EEG dapat digunakan untuk membantu master mengevaluasi kegiatan listrik otak.

Jadi, apakah penyebabnya pasti keracunan makanan?

Belum tentu. Ketika dua kejadian terjadi berurutan, misalnya anak makan makanan tertentu, kemudian sakit, lampau mengalami gangguan ingatan, kita memang secara alami bakal menghubungkan keduanya.

Tetapi secara medis, urutan waktu belum otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.

Dokter tetap perlu mencari kemungkinan lain, terutama jika gejalanya tidak biasa seperti kejang, perubahan kesadaran, kebingungan, alias gangguan memori.

Beberapa kemungkinan yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  • Infeksi yang menyerang otak alias sistem saraf.
  • Efek toksin tertentu.
  • Dehidrasi berat alias gangguan metabolisme.
  • Gangguan kadar gula alias elektrolit.
  • Kejang dan kondisi setelah kejang.
  • Efek obat alias unsur tertentu.
  • Cedera kepala yang terjadi sebelum alias sesudah sakit.
  • Kondisi psikologis tertentu yang dapat memengaruhi ingatan.

Gangguan memori sendiri mempunyai banyak kemungkinan penyebab. Referensi medis dari MSD Manual mencantumkan antara lain ensefalitis, keracunan obat alias unsur tertentu, cedera kepala, serta trauma alias stres psikologis sebagai kondisi yang dapat berangkaian dengan amnesia.

Dengan kata lain, “habis keracunan makanan lampau lupa” bukan diagnosis. Itu adalah indikasi yang perlu dicari penyebabnya.

BACA JUGA: 8 Tanda Anak Kekurangan Vitamin dan Butuh Suplemen Tambahan

Apa yang sebaiknya dilakukan jika anak mengalami indikasi seperti ini?

Kalau anak hanya mengalami sakit perut, muntah, alias diare ringan, konsentrasi pertama biasanya adalah menjaga asupan cairan dan memantau kondisinya.

Tetapi segera cari pertolongan medis jika muncul indikasi yang lebih berat, seperti:

  • Anak susah dibangunkan alias kesadarannya berubah.
  • Mengalami kejang.
  • Kebingungan alias perubahan perilaku yang tiba-tiba.
  • Sulit melangkah alias mengalami kelemahan.
  • Gangguan bicara alias penglihatan.
  • Sulit bernapas alias menelan.
  • Muntah terus-menerus sehingga tidak bisa mempertahankan cairan.
  • Tanda dehidrasi berat.
  • Diare berdarah.

CDC juga menyarankan pemeriksaan medis untuk indikasi keracunan makanan yang berat, termasuk muntah terus-menerus, dehidrasi, demam tinggi, alias diare berdarah.

Kalau ada indikasi neurologis, jangan menunggu sampai anak “sembuh sendiri”.

Foto: Gustavo Fring/Pexels

Pemeriksaan apa yang mungkin dilakukan dokter?

Tentu pemeriksaan bakal disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

Dokter bisa mulai dari riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, lampau mempertimbangkan pemeriksaan darah, pemeriksaan elektrolit dan gula darah, pemeriksaan untuk jangkitan alias toksin, hingga pemeriksaan neurologis.

Hasil EEG juga perlu dibaca berbareng gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan lainnya. Jadi, hasil EEG saja tidak selalu cukup untuk menjelaskan penyebab gangguan ingatan alias kejang.

Dalam kasus tertentu, master juga bisa mempertimbangkan pemeriksaan pencitraan seperti CT scan alias MRI.

Untuk gangguan memori yang diduga berangkaian dengan aspek psikologis, pertimbangan psikiatri alias psikologis dilakukan setelah penyebab medis yang relevan dievaluasi. Pada dissociative amnesia, misalnya, pemeriksaan dapat mencakup MRI, EEG, serta pemeriksaan darah alias urine untuk membantu menyingkirkan penyebab lain.

BACA JUGA: 4 Tanda Pencernaan Anak Kurang Optimal yang Perlu Dikenali Orang Tua

Jadi, benarkah keracunan makanan bisa menyebabkan lenyap ingatan?

Bisa, dalam kondisi tertentu, tetapi tidak bisa digeneralisasi.

Beberapa penyakit akibat makanan memang dapat memengaruhi sistem saraf, baik lantaran infeksi, toksin, maupun komplikasi penyakitnya. Bahkan, beberapa jenis toksin dapat secara langsung menyerang sistem saraf.

Namun, ketika seseorang mengalami gangguan ingatan setelah keracunan makanan, master tetap perlu mencari tahu apa sistem sebenarnya.

Apakah lantaran toksin? Apakah ada jangkitan yang memengaruhi otak? Apakah terjadi dehidrasi alias gangguan metabolik? Apakah ada kejang? Atau justru ada aspek psikologis setelah mengalami peristiwa yang traumatis?

Semua kemungkinan tersebut memerlukan pemeriksaan.

Pada akhirnya, ini juga menjadi pengingat buat kita sebagai orang tua: ketika anak sakit setelah makan sesuatu, jangan hanya memperhatikan muntah dan diare. Perhatikan juga kesadaran, perilaku, keahlian berkomunikasi, aktivitas tubuh, dan kondisi neurologisnya.

Karena jika anak mulai mengalami kejang, kebingungan, alias perubahan ingatan, itu bukan lagi sekadar masalah perut, dan sebaiknya segera mendapatkan pertimbangan medis.

Cover: Tima Miroshnichenko/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads