Ketika Cinta Ternodai

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Berbicara tentang cinta, maka cinta itu adalah suatu hidayah dari Allah Ta’ala. Cinta asalnya adalah suci dan merupakan ibadah nan sangat mulia. Cinta dalam Islam menjadi pondasi dan roh dalam beragama kepada Allah Ta’ala. Jika seseorang belum mencintai Allah, maka ibadahnya hambar, bak jasad nan tak bernyawa dan menjadi buntang hidup.

Dengan adanya cinta, beratnya seorang ibu mengandung, melahirkan, dan merawat seorang anak, tergantikan dengan rasa bahagia. Cintanya kepada seorang anak juga mengalahkan lelahnya seorang Ayah membanting tulang siang dan malam untuk mencari nafkah. Bahkan, seringkali seorang pemuda rela menempuh segala langkah tatkala jatuh hati pada wanita nan dia idamkan.

Cinta seperti cahaya. Orang nan tidak mempunyai cinta, hidupnya bakal terasa gelap. Cinta merupakan obat. Tanpa cinta, dia bakal mudah rentan dan sakit. Sehingga, orang nan tidak mempunyai rasa cinta, dia tidak bakal menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

Apa itu cinta?

Cinta, sebuah emosi nan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, namun kita semua pernah merasakannya. Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas. Mendefinisikan cinta hanya bakal membuatnya kabur dan samar. Oleh lantaran itu, arti cinta adalah adanya cinta itu sendiri. (Lihat Madarijus Salikin, 3: 10)

Meskipun susah didefinisikan, cinta menjadi alasan seseorang melakukan hal-hal besar dalam hidupnya. Bahkan, rela berjuang dan berkorban dengan argumen cinta.

Ada sebuah ungkapan,

من أحب أكثر من ذكره

“Barangsiapa nan mencintai, pasti bakal banyak menyebut-nyebutnya/mengingatnya.”

Cinta nan berkarakter ibadah

Cinta nan berkarakter ibadah adalah cinta nan diiringi pengagungan, penghambaan, perendahan diri, dan ketaatan nan absolut kepada Allah.

Cinta kepada Allah adalah puncak tertinggi dari segala cinta. Sebagian ustadz menjelaskan bahwa ibadah itu kudu dilandasi oleh tiga hal, yaitu: cinta (hubb), takut (khauf), dan minta (raja’). Hal ini laksana seekor burung, di mana rasa takut dan minta adalah kedua sayapnya, dan rasa cinta adalah kepalanya. Jadi, tidak mungkin seekor burung dapat hidup apalagi terbang tanpa adanya kepala. Oleh lantaran itu, kita kudu senantiasa menghadirkan rasa cinta kepada Allah dalam beribadah, agar ibadah nan kita lakukan betul-betul hidup dan khusyuk kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang nan menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang nan beriman, banget sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

Begitu pula, kecintaan kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wassalam nan merupakan ibadah dan tanggungjawab bagi setiap insan nan beriman. Seseorang belum bisa dikatakan beragama hingga dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melampaui cintanya terhadap siapa pun, termasuk diri sendiri dan keluarganya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna ketaatan salah seorang dari kalian sehingga menjadikan saya lebih dia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.“ (HR. Bukhari)

Cinta nan berkarakter tabiat

Cinta nan berkarakter tabiat ini merupakan cinta bawaan dari lahir dan sifatnya manusiawi. Setiap manusia nan normal pasti mempunyai jenis cinta ini, lantaran memang Allah menciptakan manusia dengan kecenderungan cinta kepada hal-hal duniawi.

Allah Ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ

“Dijadikan bagus pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa nan diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, kekayaan nan banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan (kendaraan), binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali nan baik (surga).” (QS. Al Imran: 14)

Cinta tabiat ini mencakup juga cinta terhadap musuh jenis, cinta lantaran penghormatan (anak hormat kepada orang tua dan guru), cinta lantaran belas iba dan rasa sayang sebagaimana cinta ibu kepada anaknya, cinta lantaran pertemanan, lantaran satu suku, dan nan lainnya.

Maka, tidak kenapa mencintai perkara-perkara duniawi, asalkan tidak berlebihan, tidak melalaikan tanggungjawab kepercayaan alias bertentangan dengan hukum Islam, tidak membawa kepada kemaksiatan, dan tidak mengalahkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Cinta nan sifatnya tabiat (duniawi) juga dapat menjadikan salah satu sarana untuk memperoleh cinta dari Allah. Semisal anak nan mencintai orang tuanya dengan langkah berbakti; laki-laki nan mencintai seorang wanita dan menjalankan hukum Islam dengan menikahinya.

Oleh lantaran itu, cinta nan berlebihan kepada bumi merupakan sumber dari segala keburukan, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ

“Cinta bumi adalah biang semua kesalahan.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman.)

Baca juga: Tidak Mengenal Allah, Bagaimana Bisa Mencintai-Nya?

Noda-noda cinta

Cinta nan merupakan karunia dari Allah tersebut sayangnya sering dizalimi oleh banyak pihak. Hal ini lantaran tidak sedikit kita jumpai bahwa tatkala seseorang mendengar kata cinta, maka nan muncul di benaknya adalah cinta kepada musuh jenis (syahwat). Sehingga, banyak orang terjerumus kepada zina dengan beragam ragam, model, dan rupanya.

Selain itu, kesucian cinta juga ternodai oleh noda-noda nan disematkan para manusia. Ada beberapa aspek nan dapat menodai cinta kita kepada Allah, nan membikin hati kita tidak bisa menyelam ke dalam Samudra Cinta Ilahi, antara lain:

Syirik cinta

Syirik cinta adalah tatkala seseorang mencintai selain Allah dengan cinta nan berkarakter ibadah (pengagungan, penghambaan, perendahan diri, dan ketaatan nan mutlak). Ia mencintai seseorang alias diri sendiri melampaui cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, ada nan sampai beranggapan bahwa ada selain dari Allah nan dapat mendatangkan rezeki, manfaat, alias kebaikan. Contoh lain adalah perkataan berlebihan nan sering diucapkan oleh orang nan sedang jatuh hati, seperti “Tidak ada nan lebih saya cintai selain dirimu.” alias “Tidak ada nan bisa melampaui kecintaanku kepadamu.” alias “Hatiku telah dipenuhi oleh rasa cinta kepadamu, sehingga tiada tempat lagi bagi hati ini untuk mencintai selain dirimu.”

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ

“Dan di antara manusia ada orang-orang nan menjadikan selain Allah sebagai  tandingan-tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang nan beragama banget sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

Zina cinta

Orang nan terlanjur cinta dan dimabuk asmara seringkali menyebabkan dirinya melakukan perbuatan dosa dan maksiat. Awalnya dia melakukan maksiat dari khalwat (berduaan di tempat sepi), kemudian saling menatap dengan syahwat, saling menyentuh, hingga akhirnya berujung kepada perbuatan zina.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina! Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan nan keji. Dan suatu jalan nan buruk.”(QS. Al Isra’: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه

“Sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam mempunyai bagian dari perbuatan zina nan pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berambisi dan berangan-angan, dan kemaluanlah nan membenarkan alias mengingkarinya.” (HR. Bukhari)

Ketika mecintai seseorang, jangan sampai cinta nan suci tersebut menjadi nisbi. Jangan sampai kecintaan tersebut melanggar batasan-batasan hukum nan Allah tetapkan. Jangan sampai hidayah cinta menjadi murka.

Cinta tidak lantaran Allah

Di antara corak bukti cinta seorang hamba lantaran Allah adalah mencintai manakala kita mencintai apa nan dicintai oleh Allah (segala macam ibadah seperti salat, zikir, zakat, dan sebagainya) dan menyayangi siapa nan disayangi oleh Allah (kaum mukminin, orang saleh, dan semisalnya).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانَ.

“Barangsiapa nan mencintai lantaran Allah, membenci lantaran Allah, memberi lantaran Allah, dan tidak memberi lantaran Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Ia mengatakan, “Hadis hasan.”)

Dalam riwayat lain,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali ketaatan nan paling kuat adalah cinta lantaran Allah dan tidak suka lantaran Allah.” (HR. Tirmidzi)

Menomorduakan cinta kepada Allah

Seseorang boleh mencintai selain Allah, tetapi tidak boleh sampai mengalahkan kecintaannya kepada Allah. Cinta kepada Allah kudu di atas segala cinta. Setelah itu, adalah cinta kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum family kalian, kekayaan kekayaan nan kalian usahakan, perniagaan nan kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal nan kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab).’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang nan fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Baca juga: Makna Allah Mencintai Keindahan

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

Disarikan dari rekaman kajian Islam ilmiah dengan titel “Noda-Noda Cinta” oleh Ustaz Abdullah Zaen, Lc. M.A. dengan beragam tambahan faedah.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah