Kisah Sahabat Nabi, Tsalabah Bin Hathib Yang Zakatnya Ditolak Allah Swt

Mar 13, 2026 12:05 PM - 1 bulan yang lalu 17299

Dalam kisah sahabat nabi, terdapat banyak pelajaran berbobot tentang keagamaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu kisah sahabat Nabi Muhammad yang menarik untuk diceritakan adalah cerita Tsa'labah bin Hathib, sahabat Rasulullah SAW yang zakatnya ditolak oleh Allah SWT.

Bunda pasti tahu bahwa Allah SWT telah memerintahkan setiap Muslim untuk menunaikan amal sebagai corak kepedulian dan ketaatan kepada-Nya. Namun dalam perjalanan hidup manusia, ada kalanya perintah tersebut justru diabaikan, apalagi oleh orang yang dikenal dekat dengan Rasulullah SAW.

Dikutip dari laman detikcom, terdapat sebuah kisah sahabat nabi yang diceritakan bahwa Tsa'labah bin Hathib awalnya dikenal sebagai pribadi yang sangat giat beribadah. Ia tidak pernah tidakhadir mendirikan salat dan kerap menghadiri majelis Rasulullah SAW dengan penuh kesungguhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, gimana bisa amal yang dikeluarkan oleh Tsa'labah bin Hathib bisa ditolak oleh Allah SWT? Simak kisah sahabat nabi selengkapnya di bawah ini, Bun!

Kisah sahabat nabi: Tsa'labah yang hidup serba kekurangan

Dikutip dari kitab Lembaran Kisah Mutiara oleh Dian Erwanto, kehidupan Tsa'labah saat itu sangat sederhana dan penuh keterbatasan. Bahkan lantaran kemiskinan yang dialaminya, dia dan sang istri hanya mempunyai satu busana yang kudu dipakai secara bergantian.

Suatu ketika, Tsa'labah tampak bakal segera meninggalkan masjid setelah menunaikan salat tanpa sempat memanjatkan doa. Sikapnya yang terburu-buru itu membikin Rasulullah SAW memperhatikannya dan bertanya: 

"Mengapa setelah salat, engkau bersikap seperti orang munafik yang terburu-buru keluar masjid?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Tsa'labah pun menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Ia berkata,

"Ya Rasulallah, saya terburu-buru keluar lantaran saya dan istri saya hanya mempunyai selembar busana yang sedang saya pakai ini, jadi saya menggunakan busana ini sedangkan istri saya bugil di rumah, lampau saya menjumpainya untuk memakai busana ini untuk shalat sedangkan saya telanjang, oleh karena itu doakanlah saya agar dikaruniai kekayaan melimpah."

Permintaan itu menunjukkan sungguh beratnya kehidupan yang tengah dia jalani berbareng sang istri. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW kemudian menasihatinya dengan penuh hikmah,

"Wahai Tsa'labah, sesungguhnya kekayaan yang sedikit yang disyukuri itu lebih baik dari pada kekayaan banyak yang tidak bersyukur."

Kisah sahabat nabi: Tsa'labah minta didoakan agar menjadi kaya

Tsa'labah diketahui beberapa kali memohon kepada Nabi Muhammad SAW agar didoakan menjadi orang yang mempunyai banyak harta. Setiap berjumpa Nabi Muhammad SAW, dia kembali menyampaikan angan yang sama dengan penuh harap.

Pada suatu kesempatan, dia kembali datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata:

"Ya Rasulullah, doakanlah kami agar Allah melimpahkan kekayaan kepadaku."

Permintaan tersebut diucapkan oleh Tsa'labah bin Hathib dengan sungguh-sungguh lantaran berambisi kehidupannya bakal berubah menjadi lebih baik.

Namun, Rasulullah SAW tidak langsung mengabulkan permintaan tersebut. Beliau menjawab, "Tidakah engkau mempunyai teladan baik pada diri Rasulullah? Demi Allah seandainya saya mau mengubah gunung itu menjadi emas dan perak, niscaya itu bakal terjadi."

Rasulullah SAW menasihati Tsa'labah agar tetap berterima kasih atas rezeki yang telah dimilikinya. Beliau tidak segera mendoakan kekayaan untuknya lantaran cemas kekayaan justru membuatnya lalai.

Meski begitu, waktu terus berlalu dan Tsa'labah kembali datang memohon angan yang sama. Ia berkata:

"Ya Rasulullah, doakanlah kami agar dikaruniai kekayaan melimpah, demi Dzat yang telah mengutus engkau sebagai seorang Nabi, maka karuniakan lah kekayaan kepadaku pasti saya bakal memberikan hak-hak kepada yang berhak."

Setelah mendengar kesungguhan itu, Rasulullah SAW akhirnya mendoakannya. Beliau juga memberinya sepasang kambing yang kemudian berkembang biak dengan sangat sigap dan membawa keberkahan.

Kambing-kambing tersebut bertambah banyak dalam waktu singkat, seolah berkembang seperti ulat yang terus berlipat ganda. Tidak lama kemudian, jumlah ternaknya begitu banyak hingga memenuhi beragam tempat.

Karena ternaknya terus bertambah, Tsa'labah pun beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Ia apalagi memilih tinggal di daerah desa agar mempunyai lahan yang lebih luas untuk memelihara kambing-kambingnya.

Seiring bertambahnya kekayaan dan kesibukan mengurus ternak, kehidupannya pun berubah. Tsa'labah mulai jarang datang di majelis Rasulullah SAW dan perlahan meninggalkan salat berjamaah di masjid.

Pada awalnya dia tetap datang ketika salat Jumat saja. Namun lama-kelamaan, dia betul-betul tidak lagi terlihat di masjid untuk melaksanakan salat berbareng kaum muslimin.

Tsa'labah diminta untuk berzakat

Suatu waktu, Nabi Muhammad SAW terkenang pada Tsa'labah dan menanyakan kabarnya kepada para sahabat. Beliau bertanya, "Apa yang dikerjakan Tsa'labah?"

Para sahabat kemudian menjawab bahwa Tsa'labah sekarang sibuk menggembalakan kambing dalam jumlah yang banyak hingga memenuhi sebuah perkampungan. Mendengar perihal itu, Rasulullah SAW bersabda, "Celakalah Tsa'labah."

Beberapa waktu kemudian, Allah SWT memerintahkan tanggungjawab amal kepada kaum muslimin. Nabi Muhammad SAW pun mengutus dua orang sahabat untuk mendatangi Tsa'labah untuk meminta amal dan kekayaan yang dimilikinya.

Namun, Tsa'labah justru menolak memberikan amal yang diminta. Bahkan, dia meremehkan permintaan tersebut dan berkata, "Ini tidak lain adalah upeti, kalian pulanglah agar saya bisa mempertimbangkan lagi."

Kedua utusan itu akhirnya kembali menghadap Rasulullah SAW untuk menyampaikan apa yang terjadi. Akan tetapi sebelum mereka sempat menjelaskan kejadian tersebut, Rasulullah SAW telah lebih dulu bersabda, "Celakalah Tsa'labah."

Peristiwa itu kemudian diikuti dengan turunnya wahyu Allah SWT yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surat At Taubah ayat 75-76:

وَمِنْهُم مَّنْ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنْ ءَاتَىٰنَا مِن فَضْلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضْلِهِۦ بَخِلُوا۟ بِهِۦ وَتَوَلَّوا۟ وَّهُم مُّعْرِضُونَ

Artinya: "Dan diantara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami bakal bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)."

Zakat Tsa'labah ditolak Allah

Ketika Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT tersebut kepada para sahabat, ada seorang kerabat Tsa'labah yang ikut mendengarkannya. Ia segera bergegas menemui Tsa'labah dan berkata, "Celakalah engkau Tsa'labah, karena Allah telah menurunkan ayat yang telah mengatakan seperti ini."

Mendengar berita itu, Tsa'labah langsung merasa takut dan menyesal. Ia pun segera mendatangi Nabi Muhammad SAW sembari membawa amal dari hartanya dengan angan dapat menunaikan tanggungjawab tersebut.

Namun, Rasulullah SAW menolak pemberian itu dan bersabda, "Sesungguhnya Allah telah melarangku untuk menerima zakatmu." Penolak tersebut membikin Tsa'balah sangat terpukul hingga dia menaburkan tanah ke atas kepalanya sebagai tanda penyesalan.

Melihat perihal itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Itu lantaran perbuatanmu sendiri, karena saya telah memerintahkanmu bakal tetapi engkau tidak bersedia mematuhiku." Perkataan tersebut menjadi teguran keras atas sikap Tsa'labah yang sebelumnya menolak menunaikan zakat.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Tsa'labah tetap berupaya memperbaiki kesalahannya. Ia mendatangi sayyidina Abu Bakar sembari membawa hartanya dan berkata, "Terimalah zakatku ini!"

Namun sayyidina Abu Bakar tidak menerima amal tersebut dan berkata, "Rasulullah SAW tidak bersedia menerima darimu, gimana mungkin saya bakal menerimanya." Penolakan itu membikin Tsa'labah kembali pulang tanpa sukses menunaikan zakatnya.

Ketika masa pemerintahan sayyidina Umar tiba, Tsa'labah kembali datang dengan niat yang sama. Ia membawa zakatnya dan berkata, "Terimalah zakatku ini!"

Akan tetapi sayyidina Umar juga menolak dan berkata, "Beliau berdua (Rasulullah Saw dan sayyidina Abu Bakar) tidak bersedia menerimanya darimu, gimana mungkin saya bisa menerimanya." Lagi-lagi amal tersebut tidak diterima.

Hal yang sama kembali terjadi pada masa khilafah sayyidina Usman. Tsa'labah mendatangi beliau untuk menyerahkan amal sembari berkata, "Terimalah zakatku ini!"

Namun, Sayyidina Usman tetap menolaknya dan berkata, "Beliau-beliau tidak bersedia menerima amal darimu, gimana mungkin saya bakal menerimanya." Hingga akhirnya, Tsa'labah meninggal bumi pada masa pemerintahan Sayyidina Usman bin Affan.

Bunda, itulah kisah sahabat nabi yang berjulukan Tsa'labah bin Hathib yang menjadi pengingat bahwa kekayaan tidak selalu membawa kebaikan jika tidak disertai dengan rasa syukur dan ketaatan pada Allah SWT. Dari kisah sahabat nabi ini, kita dapat mengambil pelajaran agar selalu menunaikan tanggungjawab amal dan tidak menunda peritah Allah SWT.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya