Khutbah Jumat; Menghormati Perbedaan Pendapat Di Tahun Politik

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Kincaimedia– Tahun politik seperti saat ini, seringkali diwarnai dengan perbedaan pendapat dan perdebatan nan memanas. Hal ini wajar terjadi, lantaran setiap orang mempunyai kewenangan untuk memilih dan mendukung siapa nan mereka inginkan. Namun, sebagai umat Islam, kita kudu selalu mengedepankan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan pendapat. Nah berikut “Khutbah Jumat: Menghormati Perbedaan Pendapat di Tahun Politik”.

Khutbah Pertama

 الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَيْنَا شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ الكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِين

Jamaah Khutbah Jumat di Tahun Politik nan dirahmati Allah

Takwa merupakan salah satu bekal terbaik dalam menjalani kehidupan bumi nan singkat ini. Allah berfirman dalam surah al-Baqarah (197):

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ

“Bawalah perbekalan, dan sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang nan berakal.”

Oleh lantaran itu, khatib mengawali khutbah nan singkat ini dengan wasiat takwa. Marilah kita semua selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melaksanakan semua tanggungjawab dan meninggalkan segenap larangan.  

Jamaah Khutbah Jumat di Tahun Politik nan dirahmati Allah

Seringkali perbedaan pendapat memicu pertengkaran dan konflik. Padahal perbedaan pendapat dalam Islam adalah keniscayaan. Dari dulu sampai sekarang, perbedaan pendapat sudah pasti ada dan itu sunatullah, termasuk perbedaan pendapat dalam memilih pemimpin negara, termasuk pada saat dulu di masa awal-awal Islam.

Para sejarawan seperti Ibnu Ishaq alias al-Thabari mengungkapkan bahwa setelah Rasulullah saw. wafat, para sahabat Nabi nyaris tidak percaya bahwa Rasulullah telah wafat. nan awalnya tidak percaya Rasulullah wafat adalah sabahat Umar. Bahkan beliau sampai menduga bahwa buletin tersebut dibuat oleh orang-orang munafik.

Sahabat Abu Bakar nan sudah memandang dengan mata kepala sendiri bahwa Rasulullah saw. itu sudah wafat kemudian datang menghampiri Umar sembari mengutip surah az-Zumar ayat 30:

اِنَّكَ مَيِّتٌ وَّاِنَّهُمْ مَّيِّتُوْنَ

“(Muhammad), Anda itu pasti meninggal, dan mereka pun demikian.”

Akhirnya sahabat Umar pun mencoba menerima kepahitan ditinggal oleh Rasulullah saw. selamanya.

Jamaah Khutbah Jumat di Tahun Politik nan dirahmati Allah

Tidak hanya sampai di situ, perbedaan pendapat juga terjadi mengenai siapa seharunya nan menggantikan Rasulullah saw. menjadi seorang pemimpin. Para sahabat ansar dan muhajirin berbeda pendapat saat hendak menentukan seorang pemimpin pengganti Rasulullah saw.

Bertempat di Saqifah bani Sa‘idah, kaum ansar memilih Said bin Ubaidillah, pemuka suku Khazraj, sebagai pengganti Rasulullah saw. Namun Abu Bakar, Umar, dan Ubaidah menyampaikan ketidaksetujuan kaum Muhajirin atas pilihan kaum ansar. Menurut kaum muhajirin, pemimpin pengganti Rasulullah itu sebaiknya dari kalangan Quraisy. Namun usulan ini juga ditentang oleh al-Hubab bin Mundzir dari kalangan ansar.

Jamaah Jumat nan dimuliakan Allah

Di saat terjadi perdebatan sengit tersebut, Abu Bakar mengusulkan dua calon khalifah, ialah Abu Ubaidah bin Zahrah dan Umar bin Khattab. Namun kedua tokoh ini menolak usulan tersebut. Agar tidak terjadi perdebatan nan berlarut-larut, sahabat Umar pun berinisiatif membaiat Abu Bakar dengan bunyi lantang dan kemudian diikuti oleh Abu Ubaidah.

Para ustadz menyebut bahwa Abu Bakar al-Shiddiq merupakan satu-satunya sahabat Nabi nan pernah menggantikan Nabi Muhammad Saw sebagai pemimpin shalat. Pesan secara tersirat bahwa Abu Bakar memang layak menggantikan Rasulullah.

Dalam Tarikh al-Khulafa karya Imam as-Suyuthi disebutkan bahwa untuk menghindari perseteruan berkepanjangan antara kaum Muhajirin dan Ansor, di mana kaum Ansor sudah berkumpul di Bani Tsaqifah untuk mengangkat Saad bin Ubadah sebagai pemimpin, Abu Bakar al-Shiddiq menghampiri mereka dan melakukan pengedaran kekuasaan. Abu Bakar al-Shiddiq mengatakan, kami adalah pemimpinnya, dan kalian adalah para menterinya (Nahnu al-Umara’ wa Antum al-Wuzara’)

Jamaah Khutbah Jumat di Tahun Politik nan dirahmati Allah

Contoh perbedaan pendapat di atas dalam memilih pemimpin semestinya kita jadikan pelajaran nan berharga. Terlebih lagi kita ini berada di negara nan satu dengan keberagaman nan cukup berwarna. Berdebat sesengit apapun, selagi tidak mengucapkan ujaran kebencian, menyebarkan buletin bohong, saling menjatuhkan personal, itu merupakan perihal nan biasa dalam hidup di negara demokrasi.

Setelah sudah ada ketetapan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) siapa pemimpin nan terpilih, kita kudu mendukung dan tidak boleh memberontak pemimpin nan sudah dipilih secara jujur dan adil. Rasulullah saw. bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan alim kepada (pemerintah) walaupun nan memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak).” (HR Tirmidzi)

Namun kita diperbolehkan untuk menasihati pemimpin andaikan dia melakukan kebijakan nan menjerumus pada kemaksiatan. Kata Nabi:

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak wajib alim dalam kemaksiatan. Ketaatan hanyalah dalam perkara nan ma’ruf (bukan maksiat). (HR Bukhari).

Hadirin nan dirahmati Allah,

Demikian khutbah singkat pada Jumat nan penuh keberkahan ini. Semoga berfaedah dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

 أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah