Keutamaan Dan Buah Istighfar, Bag. 1

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kapanpun dan dimanapun, seseorang senantiasa beresiko untuk terjatuh pada kesalahan dan dosa. Maka setiap hamba sangat butuh bakal istighfar dalam kesehariannya.

Syaikh Muhmmad Isma’il Al-Muqaddam di dalam kitab beliau Fiqhul-Istighfar menjelaskan beberapa keistimewaan dan buah istighfar, yaitu:

  1. Istighfar seorang hamba bakal mendatangkan penerimaan taubat, rahmat dan pembebasan dari Allah ta’ala.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Dan barangsiapa nan mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia minta maaf kepada Allah, niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)

Donasi Semarak Ramadan YPIA

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

أخبر الله عباده بحلمه، وعفوه وكرمه، وسَعَةِ رحمته ومغفرته، فمن أذنب ذنبًا صغيرًا كان أو كبيرًا ، ثم استغفر الله يجد الله غفورا رحيما، ولو كانت ذنوبه أعظم من السموات والأرض والجبال

“Allah mengabarkan kepada hamba-hambaNya tentang kemaafan, sifat santun, kemurahan, kemuliaan dan keluasan Rahmat serta ampunanNya. Maka barangsiapa nan melakukan satu dosa, baik mini maupun besar, kemudian dia memohon maaf kepada Allah niscaya dia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sekalipun dosanya lebih besar dari langit, bumi alias gunung-gunung.” (Tafsir Ath-Thabari (VII/476) dan Ad-Dur Al-Mantsur (IV/691)

Allah ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُوا۟ ٱللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

“Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lampau memohon maaf kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan maaf untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 64)

Nabi Shalih ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya,

فَٱسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓا إِلَيْهِۚ  إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

“Karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku banget dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud: 61)

Nabi Syu’aib ‘alahissalam berkata kepada kaumnya,

وَٱسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوٓاإِلَيْهِۚ إِنَّ رَبِّى رَحِيمٌ وَدُودٌ

“Dan mohonlah maaf kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.” (QS. Hud: 90)

Baca juga: Jalan untuk Kembali Kepada-Nya

  1. Istighfar merupakan pelindung dari adzab Allah dan hukumanNya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah sekali-kali tidak bakal mengazab mereka, sedang Anda berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah bakal mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33)

Dari Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

انكَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَلَمْ يَكَدْ يَرْكَعُ، ثُمَّ رَكَعَ فَلَمْ يَكَدْ يَرْفَعُ، ثُمَّ رَفَعَ فَلَمْ يَكَدْ يَسْجُدُ، ثُمَّ سَجَدَ فَلَمْ يَكَدْ يَرْفَعُ ، ثُمَّ رَفَعَ فَلَمْ يَكَدْ يَسْجُدُ، ثُمَّ سَجَدَ فَلَمْ يَكَدْ يَرْفَعُ، ثُمَّ رَفَعَ، وَفَعَلَ فِي الركعةِ الأُخرى مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ نَفَخَ فِي آخِرِ سجودِهِ، ثُمَّ قَالَ: «رَبِّ أَلم تَعِدْنِي أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَأَنَا فِيهِمْ؟ رَبِّ، أَلم تَعِدْنِي أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يستغفرون؟ وَنَحْنُ نَسْتَغْفِرُكَ» فَفَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – من صلاتِهِ وَقَدْ أَمْحَصَتِ الشَّمْسُ

“Pernah terjadi eklips mentari pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah pun berdiri (shalat), seakan-akan tidak ruku’ (karena saking lamanya). Kemudian beliau ruku’, seakan-akan tidak mengangkat kepalanya (untuk i’tidal). Kemudian beliau mengangkat kepalanya (i’tidal), seakan-akan tidak sujud. Kemudian beliau sujud, seakan-akan tidak mengangkat kepalanya (untuk duduk diantara dua sujud). Kemudian beliau mengangkat kepalanya (duduk diantara dua sujud), seakan-akan tidak sujud. Kemudian beliau sujud, seakan-akan tidak bakal bangkit (untuk rakaat kedua). Kemudian beliau bangkit berdiri dan beliau melakukan perihal nan sama pada rakaat berikutnya. Kemudian beliau menghembuskan nafas pada akhir sujudnya, dan bersabda,

رَبِّ أَلم تَعِدْنِي أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَأَنَا فِيهِمْ؟ رَبِّ، أَلم تَعِدْنِي أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يستغفرون؟ وَنَحْنُ نَسْتَغْفِرُكَ

“Wahai Rabbku, bukankah Engkau telah berjanji kepadaku, bahwa Engkau tidak bakal menyiksa mereka sedangkan saya berbareng mereka? Wahai Rabbku, bukankah Engkau telah berjanji kepadaku, bahwa Engkau tidak bakal menyiksa mereka sedangkan mereka memohon ampun? Dan kami memohon maaf kepadaMu.”

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya, mentari menjadi cerah kembali. (HR. Abu Dawud no. 1194, At-Tirmidzi no. 309, An-Nasai no. 1867 dan 547 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud no. 1491)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘ahuma berkata,

كان في هذه الأُمَّةِ أمانان؛ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ والاستغفارُ،فذهَب أمانٌ –يعني – رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -وبقى أمانٌ ـ يعني ـ الاستغفار

“Pada umat ini terdapat dua pengaman: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan istighfar. Telah pergi pengaman nan pertama – ialah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Dan nan tersisa adalah pengaman nan kedua – ialah istighfar -.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman/1491)

Dan dari Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

الْعَبْدُ آمِنٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مَا اسْتَغْفَرَ اللَّه

“Seorang hamba kondusif dari adzab Allah selama dia beristighfar kepada Allah.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (no. 23953) dan berbicara Muhaqqiq-nya: Hadits hasan berasas seluruh jalur riwayat dan penguat-penguatnya (39/376)

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ! تَصَدَّقْنَ، وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai para wanita! Bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, lantaran sesungguhnya saya memandang kebanyakan kalian adalah masyarakat neraka.” (HR. Muslim, no. 79)

Bersambung Insyaallaah.

Baca juga: Pengurai Berbagai Permasalahan

Diterjemahkan dari Kitab Fiqhul Istighfar karya Syaikh Muhammad Isma’il Al Muqaddam.

Referensi:

  • Kajian Fikih Istighfar, Ustadz Aris Munandar, diakses dari https://youtube.com/playlist?list=PLVbmW1LOF7K3GUTtWXQh0jeHJX2pruIWf&si=FY64XF13CBNlQZ7b
  • Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir Jakarta

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

Selengkapnya
Sumber Artikel Islami Muslimah.or.id
Artikel Islami Muslimah.or.id