Kincai Media , Kamera yang sekarang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern berasal dari pengamatan sederhana seorang intelektual Muslim 1000 tahun lalu. Melalui penelitian sinar di ruang gelap dan lubang kecil, al-Hasan ibn al-Haitham tidak hanya merintis kamera lubang jarum, tetapi juga meletakkan fondasi ilmiah tentang langkah mata manusia melihat. Dari sinilah pengetahuan optika modern mulai menemukan injakan logis dan eksperimentalnya.
Seperti banyak filsuf dan matematikawan terkemuka lainnya, al-Hasan ibn al-Haitham yang hidup di abad ke-10 M adalah seorang pengamat yang tajam. Suatu hari ketika berada di dalam sebuah ruangan, dia memperhatikan sinar yang masuk melalui sebuah lubang mini pada penutup jendela. Cahaya itu jatuh ke tembok yang berhadapan, dan membentuk gambaran separuh bulan dari mentari saat terjadi gerhana.
Kemudian Ibn al-Haitham berkata, “Citra mentari pada saat gerhana, selama tidak terjadi eklips total, menunjukkan bahwa ketika cahayanya melewati lubang sempit berbentuk bulat dan diproyeksikan ke bagian yang berhadapan dengan lubang tersebut, sinar itu mengambil corak sabit bulan.”
Dari eksperimen-eksperimen ini, dia menjelaskan bahwa sinar merambat dalam garis lurus, dan ketika sinar-sinar dipantulkan dari suatu objek terang, sinar tersebut melewati lubang mini itu dan tidak menyebar, melainkan saling bersilangan dan membentuk kembali sebuah gambar terbalik pada permukaan datar berwarna putih yang sejajar dengan lubang tersebut. Ia kemudian menetapkan bahwa semakin mini lubangnya, semakin jelas pula gambar yang dihasilkan.
Kesimpulan eksperimentalnya adalah bahwa ketika sinar mentari mencapai dan menembus lubang tersebut, sinar membentuk suatu corak kerucut pada titik pertemuan dengan lubang jarum, dan kemudian membentuk corak kerucut lain yang berlawanan arah dengan yang pertama pada tembok di seberang dalam ruangan gelap.
Pada tahapan selanjutnya, penemuan-penemuan ini mengarah pada ditemukannya kamera obscura, dan Ibn al-Haitham membangun kamera pertama dalam sejarah, ialah kamera obscura alias kamera lubang jarum. Ia kemudian menjelaskan bahwa kita memandang objek dalam posisi tegak dan tidak terbalik seperti yang terjadi pada kamera, lantaran adanya hubungan antara saraf optik dan otak, yang menganalisis dan menafsirkan gambaran tersebut.
Selama eksperimen-eksperimen praktisnya, Ibn al-Haitham sering menggunakan istilah al-Bayt al-Muthlim, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin sebagai camera obscura, alias ruangan gelap, pribadi, alias tertutup. Kata camera tetap digunakan hingga kini, sebagaimana kata gamara dalam bahasa Arab yang tetap berfaedah ruangan pribadi alias gelap.
Banyak karya Ibn al-Haitham, terutama Book of Optics yang terbilang babon, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh sarjana abad pertengahan Gerard dari Cremona. Hal ini memberikan akibat yang sangat besar terhadap para ahli filsafat besar abad ke-13 seperti Roger Bacon dan Witelo, apalagi hingga mempengaruhi karya-karya Leonardo da Vinci pada abad ke-15.
Kini, kamera telah berkembang dari awal yang sederhana berupa ruangan depan gelap milik Ibn al-Haitham, gamara, menjadi sebuah proses digital yang canggih. Sementara itu, kajian optika telah berkembang menjadi sebuah bagian pengetahuan yang luas, mencakup laser, pencitraan optik pada retina manusia, serta penelitian tentang bioluminesensi merah pada ubur-ubur. Demikian dikutip dari buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·