Kisah Dua Anak Yatim Ingin Hibahkan Tanah Untuk Pembangunan Masjid Nabawi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA,JAKARTA -- Pembangunan masjid merupakan salah satu pilar krusial dalam membangun masyarakat Islam. Dalam perihal ini, Masjid Nabawi menjadi contoh nan baik, sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah riwayat.

Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, perihal nan pertama kali beliau lakukan adalah membangun masjid. Ini untuk menjadi tempat ibadah nan selama ini telah diperjuangkan di Makkah. Juga agar di dalamnya dapat didirikan shalat lima waktu.

Nabi Muhammad SAW ingin pembangunan masjid di Madinah ini meneguhkan pondasi kenegaraan Islam yang baru dan kokoh, serta menjadikan masjid sebagai tempat berkumpulnya umat Islam, tempat hubungan dan saling kenal antara mereka.

Sebelum menjadi Masjid Nabawi, area itu dulunya adalah area penjemuran kurma milik dua orang anak yatim dari Bani Najjar. Bani Najjar sendiri merupakan kampung nan disinggahi oleh Nabi Muhammad SAW setelah tiba di Madinah.

Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, nan diterjemahkan Kathur Suhardi, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad tiba di Bani Najjar pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal 1 Hijriyah alias 27 September 622 Masehi.

Orang-orang dari bani Najjar kemudian mengawal perjalanan Nabi Muhammad. Sampai kemudian, unta nan dinaiki beliau SAW berhenti, menekukkan lututnya, dan menderum di hamparan tanah di depan rumah Abu Ayyub.

Di tempat itulah, Nabi SAW turun kemudian bertanya tentang siapa pemilik tanah tersebut. Ternyata tanah itu milik dua orang anak yatim, ialah Sahal dan Suhail bin Amr. Atas saran Mu'adz bin Afra, wali Sahal dan Suhail, Rasulullah pun membeli tanah tersebut, nan menjadi cikal-bakal dibangunnya Masjid Nabawi dan rumah Nabi SAW.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW memanggil dua orang anak yatim itu, Sahal dan Suhail. Lalu Nabi SAW membuka tawar-menawar nilai kepada mereka agar tanah tersebut bisa dibeli untuk kemudian dibangun masjid.

Namun, mereka berdua menjawab, "Tidak, sebaliknya kami bakal hadiahkan itu kepada engkau, wahai Rasulullah." Kedua anak yatim tersebut, baik Sahal maupun Suhail, mau memberikan tempat tersebut sebagai hibah agar dapat dijadikan masjid.

Namun, Nabi Muhammad SAW menolak menerima hibah dari mereka berdua, dan beliau berkeras untuk membelinya dari mereka. Ini mengajarkan sebuah norma hukum nan tepat, ialah bahwa bingkisan dari orang nan belum dewasa tidak boleh diterima tanpa izin wali. Karena mereka belum baligh dan belum mempunyai logika dan pemahaman nan matang. Sehingga, bingkisan nan mereka berikan memerlukan izin dari wali mereka.

Berdasarkan riwayat Anas bin Malik, Rasulullah SAW membeli tanah tersebut, untuk dibangun sebuah masjid, nan sekarang disebut Masjid Nabawi.

Sumber:

https://www.risalaty.com/article1.php?tq=3419&re=1139&tn=1157&br=3422&tr=3419&rt=3419&try=9&ft=9&rf=1149&tt=3417&rt=3419&rf=1149&tm=3419

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam