Kisah Ahli Ibadah Yang Kuburannya Selalu Wangi

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA — Dari sekian banyak hamba nan saleh, bertakwa, giat ibadah, selalu menghabiskan waktu malamnya hanya untuk Allah SWT dan bertempur di jalan Allah SWT, terdapat seorang Tabi'in nan mulia berjulukan Abdullah bin Ghalib al-Harani. Beliau selalu berupaya untuk siap sedia mengabdikan diri kepada Allah SWT. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai pemimpin nan dapat dipercaya, mumpuni dalam bagian agama, hafal Alquran, dan juga wira'i (menahan diri dari segala sesuatu nan haram ataupun syubhat).

Dalam buku Shalat Orang-Orang Saleh karya Ahmad Musthafa Ath- Thahthawi, Abdullah bin Ghalib  adalah seorang tabiin yang mahir ibadah dan pengajar Alquran di kota Basrah. Bersama-sama beberapa tokoh dari kalangan Tabiin, dia termasuk orang nan membaiat ‘bersumpah setia' kepada Ibnu Al-Asy'ats dalam melakukan pemberontakan atas kezaliman dan kesewenang-wenangan rezim Bani Umayyah. Setelah pembaiatan itu, Abdullah bin Ghalib ikut bertempur berbareng Ibnu Al-Asy'ats sampai akhirnya terbunuh dalam sebuah pertempuran nan disebut Dir al-Jamajim, pada tahun 83 H.

Setelah pemakamannya, di kuburannya tercium aroma wangi seperti minyak misik dan perihal itu belangsung lama. Orang-rang pada waktu itu juga mengambil tanah dari kuburan beliau nan juga berbau wangi seperti misik. Tanah itu kemudian mereka masukkan ke dalam baju mereka. Dikarenakan para ustadz mengkhawatirkan terjadinya tuduhan (syirik, pengultusan misalnya) di kalangan orang-orang, maka kuburan itu kemudian diratakan dan dirahasiakan, sehingga tidak ada seorangpun yg dapat mengenali tempat original kuburan tersebut.

Shalat Abdullah bin Ghalib

Syahdan, Abdullah bin Ghalib melaksanakan shalat dhuha sebanyak seratus rakaat. Mengenai argumen perihal itu dia menjelaskan, "Untuk inilah kita diciptakan, dan dengan perihal inilah kita diperintahkan." Suatu kali, al-Hasan menghampirinya dan memberi saran kepada Abdullah bin Ghalib agar jangan mempersulit para pengikutnya dengan banyak ibadah dan qiyamul-lail. Beliau menjawab, "Hai Hasan, Allah SWT justru menyuruh kita banyak-banyak mengingat-Nya, sedangkan Anda malah menyuruh kami sedikit mengingat Allah SWT. Sekali-kali jangan! Jangan Anda patuhi omongannya! Bersujud dan dekatkan dirimu kepada Allah SWT!"

Setelah mengatakan seperti itu beliau bersujud sembari berdoa, "Ya Allah, sungguh hanya kepada-MU kami mengadukan kegoblokan logika pikiran kami, kekurangan kebaikan ibadah kami, kedekatan kematian kami, dan hilangnya orang-orang saleh di antara kami."

Konon, seorang laki-laki pergi membuang hajatnya, dan lama sekali dia menenuhi hajatnya. Ketika pergi, laki-laki itu meninggalkan Abdullah bin Ghalib dalam keadaan sedang bersujud. Sekembalinya dari menunaikan hajatnya, dia tetap memandang Abdullah bin Ghalib bersujud.

Setiap kali pergi menyongsong musuh, Abdullah bin Ghalib berseru, "Demi Allah, umpama saja saya tidak senang menikmati malam-malam saya dengan sujud kepada-Mu, dan pergantian mobilitas personil tubuh dalam kelamnya malam, demi mengharapkan pahala dan keridhoan darimu, niscaya saya sudah berambisi meninggalkan bumi ini beserta semua penghuninya.”

Setelah mengucapkan demikian dia maju perang dan akhirnya gugur dalam peperangan itu. Saat dimakam kan, orang-orang mencium aroma wangi seperti minyak misik.

Salah seorang kerabat Abdullah bin Ghalib bermimpi berjumpa dengannya. "Apa nan telah Anda lakukan?" tanya saudaranya. "Saya melakukan hal-hal nan baik."

"Kamu mau pergi ke mana?" kembali saudaranya bertanya. Abdullah bin Ghalib menjawab, "Saya mau pergi ke surga."

"Dengan kebaikan apa kau pergi ke surga?"

"Dengan kepercayaan nan baik, menjalankan shalat tahajud nan lama, dan menahan lapar pada siang hari." Saudaranya juga bertanya tentang aroma wangi dari kuburnya, "Kemudian, aroma wangi nan tercium dari kuburanmu ini aroma apa?" Abdullah bin Ghalib menjawab, "Itu adalah aroma referensi Alquran dan puasa."

"Berilah saya nasehat!" pinta saudaranya. Ia menjawab, "Berbuatlah kebaikan untuk dirimu sendiri siang dan malam."

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam