Khutbah Jumat: Safar Bukan Bulan Sial, Meluruskan Mitos dengan Kebenaran

Bincang Syariah Jul 23, 2026 02:00 PM 7213
 Safar Bukan Bulan Sial, Meluruskan Mitos dengan KebenaranKhutbah Jumat: Safar Bukan Bulan Sial, Meluruskan Mitos dengan Kebenaran

Kincai Media – Setiap datang bulan Safar, kita sering mendengar beragam dugaan yang berkembang di tengah masyarakat. Ada yang mengatakan, “Jangan menikah di bulan Safar.” Ada pula yang berpesan, “Jangan memulai upaya alias berjalan jauh, kelak tertimpa kesialan.” Bahkan, tidak sedikit yang menunda beragam rencana baik hanya lantaran memasuki bulan Safar. Untuk itu, Khutbah Jumat tentang Bulan Safar Bulan, Bukan Bulan Sial.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ.

Hadirin pendengar khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik menuju kebahagiaan bumi dan akhirat.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali Anda meninggal melainkan dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Hadirin pendengar khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Bulan Safar kembali datang. Di sebagian tempat, kedatangannya justru disambut dengan rasa waswas. Ada family yang menunda janji nikah lantaran cemas rumah tangganya tidak langgeng. Ada yang membatalkan perjalanan jauh, enggan membuka usaha, apalagi mengurungkan acara lantaran takut tertimpa musibah.

Safar, bagi sebagian orang, seakan-akan menjadi bulan yang kudu dihindari. Padahal, benarkah sebuah bulan dapat membawa kesialan? Apakah waktu mempunyai kekuatan untuk menentukan nasib manusia? Ataukah semua itu hanyalah kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa pernah diuji oleh aliran Islam?

Pertanyaan-pertanyaan ini krusial diajukan. Sebab, tidak sedikit orang yang mengaku bertawakal kepada Allah, tetapi dalam waktu yang sama tetap merasa takut kepada sebuah bulan. Hatinya tenang ketika memasuki Muharam, Rajab, alias Ramadan, tetapi mendadak resah ketika Safar datang. Seolah-olah musibah sedang menunggu di kembali pergantian kalender.

Islam datang justru untuk memerdekakan manusia dari ketakutan-ketakutan semacam itu. Sebelum Islam hadir, masyarakat Arab Jahiliah percaya bahwa bulan Safar adalah bulan yang membawa malapetaka. Mereka mengaitkan kegagalan, penyakit, dan beragam musibah dengan datangnya bulan tersebut. Keyakinan seperti ini kemudian hidup sebagai mitos yang diwariskan turun-temurun.

Menghadapi realita itu, apa yang dilakukan Rasulullah?

Nabi Muhammad tidak membiarkannya tumbuh menjadi kepercayaan umat. Sebaliknya, Nabi dengan tegas meluruskannya. Dalam sabda sahih riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, beliau bersabda:

لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ

Artinya: “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada dugaan apes (tathayyur), tidak ada kesialan lantaran burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan sekadar membantah satu tradisi masyarakat Arab. Lebih dari itu, Nabi sedang membangun langkah berpikir yang benar. Beliau mengajarkan bahwa segala faedah dan mudarat hanya berada dalam kekuasaan Allah SWT. Tidak ada bulan, hari, angka, ataupun barang yang bisa mendatangkan kesialan dengan sendirinya.

Karena itulah, Imam An-Nawawi ketika menjelaskan sabda tersebut menerangkan bahwa sabda Nabi لا صفر” bukan berfaedah meniadakan adanya bulan Safar. Yang dinafikan adalah kepercayaan jahiliah yang menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial.

Imam An-Nawawi menjelaskan:

قوله صلى الله عليه وسلم : ( ولا صفر ) فيه تأويلان : أحدهما المراد تأخيرهم تحريم المحرم إلى صفر، وهو النسيء الذي كانوا يفعلونه، وبهذا قال مالك وأبو عبيدة. والثاني وهو الأصح أن المراد نفي ما كانت الجاهلية تزعمه من التشاؤم بصفر.

Artinya: “Sabda Nabi ﷺ ‘dan tidak ada Safar’ mempunyai dua penafsiran. Pertama, yang dimaksud adalah kebiasaan orang Arab mengundur kehormatan bulan Muharam ke bulan Safar (an-nasī’).

Pendapat ini dikemukakan Imam Malik dan Abu Ubaidah. Kedua, dan inilah pendapat yang lebih kuat, ialah menolak kepercayaan masyarakat Jahiliah yang menganggap bulan Safar membawa kesialan.” (Imam An-Nawawi, Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Juz XIV, hlm. 377).

Penjelasan Imam An-Nawawi menunjukkan bahwa yang diperangi Islam bukanlah bulan Safar, melainkan langkah berpikir yang keliru. Sebab, ketika seseorang meyakini bahwa suatu waktu dapat mendatangkan celaka dengan sendirinya, sedikit demi sedikit dia telah menggantungkan rasa takutnya kepada selain Allah SWT.

Hadirin pendengar khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Al-Qur’an mengajarkan bahwa seluruh perjalanan waktu berada dalam kekuasaan Allah. Tidak ada satu hari, satu bulan, ataupun satu tahun yang dapat mendatangkan faedah alias mudarat dengan sendirinya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan sebagaimana telah ditetapkan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah kepercayaan yang lurus.” (QS. At-Taubah [9]: 36)

Perhatikan ayat ini. Allah menyebut semua bulan sebagai bagian dari ketetapan-Nya. Dari dua belas bulan itu, hanya empat yang diberi kemuliaan unik sebagai asyhurul hurum. Tidak ada satu ayat pun yang menyebut bulan Safar sebagai bulan kesialan. Kalau memang Safar adalah bulan yang kudu dihindari, tentu Al-Qur’an bakal menjelaskannya. Namun, rupanya tidak demikian.

Hadirin pendengar khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Justru Al-Qur’an mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berjalan atas izin Allah, bukan lantaran waktu, tempat, alias barang tertentu.

Allah SWT berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Artinya; “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang selain dengan izin Allah. Barang siapa beragama kepada Allah, niscaya Dia bakal memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghābun [64]: 11)

Ayat ini mengajarkan satu prinsip besar dalam iktikad Islam: musibah tidak datang lantaran nama bulan, tidak pula lantaran hari tertentu. Musibah terjadi lantaran ketentuan Allah SWT, dan seorang mukmin menghadapinya dengan iman, bukan dengan mitos.

Hadirin pendengar khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Menariknya, para ustadz justru menyebut bulan Safar sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam Nihâyatuz Zain menulis:

وَيُسَنُّ أَنْ يَتَزَوَّجَ فِي شَوَّالٍ وَفِي صَفَرٍ، لِأَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فِي شَوَّالٍ، وَزَوَّجَ ابْنَتَهُ فَاطِمَةَ عَلِيًّا فِي شَهْرِ صَفَرٍ.

Artinya: “Disunnahkan menikah pada bulan Syawal dan bulan Safar. Sebab Rasulullah SAW menikahi Sayyidah Aisyah pada bulan Syawal dan menikahkan putri beliau, Fatimah, dengan Ali pada bulan Safar.” (Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihâyatuz Zain, Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 281).

Keterangan tersebut diperkuat dalam Al-Mausū’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah yang meriwayatkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّجَ ابْنَتَهُ فَاطِمَةَ عَلِيًّا فِي شَهْرِ صَفَرٍ عَلَى رَأْسِ اثْنَيْ عَشَرَ شَهْرًا مِنَ الْهِجْرَةِ.

Artinya: “Rasulullah SAW menikahkan putri beliau, Fatimah, dengan Ali pada bulan Safar, tepat dua belas bulan setelah hijrah.”

Bukankah ini menjadi jawaban yang sangat terang? Jika bulan Safar betul-betul membawa kesialan, tentu Rasulullah ﷺ tidak bakal memilih bulan itu untuk menikahkan putri yang paling beliau cintai.

Hadirin pendengar khutbah Jumat yang dimuliakan Allah

Yang semestinya kita waspadai bukanlah bulan Safar, melainkan kepercayaan yang dapat mengurangi kemurnian tauhid. Menunda pernikahan lantaran argumen kesiapan ekonomi, administrasi, alias kemaslahatan adalah sesuatu yang wajar. Akan tetapi, menundanya semata-mata lantaran takut bulan Safar membawa apes adalah corak tathayyur yang telah dibatalkan oleh Rasulullah SAW.

Pada akhirnya, keberkahan hidup tidak ditentukan oleh nama bulan, hari, ataupun tanggal. Keberkahan lahir dari ketaatan yang kokoh, ikhtiar yang sungguh-sungguh, angan yang tulus, dan tawakal yang sempurna kepada Allah SWT.

Sebab, semua bulan adalah milik Allah. Tidak ada bulan sial. Yang ada hanyalah hati yang dekat kepada-Nya alias hati yang jauh dari petunjuk-Nya.

Maka, marilah kita sambut bulan Safar sebagaimana kita menyambut bulan-bulan lainnya: dengan memperbanyak kebaikan saleh, memperkuat tawakal, meluruskan akidah, dan meninggalkan segala corak mitos yang tidak mempunyai landasan dalam syariat.

Semoga Allah SWT menjadikan setiap waktu yang kita lalui sebagai jalan menuju keberkahan dan keridaan-Nya. Aamiin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Khutbah Jumat: Safar Bukan Bulan Sial, Meluruskan Mitos dengan Kebenaran
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting