Ketahui Niat Puasa Bayar Hutang Ramadhan, Jangan Sampai Tidak Dibayar!

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi setiap Muslim. Namun, tidak semua orang bisa menuntaskan ibadah puasa genap sebanyak 30 hari lamanya. Contohnya, wanita nan mengalami menstruasi dan nifas, musafir, orang nan sakit keras, dan lain-lain.

Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al-Baqarah:

Artinya: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara Anda sakit alias dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari nan lain. Bagi orang nan berat menjalankannya, wajib bayar fidiah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika Anda mengetahui.”

Khusus untuk kondisi tersebut, Islam memberikan solusi nan bijak ialah mengganti puasa Ramadhan di lain waktu sebanyak waktu nan ditinggalkan. Sebelum mengganti puasa, ketahui dulu niat dan waktu terbaik untuk mengganti puasa.

Niat Puasa Bayar Hutang 

Dalam pelaksanaannya, tata langkah puasa qada sama dengan puasa Ramadhan, hanya berbeda di niatnya. Untuk waktu pembacaan, niat ini bisa dibaca sejak malam sebelum puasa hingga sebelum waktu fajar saat sahur. Berikut adalah referensi niat puasa qada:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadh?’I fardhi syahri Ramadh?na lillâhi ta’âlâ.

Artinya: “Aku beriktikad untuk mengqada puasa Bulan Ramadhan besok hari lantaran Allah SWT.”

The Secret of Puasa

Golongan Orang nan Diperbolehkan Batal Puasa Ramadhan

Beberapa golongan orang nan diperbolehkan untuk membatalkan puasa Ramadhan menurut hukum Islam adalah sebagai berikut:

1. Orang Sakit nan Berat

Mereka nan sakit dengan penyakit nan diperkirakan bakal memburuk alias memperpanjang proses pengobatan jika mereka berpuasa, alias nan secara signifikan bakal merasa lebih jelek alias sangat lemah jika berpuasa, diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

2. Orang nan Sedang dalam Perjalanan (Musafir)

Orang nan sedang melakukan perjalanan nan memerlukan pergerakan alias mobilitas nan signifikan dan bakal mengganggu kenyamanan mereka untuk berpuasa diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama perjalanan mereka.

3. Wanita Hamil dan Menyusui

Wanita mengandung dan menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa jika mereka cemas puasa bakal berakibat negatif pada kesehatan mereka sendiri alias bayi nan dikandung alias nan disusui.

4. Wanita nan Menstruasi alias Nifas

Wanita nan sedang mengalami menstruasi alias nifas diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama periode tersebut, dan mereka kudu menggantinya setelah mereka suci.

5. Orang Lanjut Usia nan Lemah

Orang lanjut usia nan tidak bisa untuk berpuasa lantaran argumen kesehatan juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Ini biasanya mencakup orang-orang nan sangat tua dan lemah alias nan menderita penyakit kronis.

6. Anak-anak nan Belum Balig

Anak-anak nan belum mencapai usia balig (dewasa menurut norma Islam) tidak diwajibkan untuk berpuasa. Namun, mereka diperkenankan untuk berpuasa jika mereka bisa dan ada manfaatnya bagi mereka.

Ketentuan Saat Membayar Puasa

Syarat-syarat untuk bayar hutang puasa Ramadhan, alias nan dikenal sebagai qada, adalah sebagai berikut:

1. Niat nan Ikhlas

Saat bayar hutang puasa Ramadhan, seseorang kudu mempunyai niat nan tulus dan tulus untuk memenuhi tanggungjawab kepercayaan mereka kepada Allah. Niat ini kudu dibuat sebelum memulai puasa di pagi hari, dengan kesadaran penuh bahwa mereka sedang bayar hutang puasa nan sebelumnya tidak dilaksanakan.

2. Keislaman

Membayar hutang puasa Ramadhan adalah tanggungjawab bagi setiap Muslim nan telah balig (dewasa secara agama) dan berakal sehat.

3. Kesehatan

Seseorang kudu dalam kondisi sehat nan memungkinkan mereka untuk berpuasa. Jika seseorang sedang sakit alias sedang menjalani pengobatan nan memerlukan konsumsi obat alias makanan, maka mereka diperbolehkan untuk menunda bayar hutang puasa sampai mereka sembuh.

4. Bulan dan Hari nan Diperbolehkan

Membayar hutang puasa Ramadhan kudu dilakukan di hari-hari nan diperbolehkan untuk berpuasa, ialah selain pada hari-hari nan diharamkan seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik.

5. Ketentuan untuk Wanita

Wanita nan sedang dalam kondisi menstruasi alias nifas tidak diwajibkan untuk berpuasa. Namun, mereka kudu mengganti puasa nan ditinggalkan setelah mereka suci.

Sehat Dan Bugar Selama Puasa Ramadhan & Lebaran

https://cdnwpseller.gramedia.net/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Hari nan Dilarang untuk Puasa Qadha

(Sumber foto: www.pexels.com)

Dalam Islam, ada beberapa waktu tertentu di mana berpuasa, termasuk puasa untuk bayar hutang (qada), tidak diperbolehkan. Waktu-waktu ini biasanya berangkaian dengan hari-hari raya dan beberapa hari unik lainnya nan telah ditetapkan oleh syariah. Berikut adalah waktu-waktu tersebut:

1. Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal)

Puasa pada hari ini dilarang lantaran merupakan hari raya umat Muslim untuk merayakan selesainya bulan Ramadhan.

2. Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah)

Pada hari ini juga dilarang berpuasa lantaran merupakan hari raya kurban nan dirayakan setelah penyelenggaraan ibadah haji.

3. Hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah)

Puasa pada tiga hari ini dilarang lantaran merupakan hari-hari makan dan minum serta hari-hari penyelenggaraan ibadah kurban.

4. Hari Lainnya

Selain hari-hari nan secara unik dilarang untuk berpuasa di atas, ada juga beberapa waktu lainnya nan dianjurkan untuk tidak berpuasa, meskipun tidak sekeras larangan pada hari-hari raya dan hari-hari Tasyriq.

  • Hari Syak (30 Sya’ban)

Hari Syak adalah hari nan meragukan, ialah sehari sebelum masuknya bulan Ramadhan. Puasa pada hari ini makruh lantaran dikhawatirkan bakal mengurangi semangat berpuasa di bulan Ramadhan.

  • Hari Jumat Sendirian

Meskipun tidak dilarang keras, makruh hukumnya untuk berpuasa hanya pada hari Jumat saja tanpa diiringi dengan puasa pada hari sebelum alias sesudahnya (Kamis alias Sabtu).

  • Hari Sabtu Sendirian

Seperti hari Jumat, berpuasa hanya pada hari Sabtu saja juga makruh selain jika berbarengan dengan puasa sunnah nan lain alias puasa nan wajib.

  • Hari-hari nan Diragukan (Hari-hari Syaban di Akhir Bulan)

Puasa di akhir bulan Sya’ban, terutama dua alias tiga hari sebelum Ramadhan, juga makruh selain bagi nan sudah terbiasa puasa sunah pada hari-hari tersebut alias untuk mengqada puasa.

 Memahami Syariat, Menyemai Hakikat

button cek gramedia com

Hukum Membayar Puasa Ramadhan

Hukum bayar hutang puasa Ramadhan dalam Islam adalah wajib (fardu). Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam nan wajib dilakukan oleh setiap Muslim nan memenuhi syarat. Jika seseorang tidak bisa melaksanakan puasa Ramadhan lantaran argumen nan sah, seperti sakit, menstruasi, nifas, alias perjalanan jauh (musafir), maka dia diwajibkan untuk mengganti (qada) puasa tersebut di hari lain setelah bulan Ramadhan. Berikut adalah beberapa ketentuan mengenai norma bayar hutang puasa:

Seseorang nan meninggalkan puasa Ramadhan lantaran argumen nan dibenarkan oleh hukum wajib menggantinya di hari lain. Kewajiban ini kudu dilaksanakan sebelum datangnya bulan Ramadhan berikutnya.

Puasa nan ditinggalkan kudu diganti sesegera mungkin setelah argumen nan menghalangi puasa tersebut hilang. Dianjurkan untuk segera mengqada puasa tersebut agar tidak menunda-nunda tanggungjawab ini.

Jika seseorang menunda-nunda mengganti puasa tanpa argumen nan sah hingga datang Ramadhan berikutnya, maka selain mengqada puasa, dia juga diwajibkan bayar fidiah (memberi makan orang miskin) untuk setiap hari puasa nan ditinggalkan.

Niat untuk puasa qada kudu dilakukan pada malam hari sebelum fajar (sebelum masuknya waktu Subuh). Niat ini bisa diucapkan dalam hati dan tidak perlu diucapkan secara lisan.

Puasa qada tidak kudu dilakukan secara berturut-turut; bisa dilakukan secara terpisah sesuai keahlian dan kondisi individu. nan krusial adalah semua hari nan ditinggalkan selama Ramadhan kudu diganti.

Bagi nan mempunyai hutang puasa nan berat, misalnya lantaran penyakit kronis alias usia lanjut, nan membikin mereka tidak bisa berpuasa lagi, tanggungjawab mengganti puasa ini diubah menjadi bayar fidiah, ialah memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa nan ditinggalkan.

Orang nan Diperbolehkan Tidak Membayar Hutang Puasa

Dalam Islam, ada beberapa keadaan di mana seseorang diperbolehkan untuk tidak berpuasa selama bulan Ramadhan dan tidak wajib untuk menggantinya (qada). Namun, mereka diwajibkan bayar fidiah sebagai tukar dari puasa nan ditinggalkan. Berikut adalah penjelasan mengenai norma dan ketentuan untuk orang nan diperbolehkan tidak bayar hutang puasa:

1. Orang Tua Lanjut Usia

Orang nan sudah sangat tua dan tidak mempunyai keahlian bentuk untuk berpuasa, baik sekarang maupun di masa depan, diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Mereka tidak perlu mengqada puasa nan ditinggalkan, tetapi wajib bayar fidiah, ialah memberikan makanan kepada orang miskin sebanyak satu mud (sekitar 750 gram) bahan pokok untuk setiap hari puasa nan ditinggalkan.

2. Orang Sakit nan Tidak Diharapkan Sembuh

Seseorang nan menderita penyakit kronis alias penyakit nan tidak diharapkan sembuh, nan membuatnya tidak bisa berpuasa sepanjang hidupnya, juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Sama seperti orang tua lanjut usia, mereka wajib bayar fidiah untuk setiap hari puasa nan ditinggalkan.

3. Ibu Hamil alias Menyusui

Ibu mengandung alias menyusui nan jika berpuasa cemas dengan kondisi diri alias bayinya (atas rekomendasi dokter).

Pengertian Fidiah

(Sumber foto: www.pexels.com)

Fidiah adalah corak kompensasi nan diberikan oleh seorang Muslim nan tidak bisa berpuasa pada bulan Ramadhan lantaran argumen tertentu, seperti usia lanjut alias penyakit kronis nan tidak memungkinkan mereka untuk berpuasa sekarang maupun di masa depan.

Fidiah berupa pemberian makanan kepada orang miskin untuk setiap hari puasa nan ditinggalkan. Jumlah makanan nan diberikan biasanya setara dengan satu mud (sekitar 750 gram) bahan pokok, seperti gandum, beras, alias makanan lain nan umum dikonsumsi di wilayah tersebut.

Pembayaran fidiah dapat dilakukan secara harian selama bulan Ramadhan alias sekaligus setelah bulan Ramadhan berakhir, sesuai dengan keahlian individu. Dengan bayar fidiah, seorang Muslim tetap bisa memenuhi kewajibannya dan mendapatkan keberkahan dari Allah, meskipun tidak bisa melaksanakan puasa secara langsung.

Fidiah juga mencerminkan prinsip keadilan dan keringanan dalam Islam, nan memperhatikan kondisi dan keahlian setiap perseorangan dalam menjalankan ibadah.

Ada ketentuan tentang siapa saja nan boleh tidak berpuasa. Hal ini tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 184.

”(yaitu) dalam beberapa hari nan tertentu. Maka barangsiapa diantara Anda ada nan sakit alias dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari nan ditinggalkan itu pada hari-hari nan lain. Dan wajib bagi orang-orang nan berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) bayar fidiah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa nan dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah nan lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika Anda mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 184)

A. Cara Membayar Fidiah

Fidiah nan kudu dibayar adalah memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa nan ditinggalkan. Ukuran makanan nan diberikan adalah satu mud (sekitar 750 gram) dari bahan pokok seperti gandum, beras, alias makanan lain nan biasa dikonsumsi di wilayah tersebut.

Fidiah dapat diberikan secara harian alias sekaligus untuk semua hari nan ditinggalkan. Fidiah kudu diberikan kepada orang miskin alias fakir nan berkuasa menerimanya.

1). Contoh Kasus dan Penjelasan

  • Contoh 1:

Seorang lansia nan berumur 80 tahun merasa sangat lemah dan tidak bisa berpuasa. Karena kondisinya nan tidak mungkin membaik untuk bisa berpuasa di masa depan, dia boleh tidak berpuasa dan wajib bayar fidiah setiap hari selama bulan Ramadhan.

  • Contoh 2:

Seseorang nan didiagnosis dengan penyakit kronis nan tidak mungkin sembuh, seperti kandas ginjal alias penyakit jantung nan parah, juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Ia tidak perlu mengganti puasa tersebut di hari lain, tetapi wajib bayar fidiah untuk setiap hari nan ditinggalkan.

Dikutip dari Baznas.go.id, fidiah wajib dilakukan untuk mengganti ibadah puasa dengan bayar sesuai jumlah hari puasa nan ditinggalkan untuk satu orang. Nantinya, makanan itu disumbangkan kepada orang miskin.

Namun, apakah fidiah dapat diberikan kepada saudara? Dalam perihal fidiah, lebih baik memberikannya kepada orang lain nan membutuhkan. Misalnya, fidiah dapat diberikan kepada fakir miskin, kaum dhuafa, alias yatim piatu nan tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Dengan memberikan fidiah kepada mereka, bukan hanya tanggungjawab berpuasa nan terpenuhi, tetapi juga memberikan kebahagiaan bagi orang nan membutuhkan.

Menurut Imam Malik, Imam As-Syafi’I, fidiah nan kudu dibayarkan sebesar 1 mud gandum (kira-kira 6 ons = 675 gram = 0,75 kg alias seukuran telapak tangan nan ditengadahkan saat berdoa).

Sedangkan menurut Ulama Hanafiyah, fidiah nan kudu dikeluarkan sebesar 2 mud alias setara 1/2 sha’ gandum. (Jika 1 sha’ setara 4 mud = sekitar 3 kg, maka 1/2 sha’ berfaedah sekitar 1,5 kg). Aturan kedua ini biasanya digunakan untuk orang nan bayar fidiah berupa beras.

Cara bayar fidiah ibu mengandung bisa berupa makanan pokok. Misal, dia tidak puasa 30 hari, maka dia kudu menyediakan fidiah 30 takar dimana masing-masing 1,5 kg. Fidiah boleh dibayarkan kepada 30 orang fakir miskin alias beberapa orang saja (misal 2 orang, berfaedah masing-masing dapat 15 takar).

Menurut kalangan Hanafiyah, fidiah boleh dibayarkan dalam corak duit sesuai dengan takaran nan bertindak seperti 1,5 kilogram makanan pokok per hari dikonversi menjadi rupiah.

Kesimpulan

Hukum bayar hutang puasa Ramadhan dalam Islam adalah wajib bagi setiap Muslim nan meninggalkan puasa lantaran argumen nan dibenarkan oleh syariat, seperti sakit, perjalanan, alias kondisi unik lainnya.

Membayar hutang puasa ini merupakan bagian dari tanggungjawab kepercayaan nan kudu dipenuhi dengan niat nan tulus dan ikhlas. Selain itu, pembayaran hutang puasa kudu dilakukan di hari-hari nan diperbolehkan untuk berpuasa, dan kudu segera dilaksanakan di lain waktu.

Pelajari tata langkah berpuasa hingga bayar fidiah melalui koleksi kitab Agama Islam hanya di Gramedia.com, dan dapatkan promo menarik.

ePerpus adalah jasa perpustakaan digital masa sekarang nan mengusung konsep B2B. Kami datang untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan kitab dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk memandang laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Selengkapnya
Sumber Gramedia Official Blog
Gramedia Official Blog