Kisah Orang Fasik Yang Diangkat Menjadi Wali Allah

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kincaimedia – Artikel ini bakal mengisahkan tentang kisah orang fasik nan diangkat menjadi wali Allah. Disebutkan dalam kitab Al-‘Ushfuriyah, bahwa ada seorang fasik (orang nan suka melakukan maksiat) meninggal bumi dan masyarakat di sekitarnya tidak mau memandikan dan menguburkan jenazahnya lantaran ulah jelek nan sering dia lakukan. Mereka pun menyeret kakinya dan membuangnya ke tempat penampungan sampah.

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, pada suatu perkampungan ada seseorang nan meninggal bumi dan dibuang di tempat penampungan sampah. Orang itu adalah salah satu dari wali-Ku (kekasih-Ku). Tetapi masyarakat di sekitarnya tidak mau memandikan, mengafani, dan menguburnya. Maka pergilah kamu, kemudian mandikan, kafani dan sholatilah jenazahnya, dan setelah itu kuburkan.”

Kemudian Nabi Musa pun segera pergi mencari dan menemui masyarakat perkampungan tersebut. Beliau bertanya kepada masyarakat kampung tersebut tentang mayit seorang laki-laki nan dibuang di tempat penampungan sampah. Mereka berbicara kepada Nabi Musa, “Telah meninggal bumi seorang dengan sifat nan buruk. Dia adalah orang nan terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan.”

Nabi Musa bertanya, “Di mana tempatnya? Karena sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku tentang orang tersebut.”

Masyarakat kampung pun segera mengantarkan Nabi Musa ke tempat di mana jenazah orang tersebut dibuang. Setelah sampai pada tempat penampungan sampah tersebut, Nabi Musa memandang jenazah seseorang nan dibuang di sana. Masyarakat kampung tersebut mengatakan kepada beliau tentang keburukan prilaku orang itu. Kemudian Nabi Musa bermunajat kepada Allah, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintah kepadaku untuk menyolati dan menguburnya, tetapi para masyarakat telah memberi kesaksian jelek terhadapnya. Maka Engkau lebih mengetahui dari pada mereka atas kebaikan dan keburukannya.”

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, betul apa nan telah diceritakan masyarakat atas keburukan prilakunya. Tetapi dia telah memohon pertolongan kepada-Ku dengan tiga perkara saat menjelang kematiannya. Jikalau semua para pendosa meminta kepadaku dengan tiga perkara tersebut, niscaya Aku bakal memberikannya, sedangkan dia hanya meminta seorang diri. Dan Aku adalah Zat nan lebih pengasih dari semua orang nan pengasih.”

Nabi Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, apa tiga perkara tersebut.”

Allah pun berkata, “Ketika telah dekat waktu kematiannya, dia berdoa, ‘Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui tentangku. Sungguh saya telah melakukan maksiat, sedangkan di dalam hatiku membenci melakukannya. Tetapi telah menyatu tiga perkara sehingga saya melakukan maksiat sedangkan hatiku membencinya, ialah hawa nafsu, kawan nan buruk, dan iblis. Dan tiga perkara ini nan menjadikan saya senang melakukan maksiat. Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui tentangku atas apa nan telah saya ucapkan, maka ampunilah aku.’”

Kedua, dia berdoa, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui saya melakukan maksiat dan tempatku berbareng orang-orang fasik. Tetapi saya senang berbaur dengan orang-orang nan shaleh, dan tempatku berbareng orang-orang shaleh lebih saya sukai daripada berbareng orang-orang fasik.”

Ketiga dia berdoa, “Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa saya lebih suka berbareng dengan orang-orang nan shaleh daripada berbareng orang-orang nan fasik, sehingga jika saya berjumpa dengan dua orang, seorang nan sholeh dan seorang lagi pembual, maka saya bakal mendahulukan kepentingan seorang nan shaleh daripada seorang pembual.

Wahai tuhanku, jika Engkau mengampuni dan mengampuni dosa-dosaku, maka para kekasih dan para nabi-Mu bakal turut senang, sedangkan setan musuhku dan mush-Mu bakal berduka karenanya. Tetapi jika engkau menyiksaku, maka setan beserta kawan-kawannya bakal turut senang, sedangkan para nabi dan kekasih-Mu bakal bersedih.

Sesungguhnya saya mengetahui bahwa kegembiraan para kekasih-Mu lebih Engkau cintai daripada kegembiraan setan dan kawan-kawannya, maka ampunilah aku. Ya Allah, sesungguhnya engkau mengetahui atas apa nan telah saya ucapkan, maka ampunilah saya dan kasihanilah aku.”

Allah kemudian berbicara kepada Nabi Musa, “Kemudian Aku mengasihani dan mengampuninya lantaran sesungguhnya Aku adalah Zat nan penyayang dan pengasih bagi orang nan mengakui dosa-dosanya dihadapa-Ku. Dan orang ini telah mengakui dosanya, maka saya mengampuni dan mengasihaninya.”

Allah berbicara lagi, “Wahai Musa, lakukan apa nan telah saya perintahkan lantaran sesungguhnya demi menghormatinya, saya mengampuni orang nan mau menyolati dan mengubur jenazahnya.”

Kemudian Nabi Musa berbareng masyarakat kampung memandikan, mengafani dan menyolati serta mengubur jenazah orang tersebut, dengan angan mereka semua bakal mendapat pembebasan dari Allah, Tuhan semesta alam.

Demikian penjelasan mengenai kisah orang fasik nan diangkat menjadi Wali Allah. Semoga kisah ini memberikan teladan bagi kita dalam hidup dan berkehidupan. Amin

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah