Ketentuan Penting Hubungan Intim Suami Istri Dan Hikmahnya Menurut Imam Ghazali

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA – Suami dan istri dianjurkan untuk rutin melakukan jima alias berasosiasi badan alias berasosiasi suami istri. Sehubungan dengan itu, Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan etika jima alias berasosiasi suami istri.

Dalam melakukan hubungan suami istri, kita disunnahkan memulainya dengan menyebut nama Allah SWT. Dengan mengucapkan bismillah dan membaca Surat Al-Ikhlas. Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca takbir dan tahlil, lampau bermohon sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنْ كُنْتَ قَدَّرْتَ أَنْ تَخْرِجَ ذالك من صلبي

"Bismillâhil 'aliyyil 'azhimi. Allâhummaj'alhá dzurriyyatan thayyibatan in kunta qaddarta an tukhrija dzālika min shulbi."

"Ya Allah, Rabbku, jika Engkau takdirkan saya untuk mengeluarkannya (air mani) dari tulang sulbiku (tulang punggung), maka jadikan dia sebagai anak nan baik (sehat)."

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Apabila seseorang di antara kalian mendatangi istrinya, hendaklah berdoa:

اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنَّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

Allahumma jannibni al-syaithâna wa jannibi al-syaithana mâ razaqtană."

"Ya Allah, Rabbku, jauhkan kami dari gangguan setan, dan jauhkan setan dari apa nan Engkau rezekikan kepada kami."

"Dengan demikian, insya Allah setan (baik dari bangsa hantu maupun kuman pengganggu, penerjemah) tidak bakal mencelakakan anak nan lahir dari hasil hubungan tersebut." (Diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu).

Ulama bergelar Hujjatul Islam Zainuddin al-Thusi dalam kitabnya menjelaskan, berasosiasi badan dengan istri pada awal, pertengahan, dan akhir bulan hukumnya makruh. Sedangkan bersetubuh pada malam Jumat hukumnya sunnah.

Apabila rencana seorang suami telah terlaksana, maka hendaklah dia menunggu sampai terlaksana pula kepuasan istrinya. Sebab, lantaran inzal (ejakulasi) istri seringkali tidak secepat suami. Sungguh, bakal sangat menyakitkan bagi istri nan dipisahkan dari suaminya pada saat nafsu syahwatnya tengah membuncah.

Suami sebaiknya mendatangi istrinya setiap empat malam sekali. Namun, perihal ini sangat berjuntai pada keadaan istri, bisa lebih alias kurang dari satu kali dalam empat malam.

Janganlah seorang suami berasosiasi badan dengan istri nan sedang dalam kondisi haid. Sebab, perbuatan itu hukumnya haram. Namun, suami boleh bersenang-senang dengan tubuh istrinya, tanpa melakukan jima. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Istrimu adalah ladang bagimu. Maka, datangilah ladangmu itu (bercampurlah dengan betul dan wajar) kapan dan gimana nan Anda sukai. Utamakanlah (hal nan terbaik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Anda (kelak) bakal menghadap kepada-Nya. Sampaikanlah berita ceria kepada orang-orang mukmin. (QS Al-Baqarah  Ayat 223)

Tidak dilarang tidur saja dengan istri nan sedang mengalami masa haid, dengan catatan tidak melakukan hubungan intim (suami istri).

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam