Keutamaan Ikhlas Sedekah

Dec 23, 2025 09:30 PM - 5 bulan yang lalu 158749

Kincai Media , JAKARTA -- Salah satu aliran Islam adalah tolong menolong dalam kebaikan. Di antara bentuk perbuatan itu adalah sedekah. Amalan ini berfaedah pemberian sesuatu sesuai dengan keahlian kepada fakir miskin alias mereka yang berkuasa menerimanya, di luar tanggungjawab zakat.

Ibadah tersebut pun semestinya dilakukan dengan tulus hati. Keikhlasan menjadi krusial agar infak tidak sia-sia. Keridhaan dan pahala dari Allah SWT; itulah yang hendaknya selalu menjadi tujuan.

Bukti iman

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sedekah adalah burhan” (HR Muslim). Maksudnya, ibadah tersebut merupakan pembuktian benarnya keagamaan seseorang. Kerelaan bederma hanya bisa dirasakan orang yang mempunyai ketaatan di dalam hatinya.

Sebaliknya, golongan munafik bakal selalu enggan bersedekah. Sifatnya condong kikir lantaran merasa segala kekayaan yang dimilikinya berasal hanya dari kerja keras pribadi. Anggapan itu melalaikan diri dari mengingat Allah. “Dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa)” (QS at-Taubah: 54).

Bertambah

Rumus infak bukanlah pengurangan, melainkan pertambahan. Maknanya dapat merujuk pada sabda berikut. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak bakal mengurangi harta” (HR Muslim).

Dengan adanya agunan dari Nabi SAW itu, persepsi bahwa bersedekah bisa mengurangi kekayaan adalah keliru. Telah banyak kisah nyata, seorang Mukmin yang giat bersedekah merasakan keberkahan dalam hidupnya. Insya Allah, dia pun bakal mendapatkan tukar yang lebih baik.

Dicintai Allah

Kata tulus berasal dari akar kata khalasha, yang berfaedah ‘murni’ alias ‘bening.’ Akar-kata lainnya adalah akhlasha, ialah upaya sungguh-sungguh untuk menghilangkan kotoran yang mencampuri sesuatu.

Maka, keikhlasan dalam bersedekah merupakan upaya untuk betul-betul menjadikan ridha dan cinta Allah sebagai tujuan. Bukan ketenaran ataupun pujian di hadapan manusia. Rasul SAW bersabda, “Sungguh, Allah Ta’ala itu Maha Memberi. Dia mencintai kedermawanan serta adab yang mulia dan Dia membenci adab yang buruk” (HR al-Baihaqi).

Selengkapnya