Kisah Iblis Mengaku Tuhan Kepada Syekh Abdul Qadir Al-jailani

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA -- Iblis mupun setan mempunyai peran menggoda, menyesatkan, dan mencelakakan manusia agar terjerumus dalam maksiat maupun dosa. Manusia nan menginginkan keselamatan di bumi dan alambaka kudu mewaspadai tipu daya setan maupun setan.

Dalam kisah nan masyhur, diceritakan bahwa Syekh Abdul Qadir Al-Jailani nan mendapatkan gelar Sulthonul Auliya, artinya 'Raja para Wali' juga tidak luput dari tipu daya iblis. Menggoda orang berilmu dan taat, setan tidak tanggung-tanggung langsung mengaku sebagai Tuhan kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Kisahnya, ketika Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sedang menyendiri, tiba-tiba muncul sinar besar. Cahaya besar itu berbincang kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

"Wahai Abdul Qadi, Aku adalah Tuhan. Kamu adalah kekasihku. Maka apa nan Aku haramkan, sekarang telah Aku halalkan untuk kamu," kata sinar nan mengaku Tuhan itu kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Akan tetapi, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani orang berilmu dan waspada. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menyadari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul terakhir nan telah mengajarkan hukum Islam sesuai perintah Allah SWT.

Sehingga, Allah SWT tidak mungkin mengubah hukum melalui Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan mengatakan nan haram telah dihalalkan. Menyadari perihal tersebut, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani percaya bahwa sinar itu adalah setan nan mengaku Tuhan, bukan Tuhan nan sebenarnya.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani kemudian mengucapkan ta'awudz, A'udzubillahi minasyaitanir rajim. Tiba-tiba sinar itu terbakar sembari berkata, "Sudah banyak orang nan telah saya tipu daya, tetapi luput dari tipu dayaku."

Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani ini menjadi pelajaran dan peringatan bagi orang-orang nan sedang berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahwa mengetahui nan kewenangan dan bathil, serta nan legal dan haram itu sangat krusial sehingga tidak mudah ditipu oleh setan maupun setan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ

Mā kāna muḥammadun abā aḥadim mir rijālikum wa lākir rasūlallāhi wa khātaman-nabiyyīn(a), wa kānallāhu bikulli syai'in ‘alīmā(n).

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Aḥzāb Ayat 40). Ayat di atas menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi alias Nabi terakhir.

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam