Kisah Perintah Menyembelih Nabi Ismail Di Bulan Dzulhijjah

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Kisah Perintah Menyembelih Nabi Ismail di Bulan Dzulhijjah. Foto: Arafah (ilustrasi)

KINCAIMEDIA, JAKARTA – Allah SWT memerintahkan kepada seluruh umat muslim untuk melaksanakan kurban. Perintah tersebut diberikan ketika bulan Dzulhijah melalui Nabi Ibrahim nan bermimpi anaknya, Nabi Ismail diperintahkan oleh Allah SWT untuk disembelih. Berikut kisah Nabi Ibrahim nan menyembelih Nabi Ismail.

Pada tanggal 8 Dzulhijah Nabi Ibrahim bermimpi. Kemudian Nabi Ibrahim percaya betul bahwa mimpinya di malam kesembilan Dzulhijjah itu betul-betul dari Allah SWT dan bukan bujukan dari setan. Pada saat itu, Nabi Ismail berumur 7 tahun ke atas dan sudah bisa bekerja untuk membantu Nabi Ibrahim sang ayah.

Setelah Nabi Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya, dia berbicara kepada Nabi Ismail, “Hai anakku sesungguhnya saya memandang dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu.” Nabi Ismail pun meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Nabi Ismail berambisi dengan mengikuti perintah Allah SWT adalah sebagai bukti bahwa Nabi Ismail sangat berkhidmat kepada orang tuanya.

Seperti nan tertulis di dalam surat As Shafaat ayat 99 – 111 nan berbunyi,

لَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Artinya : “Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya saya pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia bakal memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) nan termasuk orang-orang nan shalih. Maka Kami beri dia berita ceria dengan seorang anak nan banget sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berupaya bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya saya memandang dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa nan diperintahkan kepadamu; insya Allah Anda bakal mendapatiku termasuk orang-orang nan sabar. Tatkala keduanya telah bertawakal diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya Anda telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi jawaban kepada orang-orang nan melakukan baik. Sesungguhnya ini betul-betul suatu ujian nan nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan nan besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian nan baik) di kalangan orang-orang nan datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi jawaban kepada orang-orang nan melakukan baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami nan beriman.”

Akhirnya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bertawakal diri kepada Allah SWT. Hal tersebut dilakukan untuk menjalankan perintah Allah SWT dan agar terhindar dari siksaan-Nya. Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim juga telah mempersiapkan diri lantaran mereka berdua juga bermimpi perihal nan sama. Mereka berdua percaya dengan apa nan diperintahkan Allah SWT. Akhirnya, Allah mengganti dengan domba nan besar sebagai tebusan. Ibrahim bukan menyembelih Ismail, melainkan menyembelih seekor domba. 

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam