Khutbah Idul Fitri; Idul Fitri Sebagai Momen Penguatan Ketahanan Sosial

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Idul Fitri merupakan momen spesial bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di kembali seremoni dan kebahagiaannya, Idul Fitri juga menyimpan makna krusial dalam memperkuat ketahanan sosial. Berikut “Khutbah Idul Fitri; Idul Fitri Sebagai Momen Penguatan Ketahanan Sosial”

Khutbah I

‎اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ 

الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَةَ وَالنُّوْرَ ، فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَادِلُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْحَمْدُ وَالشُّكْرُ عَلَى جَعَلْنَا مِنْ قَوَافِلِ الصَّائِمِيْنَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ الْمُبَارَكِ ، وَجَعَلْنَا نَعِيْشَ حَتَّى نَفْرَحُ بِإِتْمَامِ الصِّيَامِ وَعِيْدِ الْفِطْرِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَمُخْتَارُهُ مِنْ خَلْقِهِ وَمَحْبُوْبِهِ رَسُوْلُ الْهُدَى الَّذِيْ هَدَى الْبَشَرِيَّةَ إِلىَ طَرِيْقِ الْإِنْسَانِيَّةِ، وَكَانَ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ .صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِيْنَ .

أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ . وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Para Jamaah Khutbah shalat Idul Fitri nan dimuliakan Allah Swt

Di hari kemenangan nan berbahagia ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Wasiat takwa ini saya sampaikan sebelum berkhutbah dengan tema unik yakni, “Hari Raya sebagai Momen Penguatan Ketahanan Sosial.” Wasiat takwa merupakan pengingat kita sebagai umat muslim, lantaran sesungguhnya tidak ada kelebihan apapun nan layak dibanggakan di sisi Allah Swt, selain ketakwaan kita sebagai seorang hamba.

Hadirin Pendengar Khutbah Idul Fitri nan dirahmati Allah Swt

Selama satu bulan penuh, kita menjalankan perintah Allah Swt, ialah berpuasa menjaga diri dari segala bujukan dan hal-hal nan membatalkannya. Puasa nan menjadi ibadah syarat bakal nilai vertikal dan mendatar ini memang sudah selesai. Namun, semangat untuk menjaga serta meningkatkan kualitas ketaatan dan Islam tetap kudu dilanjutkan. Saleh secara ritual dan sosial adalah tanggungjawab bagi kita nan mestinya kita pupuk terus-menerus.

Di hari nan penuh dengan kebahagiaan ini, mari kita perhatikan Firman Allah Swt. dalam QS. Yunus: 58,

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa nan mereka kumpulkan.”

Dalam Ibnu Asyur dalam kitab tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir menyampaikan bahwa para mufassir memaknai karunia Allah dan rahmat-Nya nan dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Qur’an dan para mahir Al-Qur’an. Pendapat Ibnu Asyur ini juga diabadikan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya Durrul Mantsur. As-Suyuthi menyajikan beberapa riwayat, adapun pendapat lain nan dimaksud ayat tersebut bukan hanya berbahagia atas karunia Al-Qur’an, tetapi juga lantaran hadirnya kepercayaan Islam.

Ayat di atas menunjukkan bahwa nikmat Islam dan karunia Al-Qur’an adalah penuntun dan jalan kehidupan nan bakal membawa kepada kegembiraan hakiki. Karunia dan rahmat ini jauh lebih baik daripada perihal apapun nan dikumpulkan manusia selama di dunia.

Hadirin pendengar khutbah Idul Fitri nan berbahagia

Berpegang pada petunjuk Al-Qur’an, sesungguhnya sesama muslim adalah saudara. Allah Swt. berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, lantaran itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar Anda dirahmati.” (QS. Al-Hujurat [49]:10).

Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya menekankan bahwa ayat ini menjadi isyarat nan sangat kuat sungguh pentingnya menjaga persaudaraan sesama umat mukmin. Ia juga mencantumkan beberapa sabda nan mendukung ungkapannya ini, misalnya sabda nan diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut:

«اَلْمُسْلِمُ أخُو الْمُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولا يَخْذُلُهُ ولا يَحْقِرُهُ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أنْ يَحْقِرَ أخاهُ الْمُسْلِمَ»

“Seorang muslim itu adalah kerabat bagi muslim nan lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Seseorang telah dikatakan melakukan jahat jika dia menghina saudaranya sesama muslim. (HR. Muslim)

Melalui ayat dan sabda tadi, momen hari raya idul fitri adalah momen nan sangat tepat untuk menguatkan ketahanan sosial. Ketahanan sosial mudahnya adalah keahlian suatu organisasi alias masyarakat untuk mengelola suatu bentrok dan mencari solusi untuk menyelesaikannya.

Dalam konteks bermasyarakat, bentrok apapun bisa saja terjadi baik dari bagian ekonomi, politik, kesalahpahaman info alias lantaran hal-hal lainnya. Di sini, momen saling berjumpa dengan saling mengampuni menjadi modal awal untuk memulai kehidupan masa depan nan lebih harmoni.

Status umat muslim sebagai kerabat adalah modal awal untuk memudahkan penyelesaian suatu konflik. Pencarian solusi nan tidak berpijak pada keraguan dan prasangka jelek menjadi landasan bahwa umat muslim semakin kuat ketahanan sosialnya. Berlandaskan dalil sabda di atas, menjaga persaudaraan nan dilakukan oleh sesama umat muslim bukan hanya aktivitas realitas sosial belaka melainkan ada nilai-nilai profetiknya. Artinya, apapun nan dilakukan oleh umat muslim untuk kebaikan sesama sudah dihitung sebagai ibadah.

Apalagi, momen idul fitri juga tidak lepas dari salah satu ibadah wajib nan berbobot sosial tinggi ialah zakat. Ibadah ini menjadi sarana sosial nan berfaedah untuk mengangkat derajat dan kualitas hidup orang-orang nan lemah.

Orang-orang nan lemah dan memerlukan itu terhimpun dalam daftar pihak-pihak nan berkuasa menerima zakat, seperti fakir, miskin, amil (pengurus zakat), muallaf, hamba sahaya, orang nan terlilit hutang bukan lantaran maksiat, orang nan berjuang di jalan Allah, dan orang nan sedang menempuh perjalanan untuk ketaatan kepada Allah tetapi kehabisan biaya.

Hadirin sidang khutbah Idul Fitri nan berbahagia

Ketahanan sosial nan berbasis keagamaan dalam masyarakat muslim ini berkedudukan krusial dalam konteks nasional. Memang dalam pelaksanaannya, ketahanan nasional ini dimulai dari organisasi terkecil ialah dari keluarga, berkembang menjadi penduduk dalam satu kampung, kemudian di lingkup kota, provinsi hingga negara.

Melihat ketahanan sosial berfaedah memandang gedung nan tercipta secara organik dari setiap masyarakat. Dalam konteks ini, kita perlu memandang bagiamana Ibnu Khaldun, bapak sosiologi nan menyebut bahwa manusia merupakan makhluk nan beradab dan mempunyai hatikecil untuk memajukan peradaban. Ilmuan muslim ini menguraikan penjelasan sosiologis dalam bingkai Qur’ani.

Ibnu Khaldun mengambil hikmah dari QS. Al-Ahqaf [46] ayat 15 sebagai berikut,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗ حَمَلَتْهُ اُمُّه كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُه وَفِصٰلُه ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهوَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ…

“Kami wasiatkan kepada manusia agar melakukan baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, andaikan telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun,…”

Hadirin Jamaah khutbah Shalat Idul Fitri nan dimuliakan Allah

Ayat ini menyebut kehidupan manusia nan mencapai 40 tahun. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, umur 40 tahun adalah umur matang seseorang dan sebagai standar usia per satu generasi. Sementara dia mempunyai asumsi bahwa masyarakat bakal mengulangi siklus peradaban, dengan tiga generasi.

Generasi pertama adalah generasi pendiri, generasi kedua adalah generasi developer serta penikmat, dan generasi ketiga adalah generasi lalai nan meruntuhkan. Jika satu generasi berumur 40 tahun, maka tiga generasi berfaedah 120 tahun.

Dalam kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun, dia menyebut bahwa “Biasanya suatu kerajaan (pemerintahan) tidak dapat melampaui umur tersebut (120 tahun). Hanya saja memang terkadang ada kurang lebihnya, jika tidak ada gangguan lain seperti serangan bangsa lain”.

Hipotesis Ibnu Khaldun atas tiga generasi tadi sangat krusial bagi kita. Ia tidak hendak meramalkan, tetapi memandang indikasi sosial sebagai peringatan. Dalam konteks ketahanan sosial, kita sebagai kerabat sesama muslim mempunyai peran krusial dalam menguatkan tatanan kehidupan sosial masyarakat. Inilah nan bakal berakibat pada maju mundurnya peradaban suatu bangsa dan negara.

Demikianlah khutbah Idul Fitri hari ini, melalui momen senang ini kita saling menguatkan ketahanan sosial, dan melalui ketahanan ini kita menjadi bangsa nan peka bakal bentrok serta mudah menyelesaikannya. Hal inilah nan bakal menghindarkan kita dari runtunya peradaban.

تقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ عِيْدِنَا، وَأَعِدْهُ عَلَينَا أَعْوَامًا عَدِيْدَةً أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنًا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ،  وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ أَمَّا بَعْدُ،

فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ،

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيْمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللَّهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ.

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ  

———————–

*Konten ini berasal dari kitab _Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan: Materi Kuliah dan Khutbah di Masjid dan Musala selama Ramadan._, nan diterbitkan oleh Subdit Tim Layanan Syariah Subdirektorat (Subdit) Hisab Rukyat dan Syariah dan Badan Kesejahteraan Masjid.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah