Kincai Media ,JAKARTA -- Iman bukan sekadar kepercayaan dalam hati, tetapi juga sikap tegas ketika kehormatan Allah SWT direndahkan. Hal inilah yang tergambar dalam peristiwa yang melibatkan Abu Bakar radhiyallahu anhu dan seorang pendeta Yahudi bernama Fanhash, sebuah kisah yang kemudian diabadikan Alquran sebagai pelajaran lintas zaman.
Suatu hari, Abu Bakar datang ke Al-Madaris, tempat belajar kaum Yahudi. Di sana dia mendapati mereka sedang berkumpul mengelilingi seorang laki-laki berjulukan Fanhash, salah seorang pendeta dan mahir pengetahuan di kalangan mereka. Bersamanya datang pula pendeta lain berjulukan Asyya.
Abu Bakar berkata, “Wahai Fanhash, kasihanilah dirimu. Hendaklah Anda takut kepada Allah dan masuklah Islam. Bukankah Anda telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW telah datang kepada kalian dari sisi Allah, dan namanya telah kalian dapati tertulis di dalam kitab Taurat dan Injil?”
Fanhash menjawab, “Wahai Abu Bakar, demi Tuhan! Kami tidak memerlukan Allahmu, justru Dialah yang memerlukan kami. Kami tidak bakal menundukkan diri kepada-Nya sebagaimana Dia menundukkan diri-Nya kepada kami. Kami lebih kaya daripada-Nya, dan Dia tidak lebih kaya daripada kami."
"Seandainya Allahmu itu lebih kaya, tentu Dia tidak bakal meminta pinjaman kepada kami, sebagaimana yang dikatakan sahabatmu, Muhammad. Allah telah mengharamkan riba bagi kami, tetapi Dia justru memberikannya kepada kami. Jika Allahmu betul-betul Maha Kaya, tentu Dia tidak bakal meminta pinjaman dan memberikan riba kepada kami,” kata pendeta Yahudi itu.
Mendengar ucapan tersebut, Abu Bakar tidak bisa menahan kemarahannya. Ia pun menampar wajah Fanhash dengan keras seraya berkata, “Demi Zat yang menguasai diriku dengan kekuasaan-Nya, seandainya tidak ada perjanjian yang kuat antara kami dan kalian, niscaya saya telah memukul kepalamu, wahai musuh Allah!”
Merasa tidak terima, Fanhash segera mendatangi Rasulullah SAW untuk mengadukan peristiwa itu. Abu Bakar pun menyusul ke hadapan Nabi.
Fanhash berkata, “Wahai Muhammad, lihatlah apa yang telah diperbuat oleh temanmu!”
Rasulullah SAW kemudian menoleh kepada Abu Bakar dan bertanya, “Apa yang baru saja engkau perbuat, wahai Abu Bakar?”
Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, musuhmu ini telah mengucapkan perkataan yang sangat berbahaya. Ia menyangka bahwa Allah itu miskin, sedangkan dirinya dan kelompoknya adalah orang-orang yang kaya. Karena itu saya marah dan memukul wajahnya.”
Fanhash pun mendusta di hadapan Rasulullah SAW. Pendeta yahudi ini membantah dan berkata, “Aku tidak pernah mengatakan perihal itu.”
Akan tetapi ketidakejujuran pendeta Yahudi dijawab oleh Allah SWT.
Maka turunlah firman Allah SWT sebagai jawaban atas sangkaan Fanhash sekaligus sebagai pembenaran terhadap sikap Abu Bakar, dikutip dari kitab 150 Kisah Abu Bakar As-Shiddiq yang ditulis Ahmad Abdul Al Al-Thahthawi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَقَدْ سَمِعَ اللّٰهُ قَوْلَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوْا وَقَتْلَهُمُ الْاَنْۢبِيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۙ وَّنَقُوْلُ ذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ
Laqad sami‘allāhu qaulal-lażīna qālū innallāha faqīruw wa naḥnu agniyā'(u), sanaktubu mā qālū wa qatlahumul-ambiyā'a bigairi ḥaqq(in), wa naqūlu żūqū ‘ażābal-ḥarīq(i).
Sungguh, Allah betul-betul telah mendengar perkataan orang-orang (Yahudi) yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah itu miskin dan kami kaya.” Kami bakal mencatat perkataan mereka dan pembunuhan terhadap nabi-nabi yang mereka lakukan tanpa kewenangan (alasan yang benar). Kami bakal mengatakan (kepada mereka pada hari Kiamat), “Rasakanlah balasan yang membakar!” (QS Ali Imran Ayat 181)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·