Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (bag. 3)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Masih dengan tajuk “Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin” nan disarikan dari risalah Syekh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili hafidzahullah yang berjudul Fadhlu An-Nushi Lil-Muslimin.

Bentuk nasihat nan paling agung

Di antara corak nasihat nan paling agung adalah menasihati kaum muslimin perihal agama. Yaitu, dengan menunjukkan dan menyemangati mereka kepada perkara hukum nan telah Allah Ta’ala syariatkan berupa kepercayaan nan haq (benar). Serta, mencegah dan melarang mereka sekaligus membikin mereka meninggalkan perkara nan Allah Ta’ala telah melarangnya, baik nan bentuknya perkara baru di dalam kepercayaan (bid’ah) maupun perkara maksiat. Oleh lantaran itu, corak nasihat terbagi menjadi dua:

Pertama: Menasihati dan menunjukkan kaum muslimin tentang hukum nan benar

Inilah nan dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengingat begitu sayangnya beliau kepada umat beliau. Simaklah kisah nan diceritakan oleh Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu,

كُنْتُ غُلَامًا فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتِي بَعْدُ

“Waktu saya tetap mini dan berada di bawah didikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tanganku berseliweran di nampan saat makan. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai anak kecil, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan nan ada di hadapanmu.’ Maka, seperti itulah style makanku setelah itu.” (HR. Bukhari no. 4957)

Lihatlah! Begitu berbekasnya nasihat nan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga nasihat tersebut terus tertanam sampai Umar bin Abi Salamah dewasa.

Kedua: Mencegah kaum muslimin untuk terjatuh kepada perkara bid’ah dan maksiat

Mencegah kaum muslimin dari perbuatan bid’ah, tentunya perihal ini dilakukan setelah menjelaskan kepada mereka tentang perkara bid’ah. Terutama bid’ah idhafiyyah, ialah bid’ah yang berasal dari ibadah nan disyariatkan, namun ibadah tersebut tidak dikerjakan sebagaimana mestinya dengan adanya penambahan maupun pengurangan.

Terkait dengan bid’ah idhafiyyah ini banyak dari kaum muslimin nan tidak mengetahuinya. Contoh kasusnya adalah tentang masalah zikir. Dalam perihal ini, terdapat kisah dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ketika beliau mendapati suatu kaum sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berzikir dengan langkah nan unik, nan tidak pernah dilakukan oleh Nabi serta para sahabatnya. Abdullah bin Mas’ud berbicara kepada mereka,

مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ.

قَالَ : “فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ”.

قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ : “وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ”

“Apa nan sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Wahai Abu Abdurrahman (Abdullah bin Mas’ud), ini adalah batu-batu kerikil untuk menghitung takbir, tahlil, dan tasbih.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Hendaklah kalian menghitung dosa-dosa kalian (saja). Aku menjamin kebaikan kebaikan kalian tidak bakal hilang. Celakalah kalian umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Alangkah cepatnya masa kehancuran kalian, padahal mereka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap banyak, dan baju mereka belum basah, juga periuknya belum pecah. Demi Zat nan jiwaku berada di genggaman tangan-Nya, sesungguhnya kalian seakan-akan mempunyai kepercayaan nan lebih baik dari kepercayaan nan dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, alias kalian sengaja hendak membuka pintu kesesatan?”

Mereka menjawab, “Demi Allah, wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menginginkan, selain kebaikan.” Abu Abdurrahman menjawab, “Berapa banyak orang nan menginginkan kebaikan, tetapi dia tidak dapat mencapainya.” (Lihat Sunan Ad-Darimi no. 210)

Dari kisah di atas, dapat kita pahami bahwa Abdullah bin Mas’ud menasihati orang-orang nan melakukan perbuatan bid’ah idhafiyyah, ialah perkara bid’ah yang mungkin tidak semua kaum muslimin mengetahuinya. Sehingga, inilah nan patut dicontoh dari beliau. Yakni, beliau menasihati dan mencegah dengan langkah nan baik dan bijak sekaligus menjelaskan bakal buruknya dan bahayanya perbuatan bid’ah, serta tidaklah semua kebaikan dapat diperoleh, melainkan dengan langkah nan baik pula.

Mengajarkan kaum muslimin tentang kepercayaan termasuk corak nasihat teragung

Termasuk dari nasihat teragung juga adalah mengajarkan kaum muslimin tentang perihal agama. Berusaha untuk mengembangkan perihal itu dalam corak pengajaran, fatwa, ataupun dalam corak nasihat. Dan nan menjalankan ini adalah orang nan berilmu. Adapun orang nan tidak berilmu, maka tidak diperkenankan untuk menasihati kaum muslimin. Bagaikan orang nan bertempur tanpa senjata, gimana seseorang bisa bertempur tanpa senjata?

قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ‌ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۟ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى‌ۖ

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, saya dan orang-orang nan mengikutiku membujuk (kamu) kepada Allah dengan hujjah nan nyata.’” (QS. Yusuf: 108)

Perjanjian nan agung

Ini merupakan tanggungjawab para ulama. Dan ini adalah perjanjian nan Allah Ta’ala telah mengambilnya dari para ulama. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ ۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ ۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ وَٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۖ فَبِئۡسَ مَا يَشۡتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang nan telah diberi kitab, ‘Hendaklah Anda menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan Anda menyembunyikannya.’ Lalu, mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan nilai nan sedikit. Amatlah jelek tukaran nan mereka terima.” (QS. Ali Imran: 187)

Allah Ta’ala menjelaskan pada ayat ini sebuah perjanjian nan agung. Perjanjian nan Allah ambil dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) nan merupakan orang-orang sebelum kita. Yaitu, perjanjian untuk menjelaskan dan menerangkan kepercayaan nan haq, nan Allah turunkan dengan perjanjian tersebut kitab-kitab-Nya dan tidak ada satu pun nan disembunyikan. Kemudian, Allah mengabarkan tentang mereka nan justru mencampakkan kebenaran tersebut, apalagi mereka menukarnya dengan bagian nan sedikit dari dunia.

Sehingga, dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengarahkan kaum muslimin untuk melakukan dua hal. Yaitu,

Pertama:  Menjelaskan kepercayaan nan haq.

Kedua: Tidak menyembunyikan perkara nan haq.

Di dalam ayat ini pula, Allah mengabarkan tentang Ahli Kitab bahwa di antara sifat mereka yaitu,

Pertama: Mencampakkan dan membuang sebuah kebenaran.

Kedua: Menjual dan melelang perkara nan haq dengan perkara dunia.

Pada perkara ini, terdapat pengarahan untuk umat ini, sebagaimana Allah arahkan pula Ahli Kitab dari orang-orang sebelum kita. Begitu juga, Allah Ta’ala mengingatkan agar jangan sampai terjatuh kepada perbuatan nan mereka lakukan dahulu.

Ahli pengetahuan adalah pemimpin

Maka, siapapun mahir pengetahuan ataupun para ustadz nan istikamah dari umat ini di atas petunjuk, sejatinya dia sebagai pemimpin nan menunjukkan kepada umat jalan hidayah. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلۡنَا مِنۡہُمۡ أَٮِٕمَّةً۬ يَہۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ‌ۖ وَڪَانُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin nan memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَجَعَلۡنَـٰهُمۡ أَٮِٕمَّةً۬ يَہۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٲتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّڪَوٰةِ‌ۖ وَكَانُواْ لَنَا عَـٰبِدِينَ

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin nan memberi petunjuk dengan perintah Kami. Dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al-Anbiya: 73)

Allah Ta’ala mensifati para ustadz di ayat pertama dengan “sabar” dan “yakin”. Dengan kedua perihal ini, mereka mendapatkan kepemimpinan dalam agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata tatkala menafsirkan ayat di atas,

بِالصَّبْرِ وَاليَقِيْنِ تُنَالُ الإِمَامَةُ فِي الدِّيْنِ

“Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam kepercayaan dapat diperoleh.” (Lihat Majmu’ Fatawa, karya Ibnu Taimiyyah, 3:308)

Inilah sifat nan kudu dimiliki oleh seorang nan memberikan nasihat. Yakin terhadap apa nan dinasihatinya. Karena dakwah ini pasti bakal ada nan menentangnya. Ada saja orang-orang nan mengatakan, “Engkau adalah orang bodoh.”, “Engkau sesat.”, dan lain sebagainya. Sehingga, orang nan percaya tidak bakal goyah dengan ucapan tersebut. Terlebih dia berpegang teguh dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan kepercayaan inilah, dia bakal memperoleh kepemimpinan dalam agama.

Pada ayat kedua, Allah Ta’ala mensifati para ustadz dengan “memberi petunjuk kepada manusia tentang agama.” dan juga “gemarnya mereka beragama kepada Allah.” Dengan kedua sifat inilah, para ustadz mendapatkan petunjuk untuk diri mereka sendiri dan dapat menunjukkan kepada manusia untuk beragama kepada Rabb mereka.

Pemimpin kesesatan

Siapa saja nan menyelisihi perihal itu, apalagi justru menempuh jalannya orang-orang nan menyimpang dari kalangan mahir kitab, di mana mereka melelang pengetahuan dengan nilai nan rendah, maka dia telah menjadi pemimpin kesesatan. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَعَلۡنَـٰهُمۡ أَٮِٕمَّةً۬ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِ‌ۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ لَا يُنصَرُونَ

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin nan menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari hariakhir mereka tidak bakal ditolong.” (QS. Al-Qashash: 41)

Tidak sampai disitu, Allah Ta’ala berfirman pada ayat setelahnya,

وَأَتۡبَعۡنَـٰهُمۡ فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةً۬‌ۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ هُم مِّنَ ٱلۡمَقۡبُوحِينَ

“Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di bumi ini; dan pada hari hariakhir mereka termasuk orang-orang nan dijauhkan dari rahmat Allah.” (QS. Al-Qashash: 42)

Kembali ke bagian 2: Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (Bag. 2)

Lanjut ke bagian 4: [Bersambung]

***

Depok, 18 Rajab 1445/29 Januari 2024

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah