Kitab ‘aqidatul Awam: Allah Dzat Maha Esa, Maha Hidup, Dan Maha Kuasa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Kincaimedia- Salah satu bagian dalam kitab ‘Aqidatul Awam membahas tentang sifat-sifat wajib Allah SWT. Salah satu pembahasan pentingnya adalah tentang Dzat Allah nan Maha Esa, Maha Hidup, dan Maha Kuasa. Allah Maha Hidup, artinya Allah hidup dengan kehidupan nan sempurna. Dia juga Maha Kuasa, nan berfaedah Allah mempunyai kekuasaan absolut atas segala sesuatu dan tidak ada nan bisa menandingi kekuasaan-Nya.

وَقَائِمٌ غَـنِي وَوَاحِـدٌ وَحَيّ * قَادِرۡ مُـرِيـدٌ عَالـِمٌ بِكُلِّ شَيۡ

Artinya; Dan dzat nan Maha Berdiri pada Dzatnya# nan Esa, Maha Hidup, Kuasa, dan Berkehendak # Maha Mengetahui segala sesuatu;

Sayyid Ahmad al-Marzuki melanjutkan pembahasan sifat wajib bagi Allah dalam kitab ‘Aqidatul Awam. Pada bagian ini bakal membahas tentang Allah dzat nan Tegak dengan Sendiri-Nya (Qiyamuhu Binafsihi), Maha Esa (Wahdaniyyah), Maha Hidup (Hayyu), Maha Kuasa (Qadirun), Maha Berkehendak (Muridun) dan Maha Mengetahui (‘Alimun).

Kitab ‘Aqidatul Awam; Sifat Ma’nawi dan Maknawiyah

Pada tulisan ini, enam sifat wajib bagi Allah tersebut bakal didedah satu persatu, sebagai berikut:

Allah Dzat nan Tegak dengan Sendiri-Nya (Qiyamuhu Binafsihi)

Allah nan Maha Sempurna tidak mungkin memerlukan kepada nan lain, lantaran perihal itu mustahil bagi Dzat nan Maha Segalanya. Demikian nan dimaksudkan dengan sifat Qiyamuhu Binafsihi, artinya Allah tidak butuh terhadap selain; Ia tegak dengan Dzat-Sendiri-Nya.

Allah tidak butuh terhadap tempat untuk berdiri tegak, tidak butuh ruang untuk berdomisili di dalamnya dan tidak pula butuh terhadap nan mengadakan-Nya (menciptakan), apalagi Allah tidak butuh kepada segala hal. (Jalau al-Afham Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 24)

Dalil secara logis nan mendasari bahwa Allah tidak butuh terhadap tempat, diambil dari sebuah kongklusi bahwa: “Andaikan Allah butuh terhadap tempat, maka dia menjadi sebuah sifat (bukan dzat), jika menjadi sebuah sifat, maka tidak bakal mempunyai sifat Ma’ani dan Maknawiyah,”.

Sebagaimana disinggung pada tulisan sebelumnya, nyatanya Allah wajib mempunyai kedua sifat tersebut, lantaran jika tidak ada sifat Ma’ani dan Maknawiyah bagi Allah, niscaya alam semesta ini tidak ada”. Oleh lantaran itu, gugur Allah menjadi sebuah sifat, lantaran nan benar, Allah adalah dzat.

Dalil nan menjadi injakan bahwa Allah tidak butuh terhadap sesuatu nan mengadakan (mukhossis), disarikan dari sebuah ungkapan:

“Andaikan Allah memerlukan terhadap sesuatu nan mengadakan-Nya, maka Ia merupakan sesuatu nan baru, jika menjadi sesuatu nan baru, maka memerlukan terhadap sesuatu nan lain. Padahal sudah terang-benderang bahwa Allah dzat nan Maha Ada, Maha Terdahulu, Maha Kekal, dan Berbeda Dengan Makhluk-Nya”. Dari sini jelas, bahwa Allah tidak butuh kepada sesuatupun. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 59).

Ada beberapa dalil al-Qur’an nan menegaskan bahwa Allah dzat nan Tegak dengan Sendiri-Nya; tidak butuh terhadap nan lain. Sekurangnya ada 3 ayat nan menerangkan perihal tersebut, antara lain:

وَعَنَتِ الْوُجُوْهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّوْمِۗ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا ۝١١١

Artinya: “Semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) nan Maha hidup lagi Maha Mengurus. Sungguh rugi orang nan membawa kezaliman”. (Surat Taha:111)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ ۝١٥

Artinya: “Wahai manusia, kamulah nan memerlukan Allah. Hanya Allah nan Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Surat Fatir: 15)

اِنَّ اللّٰهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ۝٦

Artinya: “Sesungguhnya Allah betul-betul Maha kaya (tidak memerlukan suatu apa pun) dari alam semesta”. (Surat al-‘Ankabut:6)

Allah Maha Esa (Wahdaniyyah)

Yang dimaksudkan dari sifat Allah nan berupa Wahdaniyyah, ialah tunggalnya dzat Allah, sifat serta af’al-Nya (Perbuatan Allah). Sifat ini merupakan sifat nan kelima dari sifat salbiyyah bagi Allah dan sifat nan satu ini terpenting dari beberapa sifat nan lain. Oleh lantaran itu, pengetahuan tauhid biasa diistilahkan dengan pengetahuan pengesaan terhadap Allah. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 59)

Tunggalnya Dzat Allah (Wahdatu ad-Dzat) mempunyai makna bahwa Dzat Allah tersusun dari beberapa bagian, berbeda dengan makhluk nan diciptakan oleh Allah. Sifat-Nya pun tunggal, dalam makna bahwa tidak ada satupun nan bisa menyamai dari beberapa sifat Allah, demikian pula sifat-Nya tidak berbilangan, misalkan Allah tidak mempunyai dua sifat Qudrah (Kuasa), tidak pula mempunyai dua sifat Iradah (Kehendak).

Perbuatan Allah juga tunggal, artinya tidak ada satupun selain Allah nan menyamai terhadap perbuatan-Nya, lantaran Allah nan menciptakan segala sesuatu, mewujudkan segala sesuatu; Allah independen dalam segala hal. Itulah nan dimaksud dengan Wahdaniyyah (Kitab Jalau al-Afham Syarh Kitab ‘Aqidatul Awam, hal. 24-25)

Allah Dzat nan Maha Hidup (Hayyun)

Sifat Hayat (Hidup) merupakan sifat nan pasti ada pada Dzat Allah, dengan demikian Dzat-Nya adalah Hayyun (Dzat Maha Hidup). Mustahil Allah tidak mempunyai sifat tersebut, logika tidak bisa membayangkan gimana Dzat nan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, namun tidak berkarakter Maha Hidup. (Fathu al-‘Allam  Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 37).

Hal ini diperkuat dengan landasan dalil naqli berupa ayat al-Qur’an dan Hadist, tidak mungkin diingkari dan ditakwil, sebagaimana dalam surat al-Ghafir: 65 dan surat ali ‘Imran: 2 serta surat al-Furqan: 58

هُوَ الْحَيُّ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ فَادْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَۗ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۝٦٥

Artinya: “Dialah nan hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia, maka berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”.

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ

Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus”.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِه وَكَفٰى بِه بِذُنُوْبِ عِبَادِه خَبِيْرًاۚ ۝٥٨

Artinya: “Bertawakallah kepada (Allah) nan Maha hidup nan tidak meninggal dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya”.

Allah Maha Kuasa (Qadirun)

Sebagaimana Allah mempunyai sifat Qudrah (Kuasa), maka Allah adalah Dzat nan Maha Kuasa (Qadirun), ialah Allah berkuasa melakukan alias meninggalkan sesuatu; suka-suka Allah melakukan apapun, lantaran Allah mempunyai sifat kuasa nan sempurna dalam melakukan sesuatu alias meninggalkannya. (Mujizu al-Kalam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 65). Cukup dua ayat nan menjadi injakan bahwa Allah Dzat nan Maha Kuasa, sebagai berikut:

قلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰٓى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah nan Maha kuasa mengirimkan balasan kepadamu, dari atas alias dari bawah kakimu ……..”. (Surat al-An’am: 65)

اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu”. (Surat an-Nur: 45)

Allah Maha Berkehendak (Muridun)

Allah menghendaki segala sesuatu nan mungkin, artinya Ia berkemauan tanpa adanya paksaan dari apapun dan tidak ada suatu pun nan terjadi selain berbarengan dengan kehendak-Nya, pilihan-Nya. Jika Allah berkemauan maka bakal terjadi, jika tidak, maka sebaliknya.  

Sangat tidak masuk logika jika Dzat nan Menciptakan segala sesuatu tidak mempunyai sifat kehendak, lantaran tidak mungkin menciptakan dan mewujudkan sesuatu tanpa adanya Kehendak dari sang Maha Kuasa. Antonim dari sifat Iradah (Kehendak) adalah Ikrah (Terpaksa). (Fathu al-‘Allam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 38) Satu ayat nan menjadi landasan bahwa Allah Maha Berkehendak, sebagai berikut:

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيْدُۗ ۝١٦

Artinya: “Maha kuasa melakukan apa saja nan Dia kehendaki”. (surat al-Buruj: 16)

Allah Maha Mengetahui (‘Alimun)

Sebagaimana Allah mempunyai sifat ‘Ilmun (Mengetahui), maka secara pasti Allah Dzat nan Maha Mengetahui (‘Alimun). Pengetahuan Allah mencakup segala hal, baik sesutau nan sedikit, banyak, tipis, tebal, ataupun sesuatu nan wajib ada, boleh apalagi nan mustahil adanya. Allah Maha Mengetahui segala perihal tersebut.

Demikian pula, pengetahuan Allah tidak didahului dengan ketidaktahuan, tidak juga adanya sifat pelupa, serta tidak bakal membedai terhadap realita. (Fathu al-‘Allam Syarh ‘Aqidatul Awam, Hal. 39). Satu ayat al-Qur’an cukup menjadi penegas bahwa Allah Dzat nan Maha Mengetahui:

وَعِنْدَه مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ ۝٥٩

Artinya: “Kunci-kunci semua nan gaib ada pada-Nya; tidak ada nan mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa nan ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun nan gugur nan tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu nan basah alias nan kering, melainkan (tertulis) dalam kitab nan nyata (Lauh Mahfuz)”. (Surat al-An’am: 59)

Selengkapnya
Sumber Bincang Syariah
Bincang Syariah