Kisah Sahabat Nabi Yang Jenazahnya Dimandikan Malaikat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

KINCAIMEDIA, JAKARTA — Hanzhalah bin Abi Amir bin Malik Al-Anshari adalah salah satu sahabat Nabi SAW nan meninggal dalam perang Uhud. Ia adalah syuhada nan dalam sejarah Islam terkenal sebagai sahabat Nabi SAW nan dimandikan langsung oleh malaikat.

Hingga kemudian kalangan sahabat memberinya julukan Hanzhalah Al-Ghasil alias Ghasil Al-Malaikah (orang nan dimandikan Malaikat). Karena julukan itu juga orang-orang lampau memanggil keturunannya dengan Banu Ghasil Al-Malaikah.

Dikutip dari kitab “40 Sahabat Nabi nan Memiliki Karomah” karya Abdul Wadud Kasyful Humam, Hanzhalah bin Abi Amir merupakan anak seorang pendeta Yastrib, Abu Amir bin Shaify. Ia adalah salah satu petinggi suku Aus nan sangat tidak suka dan memusuhi Islam.

Pada masa jahiliah, dia mendapat julukan Abu Amir Ar-Rahib, namun kemudian diganti oleh Rasulullah saw., dengan julukan Abu Amir Al-Fasiq. Julukan tersebut Rasulullah berikan lantaran dulunya dia adalah scorang pendeta (rahib) nan mengakui bakal datangnya seorang Nabi dan berpegang pada kepercayaan hanif. Tapi, ketika Muhammad sudah menjalankan risalah kenabiannya, dia justru membenci dan memusuhinya. Bahkan, dalam perang Uhud dia berada di garda depan berbareng pasukan Quraisy untuk memerangi Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Pada waktu pembukaan kota Makkah, Abu Amir pergi ke Romawi menemui raja Heraklius hingga akhirnya meninggal bumi pada 9 H.

Tidak lama kemudian, anak Hanzhalah masuk Islam dan menjadi muslim nan baik. Bahkan dia pernah meminta izin Rasulullah untuk membunuh ayahnya, tetapi beliau tidak mengizinkan.

Setelah memeluk Islam, Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, satu hari sebelum terjadinya Perang Uhud. Malam harinya, dia meminta izin kepada Rasulullah saw untuk bermalam berbareng istrinya. Nabi saw mengizinkan Hanzhalah untuk berbareng dengan istri nan baru saja dinikahinya itu.

Setelah melaksanakan salat Subuh, dia mau secepatnya berasosiasi dengan pasukan Nabi ke Uhud. Namun sebelum berangkat, dia sempat bersenggama terlebih dulu dengan istrinya. Tiba-tiba, dia mendengar seruan untuk berjihad, maka dia segera keluar memenuhi seruan itu dalam kondisi tetap junub, belum sempat mandi besar.

Dalam peperangan itu, Abdullah bin Zubair memberikan kesaksian bahwa Hanzhalah berduel dengan Abu Sufyan bin Harb. Ketika Abu Sufyan nyaris dikalahkan oleh Hanzhalah, dengan pedangnya nan siap menghunus dan merobek leher Abu Sufyan, namun Abu Sya'ub alias Syadad bin Al-Aswad memandang perihal itu.

Abu Sya'ub lampau mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah hingga membuatnya jatuh tersungkur dan akhirnya gugur sebagai syuhada.

Jenazahnya dimandikan malaikat

Dalam syariat, orang nan meninggal syahid bisa langsung dimakamkan tanpa kudu dimandikan, selain jika dia dalam keadaan junub. Karena para sahabat tidak mengetahui Hanzhalah dalam keadaan junub, mereka pun hendak langsung menguburkannya tanpa dimandikan.  

Lalu Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya saya melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah bin Abi Amir di antara langit dan bumi dengan air dari awan di sebuah tempat nan terbuat dari perak."

Abu Sa'id Sai'di, RA berkata, "Ketika Baginda Rasulullah SAW berbicara demikian, saya pergi memandang jenazahya. Kulihat bulir-bulir air jejak mandi menetes dari kepala Hanzhalah.”

Sepulang dari perang Uhud, para sahabat lampau bertanya kepada Istri Hanzhalah mengenai berita suaminya. Istri Hanzhalah menjawab, “Ketika mendengar panggilan perang, Hanzhalah segera keluar dalam keadaan junub dan belum sempat mandi…”

Selengkapnya
Sumber Intisari Islam
Intisari Islam