Kesederhanaan Nabi Muhammad Saw Kerap Disalahpahami, Begini Maksudnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Sulitnya finansial rumah tangga pernah dialami oleh keluarga Nabi Muhammad SAW. Dapur family Nabi SAW pernah tidak ngebul, namalain tidak bisa memasak lantaran tidak ada uang.

Meskipun menjadi Rasulullah dan pemimpin umat Islam, kehidupan Nabi Muhammad SAW penuh dengan kesederhanaan, dan apalagi jauh dari kecukupan. Ini mengajarkan umat Islam tentang pentingnya kesabaran, ketawakalan, dan rasa syukur dalam menghadapi ujian hidup.

Walaupun menghadapi kesulitan ekonomi, Nabi Muhammad SAW dan keluarganya tetap menjalani hidup dengan penuh ketaatan dan kepercayaan kepada Allah SWT. Inilah nan juga menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk tidak berputus asa dan selalu berterima kasih atas rezeki nan ada, seberapa pun kecilnya.

Diceritakan oleh istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah RA, dia berkata, "Kami family Muhammad SAW pernah selama sebulan tidak menyalakan api (untuk memasak) selain hanya makan kurma dengan air." (HR Muslim)

Riwayat lain melengkapi hadits tersebut, Aisyah RA berkata, "Terkadang beberapa tetangga Rasulullah SAW dari golongan Anshor nan mempunyai domba suka mengirimkan susu kepada kami untuk diminum."

Dalam riwayat Aisyah RA nan lain, dia berkata, "Keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang dengan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga Rasulullah SAW wafat." (HR Muslim)

Nabi Muhammad SAW pernah bermohon agar rezeki nan dilimpahkan Allah SWT kepada keluarganya dapat membikin mereka kuat. Dari Abu Hurairah RA, dia berbicara bahwa Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, jadikanlah rezeki family Muhammad dapat menguatkan badan dan memadai." (HR Muslim)

Rasulullah SAW selama hidupnya selalu makan dengan lahap makanan apa saja nan dihidangkan dan tidak pernah mencela alias mengkritik makanan nan dihidangkan. Dari Aisyah RA, dia berkata, "Beliau SAW tidak pernah mengeluh ihwal makanan meski sedikit pun."

Meski begitu, riwayat-riwayat tersebut bukanlah untuk mengajarkan umat Muslim untuk hidup melarat alias miskin. Hadits-hadits tersebut adalah pesan untuk tetap rendah hati dan hidup sederhana serta peduli antarsesama.

Nabi SAW memang pernah bermohon agar dia hidup dalam keadaan miskin dan matinya pun dalam keadaan miskin. Sebagaimana hadits berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِنَّهُمْ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِأَرْبَعِينَ خَرِيفًا يَا عَائِشَةُ لَا تَرُدِّي الْمِسْكِينَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ يَا عَائِشَةُ أَحِبِّي الْمَسَاكِينَ وَقَرِّبِيهِمْ فَإِنَّ اللَّهَ يُقَرِّبُكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam membaca angan ALLAAHUMMA AHYINII MISKIINAW WA AMITNII MISKIINAW WAHSYURNII FI ZUMRATIL MASAAKIINI YAUMAL QIYAAMATI (Ya Allah hidupkanlah saya dalam keadaan miskin dan wafatkanlah saya dalam keadaan miskin dan kumpulkanlah saya pada hari hariakhir berbareng golongan orang orang miskin).

Kemudian Aisyah RA bertanya, "Mengapa engkau bermohon begitu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Karena orang-orang miskin itu bakal masuk surga lebih dulu daripada orang-orang kaya dengan jarak waktu 40 masa. Wahai Aisyah, janganlah Anda menolak orang miskin meskipun dengan memberi separuh buah kurma. Cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, maka Allah bakal mendekatkan Anda pada hari kiamat."

Ulama hadits Indonesia, almarhum Prof KH Ali Mustafa Yaqub pernah menjelaskan hadits tersebut dengan menukil pendapat Al-Qutaibiy, bahwa kata miskin dalam sabda itu menggunakan kosa kata al-sukun nan berfaedah khusyu' dan tawadhu. Dengan demikian, miskin di situ bukan berfaedah kemelaratan, melainkan ketenangan, kekhusyuan dan kerendahan hati.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mereka nan mendapatkan kekhusyuan, ketenangan hidup dan kerendahan hati adalah orang-orang bawah, wong cilik, alias orang nan tidak kaya raya. Para pengikut Nabi Muhammad adalah wong cilik alias golongan menengah ke bawah, tetapi merekalah nan aktif sholat berjamaah di masjid-masjid.

Menurut Kiai Ali Mustafa, sangatlah wajar jika Nabi SAW bermohon meminta kemiskinan seperti itu. Semua orang di bumi mungkin tidak ada nan mau hidup miskin. Semua berupaya mengentaskan diri dari kemiskinan. Tetapi, Allah nan berkehendak.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam