Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Zulhijah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
  • Besarnya keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah
    • Pertama, Allah Ta’ala berjanji dengannya lantaran besarnya keistimewaan nan ada di dalamnya.
    • Kedua, kebaikan ibadah di hari-hari tersebut adalah kebaikan ibadah nan paling dicintai Allah Ta’ala.
    • Ketiga, Di dalamnya terdapat hari paling mulia di sisi Allah Ta’ala.
    • Keempat, pada hari-hari tersebut terkumpul di dalamnya amal-amal ibadah agung, baik itu penyelenggaraan salat, infak kurban, puasa, dan ibadah haji.
  • Amal ibadah apa saja nan dianjurkan untuk kita kerjakan pada hari-hari tersebut?
    • Pertama, menjaga kebaikan ibadah wajib.
    • Kedua, berpuasa sembilan hari.
    • Ketiga, memperbanyak takbir dan mengagungkan Allah Ta’ala.

Di antara corak karunia Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya adalah menjadikan waktu-waktu dan musim-musim unik bagi seorang hamba untuk memaksimalkan ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Allah jadikan pahala dan jawaban pada waktu-waktu tersebut lebih besar dari waktu-waktu lainnya. Sehingga, dengannya, seorang muslim dapat beramal dengan maksimal dan memanfaatkannya untuk menambal kekurangannya dalam ibadah nan telah lalu.

Setelah sebelumnya, Allah mengaruniakan kita dengan bulan Ramadan, bulan ketataan dan bulan ampunan, bulan nan di dalamnya terdapat sepuluh malam nan penuh keistimewaan dan keistimewaan. Di penghujung tahun hijriah ini, Allah mengaruniakan kita juga dengan waktu-waktu utama nan bisa kita maksimalkan untuk beragama dan melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Waktu-waktu dan hari-hari nan bakal datang tersebut adalah sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah, hari-hari terbaik dalam satu tahun nan kita miliki.

Besarnya keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah

Sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah mempunyai keistimewaan nan sangat besar bagi seorang muslim, lantaran pada hari-hari tersebut terkumpul banyak sekali keutamaan. Di antaranya:

Pertama, Allah Ta’ala berjanji dengannya lantaran besarnya keistimewaan nan ada di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْفَجْرِ  وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar. Dan malam nan sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Yang dimaksud dengan “malam nan sepuluh” adalah sepuluh pertama dari bulan Zulhijah, sebagaimana perihal ini dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, dan beberapa ustadz dari kalangan salaf (terdahulu) dan ustadz khalaf (masa kini).

Sebagian ustadz juga menafsirkan bahwa maksudnya adalah sepuluh terakhir bulan Ramadan. Hanya saja, pendapat pertama lebih kuat, lantaran di ayat nan selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ

“Dan nan genap dan nan ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma beranggapan bahwa nan dimaksud dengan “al-watr” adalah hari Arafah lantaran itu pada tanggal sembilan, dan nan dimaksud dengan “asy-syaf’u” adalah hari raya kurban lantaran terletak pada tanggal sepuluh. Hal ini menguatkan pendapat nan menyatakan bahwa ayat tersebut berbincang mengenai keistimewaan sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah.

Kedua, kebaikan ibadah di hari-hari tersebut adalah kebaikan ibadah nan paling dicintai Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari-hari nan kebaikan saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.” Yakni, 10 hari pertama dari bulan Zulhijah. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya)?” Beliau bersabda, “Dan tidak juga berjihad di jalan Allah (lebih utama darinya), selain seseorang nan berjuang dengan dirinya dan hartanya, lampau dia tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Abu Dawud no. 2438 dan HR. Bukhari no. 969 dengan lafaz nan sedikit berbeda.)

Ketiga, Di dalamnya terdapat hari paling mulia di sisi Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kepada kita bahwa hari Iduladha, hari kesepuluh dari bulan Zulhijah merupakan hari nan paling mulia di sisi Allah Ta’ala. Beliau bersabda,

إنَّ أعظمَ الأيَّامِ عندَ اللَّهِ تبارَكَ وتعالَى يومُ النَّحرِ ثمَّ يومُ القَرِّ

“Sesungguhnya hari nan paling mulia di sisi Allah, Tabaraka wa Ta’ala, adalah hari Iduladha, kemudian hari menetap (tanggal sebelas dari bulan Zulhijah, hari di mana jemaah haji menetap di Mina dan tidak pergi meninggalkannya).” (HR. Abu Dawud no 1765 dan Ahmad no. 19075)

Keempat, pada hari-hari tersebut terkumpul di dalamnya amal-amal ibadah agung, baik itu penyelenggaraan salat, infak kurban, puasa, dan ibadah haji.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ  لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ  ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka bakal datang kepadamu dengan melangkah kaki, dan mengendarai unta nan kurus nan datang dari segenap penjuru nan jauh. Supaya mereka menyaksikan beragam faedah bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari nan telah ditentukan atas rezeki nan Allah telah berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang nan sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran nan ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan tawaf sekeliling rumah nan tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 27-29)

Imam Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitabnya juga mengatakan, “Yang menjadi argumen kenapa sepuluh hari (pertama) bulan Zulhijah diistimewakan adalah lantaran di dalamnya terkumpul ibadah-ibadah pokok, ialah salat, puasa, sedekah, dan haji. Dan perihal ini tidak terjadi pada waktu-waktu lainnya.” (Fathul Bari, 2: 534)

Baca juga: Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Zulhijah

Amal ibadah apa saja nan dianjurkan untuk kita kerjakan pada hari-hari tersebut?

Pertama, menjaga kebaikan ibadah wajib.

Sebelum mengerjakan kebaikan ibadah sunah, hendaknya seorang muslim terlebih dulu memperhatikan dan menjaga rutinitas kebaikan ibadah wajibnya. Karena mengerjakan kebaikan ibadah wajib merupakan seutama-utamanya kebaikan di sisi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman di dalam sabda qudsi,

مَن عادَى لي وَلِيًّا فقَدْ آذَنْتُهُ بالحَرْبِ، وما تَقَرَّبَ إلَيَّ عَبْدِي بشَيءٍ أحَبَّ إلَيَّ ممَّا افْتَرَضْتُ عليه

”Barangsiapa nan memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Tidaklah seorang hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu nan lebih Aku cintai daripada hal–hal nan telah Aku wajibkan baginya.” (HR. Bukhari no. 6502)

Di hari-hari nan mulia tersebut, jangan sampai kita tertinggal dari melaksanakan salat lima waktu pada waktunya, baik itu berjemaah bagi laki-laki maupun di rumah bagi wanita. Jangan terluput juga dari berkhidmat kepada kedua orang tua dan membahagiakan mereka.

Tidak kalah krusial dari itu adalah menyempatkan waktu untuk duduk bermajelis dengan para ustaz dan menghadiri kajian, lantaran menuntut pengetahuan merupakan salah satu tanggungjawab bagi seorang muslim.

Setelah perkara-perkara wajib ini kita kerjakan, barulah kemudian kita sempurnakan kebaikan ibadah kita dengan kebaikan ibadah sunah. Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya di dalam sabda qudsi nan telah kita sebutkan,

وما يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إلَيَّ بالنَّوافِلِ حتَّى أُحِبَّهُ، فإذا أحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذي يَسْمَعُ به، وبَصَرَهُ الَّذي يُبْصِرُ به، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بها، ورِجْلَهُ الَّتي يَمْشِي بها، وإنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، ولَئِنِ اسْتَعاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

“Senantiasa hamba–Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan amalan–amalan nafilah (sunah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya nan dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya nan dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya nan dia gunakan untuk memegang, dan Aku menjadi kakinya nan dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada–Ku, pasti Aku memberinya; dan jika dia meminta perlindungan kepada–Ku, pasti Aku bakal melindunginya.” (HR. Bukhari no. 6502)

Kedua, berpuasa sembilan hari.

Di antara kebaikan ibadah sunah nan ditekankan untuk dilakukan di 10 hari pertama dari bulan Zulhijah adalah berpuasa. Hal ini berasas keumuman sabda mengenai keistimewaan beramal di sepuluh hari pertama bulan Zulhijah nan telah kita sebutkan sebelumnya. Berdasarkan juga perbuatan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab,

 وممن كان يصوم العشر عبد الله بن عمر رضي الله عنهما. ويقول أكثر العلماء أو كثير منهم بفضل صيام هذه الأيام

“Dan di antara mereka nan berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Zulhijah (kecuali tanggal sepuluh, lantaran itu adalah hari raya) adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Kebanyakan ustadz alias banyak dari mereka juga beranggapan adanya keistimewaan berpuasa pada hari-hari tersebut.” (Lathaif Al-Ma’arif, hal. 522)

Hari nan paling utama untuk berpuasa di dalamnya adalah hari kesembilan, ialah hari nan bertepatan dengan wukufnya jemaah haji di padang Arafah. Sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan,

كَانً رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يصومُ تِسعَ ذي الحِجَّةِ، ويومَ عاشوراءَ، وثلاثةَ أيَّامٍ مِن كلِّ شَهرٍ : أوَّلُ اثنين من الشَّهرِ، والخميس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan puasa pada tanggal sembilan Zulhijah, hari Asyura, tiga hari pada tiap bulan, dan hari Senin dan Kamis tiap pertama bulan.” (HR. Abu Dawud no. 2437, An-Nasa’i no. 2417, dan Ahmad no. 22334)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga berfirman menyampaikan kepada kita keistimewaan berpuasa di hari Arafah,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Puasa pada hari Arafah, saya memohon pula kepada Allah agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim no. 1162 dan Ahmad no. 22650)

Ketiga, memperbanyak takbir dan mengagungkan Allah Ta’ala.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari nan telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)

Berdasarkan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

ما من أيامٍ أعظمُ عندَ اللهِ ولا أحبَّ إليه العملُ فيهنَّ من هذهِ الأيامِ العشرِ فأكثروا فِيهنَّ من التهليل والتكبيرِ والتحميدِ

“Tidak ada hari nan lebih agung di hadapan Allah dan lebih dicintai oleh Allah amalan-amalan di dalamnya melampaui dari pada hari-hari 10 pertama Zulhijah ini. Maka, perbanyaklah di hari-hari tersebut takbir, tahlil, dan tahmid.” (HR. Ahmad no. 5446)

Diriwayatkan bahwa Said bin Jubair, Mujahid, dan Abdurrahman bin Abi Laila biasa memasuki pasar pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dalam keadaan bertakbir serta mengagungkan Allah di dalamnya, hingga pasar tersebut dipenuhi dengan takbir mereka. Begitu pula dengan Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah, mereka berdua biasa memasuki pasar sembari mengucapkan “Allahu Akbar,” dan mereka tidak masuk, selain lantaran argumen tersebut.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Baca juga: Adakah Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah?

***

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Artikel: Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
Akidah dan Sunnah