Keutamaan Menasihati Kaum Muslimin (bag. 5)

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Melanjutkan pembahasan serial dari keistimewaan menasihati kaum muslimin. Setelah sebelumnya membahas tentang pengaruh besar dari nasihat nan baik di mana nasihat nan baik bakal melahirkan perbuatan nan baik, maka ada pula nasihat jelek nan bakal berpengaruh dalam melahirkan perbuatan alias akibat nan buruk.

Contoh dari Al-Qur’an bahwasanya nasihat nan jelek bakal melahirkan akibat nan buruk

Nasihat Iblis kepada Adam dan Hawa

Di antara contoh dari nasihat nan jelek adalah nasihat Iblis kepada Adam dan Hawa ‘alaihimassalam. Sebagaimana nan Allah Ta’ala hikayatkan kisah mereka di dalam Al-Qur’an,

وَقَاسَمَهُمَآ إِنِّى لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّـٰصِحِينَ  فَدَلَّٮٰهُمَا بِغُرُورٍ۬‌ۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتۡ لَهُمَا سَوۡءَٲتُہُمَا وَطَفِقَا يَخۡصِفَانِ عَلَيۡہِمَا مِن وَرَقِ ٱلۡجَنَّةِ‌ۖ وَنَادَٮٰهُمَا رَبُّہُمَآ أَلَمۡ أَنۡہَكُمَا عَن تِلۡكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيۡطَـٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ۬ مُّبِينٌ۬

“Dan dia (setan) berjanji kepada keduanya, ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang nan memberi nasihat kepada Anda berdua.’ Maka, setan membujuk keduanya (untuk menyantap buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian, Rabb mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang Anda berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu bahwasanya setan itu adalah musuh nan nyata bagi Anda berdua?’” (QS. Al-’Araf: 21-22)

Kemudian apa hasil dari nasihat nan jelek itu? Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ ٱهۡبِطُواْ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ۬‌ۖ وَلَكُمۡ فِى ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ۬ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ۬

“Allah berfirman, ‘Turunlah Anda sekalian. Sebagian Anda menjadi musuh bagi sebagian nan lain. Dan Anda mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu nan telah ditentukan.'” (QS. Al-’Araf: 24)

Dalam konteks nan lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيۡطَـٰنُ عَنۡہَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ‌ۖ

“Lalu, keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula.” (QS. Al-Baqarah: 36)

Demikianlah, hasil dari nasihat nan buruk. Dampaknya begitu luar biasa sampai-sampai nenek moyang manusia Adam dan Hawa kudu merasakan pahit dan getirnya bumi setelah merasakan manis dan indahnya surga.

Nasihat Firaun kepada kaumnya

Kisah nan lain, Allah Ta’ala menghikayatkan tentang Firaun nan menampakkan kepada kaumnya seolah-olah dia adalah pemberi nasihat nan baik untuk kaumnya. Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ

“Firaun berkata, ‘Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa nan saya pandang baik; dan saya tiada menunjukkan kepadamu selain jalan nan benar.'” (QS. Ghafir: 29)

Bersamaan dengan nasihat ini, tampak kekhawatiran dan kekhawatiran Firaun bakal kehadiran Nabi Musa ‘alaihis salam yang menakut-nakuti keyakinannya. Pada beberapa ayat sebelumnya, Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan Firaun nan lain,

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِىٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُ ۥۤ‌ۖ إِنِّىٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَڪُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ

“Dan Firaun berbicara (kepada pembesar-pembesarnya), ‘Biarkanlah saya membunuh Musa dan hendaklah dia memohon kepada Rabbnya, lantaran sesungguhnya saya cemas dia bakal menukar agamamu alias menimbulkan kerusakan di muka bumi.'” (QS. Ghafir: 26)

Dari nasihat-nasihat Firaun di atas, Allah Ta’ala pun mengabarkan tentang kaumnya Firaun nan menerima nasihat-nasihat dari Firaun,

فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُ ۥ فَأَطَاعُوهُ‌ۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمً۬ا فَـٰسِقِينَ

“Maka, Firaun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lampau mereka alim kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum nan fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54)

Kemudian, gimana kiranya hasil nan diperoleh oleh si penasihat (Firaun) dan nan dinasihati (kaumnya) dalam perihal ini? Simaklah firman Allah Ta’ala dalam ayat-ayat berikut ini,

فَوَقَٮٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَڪَرُواْۖ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ  ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡہَا غُدُوًّ۬ا وَعَشِيًّ۬اۖ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ  وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِى ٱلنَّارِ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَـٰٓؤُاْ لِلَّذِينَ ٱسۡتَڪۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعً۬ا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلنَّارِ  قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَڪۡبَرُوٓاْ إِنَّا كُلٌّ۬ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ

“Maka, Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka. Dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh balasan nan banget buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam balasan nan sangat keras.’ Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang nan lemah berbicara kepada orang-orang nan menyombongkan diri, ‘Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah Anda menghindarkan dari kami sebagian balasan api neraka?’ Orang-orang nan menyombongkan diri menjawab, ‘Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka lantaran sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).’” (QS. Ghafir: 45-48)

Kedua kisah di atas sebagai contoh bakal buruknya akibat dari nasihat nan tidak baik. Sehingga, tidaklah nan terlahir dari nasihat nan buruk, melainkan keburukan pula, baik keburukan itu semisal alias lebih parah dampaknya. Karenanya, kaum muslimin hendaknya tetap tegar dalam memberikan nasihat di atas kebaikan dan petunjuk dan menjauhkan segala corak nasihat nan berdasarkan keburukan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sabda nan diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa membujuk kepada kebaikan, maka dia bakal mendapat pahala sebanyak pahala nan diperoleh orang-orang nan mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, barangsiapa membujuk kepada kesesatan, maka dia bakal mendapat dosa sebanyak nan diperoleh orang-orang nan mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”[1]

Semoga bermanfaat. Wallahul Muwaffiq.

[Bersambung]

***

Depok, 15 Zulkaidah 1445H / 22 Mei 2024

Penulis: Zia Abdurrofi

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Hadis diriwayatkan oleh Muslim no. 4831.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah